Tangerang, Agustus 2008
“Noel!”
Aku tersentak. Tergegas untuk terbangun dari kesedihan aku. Memangnya apa lagi yang membuat aku sedih, selain pengumuman kelulusan SNMPTN itu. Hanya itu.
Kututup peramban. Tadi aku terpaksa membuka situs itu dari ponsel Sony Ericsson aku. Sekaligus untuk menuliskan kesedihan aku ke dalam kolom status Facebook. Yang aku baru sadari, untuk apa juga kulakukan? Bukankah lebih baik jika aku tuliskan ke dalam buku harian aku saja?
Sebelumnya aku mengecas ponsel terlebih dahulu. Tadi dayanya sedikit melemah. Kurang lebih tersisa 54%. Ketika tiba dari Bandung tadi, memang belum sempat mengecas lagi. Oh, kurang lebih tiga hari yang lalu, salah satu pamanku baru saja dipanggil Tuhan. Upacara penguburannya sekitar 2-3 hari. Tulang itu dikubur di Bandung juga. Itu juga berdasarkan kesepakatan di antara anak-anaknya dan juga keluarga besar Mama.
“Noel!”
Aku segera bangkit berdiri. Suara itu memanggilku. Kuintip dari jendela. Ternyata itu Roni, tetangga sebelah kiri rumah aku. Dulunya dia itu teman SMP aku. Tidak sekelas, tapi seangkatan. Aku dan Roni sama-sama kali pertama menjadi murid SMP Marius sejak Juli 2001. Tanggalnya aku tidak pernah lupa: 16 Juli 2001. Yang beberapa hari setelahnya, ada Sidang Istimewa MPR. Abdurrahman Wahid diberhentikan sebagai presiden. Kemudian Megawati terpilih sebagai wakil presiden.
Kubuka pintu. Roni tersenyum berbinar-binar menatapku. Selama aku berjalan menghampiri dia yang menungguku di luar pagar rumah, suatu kenangan muncul di dalam kepala.
*****
Tangerang, September 2001
“Gue juga baca komik Dragon Ball," ujar aku tersenyum. “Bahkan gue nonton kartunnya setiap jam sembilan pagi.”
“Lebih seruan komiknya, sih,” balas Roni. “Saking serunya, gue susah banget cari yang volume 42. Katanya, itu volume terakhirnya Dragon Ball, yah.”
Aku mengangguk. “Gue punya yang volume 42.”
“Serius?” tanya Roni terperanjat. Ia terlihat antusias.
Aku tak menyangka akan menemukan penggemar Dragon Ball saat sudah menjadi murid SMP. Padahal, saat masih SD, teman-teman lebih menyukai Crayon Shinchan atau Detective Conan. Mungkin saat itu hanya aku satu-satunya penggemar Dragon Ball.
Lalu aku hanya mengangguk.
Roni makin terlihat antusias. Dengan mata berbinar-binar, ia berkata, “Besok bisa bawa nggak ke sekolah? Gue pinjam, dong. Nanti pasti gue balikin.”
“Hari senin aja,” jawab aku. “Gue cari dulu komiknya.”