Kembali ke tahun 2008,
Once upon a time
Ada sebuah bintang
Yang bersinar terang di hatimu
Ku akan datang lagi
Menjemputmu dengan cinta
Kan kubagikan semua bintangku
Sebuah lagu membangunkan aku. Lagu itu ternyata diputar oleh Ridwan yang sejak kapan duduk di samping aku. Yang aku ingat lagu itu soundtrack dari “Bukan Bintang Biasa” yang dibintangi oleh Raffi Ahmad, Laudya Chyntia Bella, Dimas Beck, dan Chelsea Olivia. Film itu rilis tahun 2007 yang lalu, dan cukup meledak di pasaran.
Aku yang tadi sedang fokus menghafal materi yang sekiranya akan keluar di ujian Hukum Adat nanti, entah mengapa mataku terasa berat sekali. Aku lalu tertidur. Kembali aku bermimpi sesuatu hal yang terjadi di masa lalu.
Tadi aku bermimpi, aku kembali menjadi seorang murid SMP. Aku sendiri lupa apakah pernah mengalami kejadian itu atau tidak. Yang jelas, di mimpi aku tadi, aku bermimpi sedang berada di rumah sakit. Dulunya bernama Honoris, dan sering aku kunjungi saat masih SD.
Lalu, yang masih di mimpiku itu, aku bermimpi sedang berobat. Dulu aku ingat, setiap sakit, pasti sering dibawa ke Honoris. Dokternya selalu sama, yaitu Dokter Laurent. Dokter Laurent itu baik sekali. Setiap kali diperiksa Dokter Laurent, beliau sering memberikan sesuatu dan itu seringnya komik. Tak heran komik Doraemon aku sudah lumayan terkumpul banyak karena pemberian Dokter Laurent.
Aku bermimpi bertemu dengan seorang gadis kecil. Sama seperti Dokter Laurent, gadis ini juga berdarah Tionghoa. Si gadis kecil ini berambut panjang dan matanya sipit. Kalah aku tak salah ingat, namanya Grace.
Kedua mataku menerawang ke arah kipas yang terpasang di langit-langit perpustakaan. Coba mengingat mimpi itu lagi.
***
Aku duduk di samping Grace. Mama sedang berada di depan salah satu loket apotek. Sementara ibunya Grace sedang menelepon seseorang dengan menggunakan telepon umum yang menggunakan kartu telepon.
“Oh, gitu, padahal Matematika kan seru banget.”
“Apanya yang seru. Malesin banget. Mending aku disuruh hafal tahun-tahun kerajaan Nusantara berdiri, deh.”
“Nggak sesulit itu, kok, ngapalin tabel kali-kalian. Mau aku ajarin?”
Yang aku ingat, dia langsung saja mengajarkan aku trik menghafal tabel perkalian. Mulai dari tabel perkalian satu hingga tabel perkalian sepuluh. Aku tidak terlalu ingat dengan trik yang diajarkan Grace. Namun, kurasa, triknya Grace sama seperti yang Sodo pernah ajarkan.
“Aku pengin jadi kayak Om aku.” seru Grace berapi-api, tersenyum.
“Maksud kamu, kamu mau jadi dokter anak juga?” tanyaku mengernyitkan dahi.
Grace mengangguk. “Makanya aku nggak pernah benci sama Matematika. Kata salah satu guruku di sekolah, kita emang harus jago Matematika kalau mau jadi dokter.”
“Aku percaya kamu pasti bisa jadi dokter, Grace.”