Kabut turun lebih dulu daripada senja di Dieng, merayap rendah dari lereng-lereng gunung, menyelinap di antara atap ijuk dan pucuk pohon. Anak-anak masih bermain congklak di halaman tanah yang dipadatkan. Ibu-ibu berjongkok di tepi sungai, menggosok kain dengan gerakan yang sama seperti kemarin, dan kemarin lusa, dan seluruh hari sebelum itu yang tak lagi mereka hitung.
Sore itu, sebelum pulang, Wiryo masih sempat berhenti di gubuk pencatatan di ujung perkebunan, memeriksa ulang jumlah pikulan yang dibawa turun oleh para pemetik. Karsih, perempuan paruh baya yang sudah bekerja di kebun itu sejak sebelum Wiryo lahir, duduk di bangku kayu sambil mengikat tali keranjangnya yang putus.
“Pak Mandor pulang cepat hari ini,” katanya, tanpa mendongak dari pekerjaannya.
“Biasa aja, Bu Karsih.”
“Mata Bapak dari tadi nerawang terus. Ada yang dipikirin?”
Wiryo tertawa kecil, menutup buku catatannya. “Cuma capek.”
Karsih mengangguk, tak mendesak lebih jauh, meneruskan mengikat talinya dengan tangan yang sudah hafal gerakan itu tanpa perlu melihat. Wiryo berjalan keluar gubuk, dan baru setelah beberapa langkah ia sadar bahwa jawabannya sendiri terasa seperti kebohongan pertama yang ia ucapkan hari itu, meski tak sepenuhnya salah—ia memang lelah, hanya bukan lelah yang bisa dihilangkan dengan tidur.
• • •
Raden Wiryo Sentono berjalan pulang dengan seragam mandor yang kusut oleh keringat sepanjang hari, buku catatan hasil petik teh terselip di ketiaknya, angka-angkanya sudah ia hafal luar kepala sebelum sempat ditulis ulang di rumah. Penduduk membungkuk ketika ia lewat. Ia membungkuk balik, sedikit lebih dalam dari yang seharusnya—kebiasaan yang tak pernah ia pikirkan artinya sampai hari ini, ketika tiba-tiba terasa seperti permintaan maaf yang tak jelas ditujukan kepada siapa.
Pintu di rumah terakhir sebelum tikungan itu terbuka. Nyi Kenanga keluar.
Ia menatap Wiryo lama, terlalu lama untuk sekadar sapaan sore, dan Wiryo merasakan sesuatu di tengkuknya yang tak bisa ia beri nama—bukan dingin, bukan juga panas, lebih seperti udara yang tiba-tiba tahu sesuatu yang belum ia ketahui.
“Ada apa, Nyi?”