3:17 Jangkar Terakhir

Nuryono
Chapter #2

Bisikan Kyai Sadewo

Wiryo tidak bisa tidur malam itu.

Ia berbaring di dipan kayu yang sudah dua puluh tahun ia tiduri, mendengarkan bunyi-bunyi rumah yang biasanya tak pernah ia dengar—kayu menyusut karena dingin, tikus yang berlarian di atas plafon, angin yang mencari celah di antara papan dinding. Malam-malam lain, bunyi-bunyi itu adalah latar yang membuatnya cepat tertidur. Malam ini, setiap bunyi terasa seperti sesuatu yang sengaja diarahkan kepadanya.

Ibumu dulu punya kekuatan yang sama seperti saya.

Kalimat itu tak mau pergi. Ia mencoba mengingat wajah ibunya dan yang muncul justru bukan wajah, melainkan tangan—tangan yang menyisir rambutnya sebelum tidur, jari-jari yang berhenti sejenak setiap kali sampai di belakang telinga kirinya, seperti sedang memeriksa sesuatu di sana yang tak pernah Wiryo tanyakan. Ia sembilan tahun ketika ibunya meninggal. Cukup umur untuk mengingat kebiasaan-kebiasaan kecilnya, terlalu muda untuk bertanya kenapa.

Jendela. Itu yang muncul berikutnya. Ibunya menutup jendela setiap malam, rapat, bahkan pada bulan-bulan kemarau ketika udara di dalam rumah terasa seperti di dalam tungku. Wiryo kecil pernah merengek minta jendela dibuka, dan ibunya hanya menjawab, belum waktunya, sebuah jawaban yang tak pernah ia mengerti dan yang, karena ia anak-anak, tak pernah ia kejar lebih jauh. Sekarang, di dipan yang sama dengan yang ia tiduri sejak kecil, pertanyaan itu kembali—bukan lagi sebagai rengekan, melainkan sebagai sesuatu yang duduk berat di dadanya: jendela-jendela itu ditutup untuk menahan sesuatu masuk, atau menahan sesuatu di dalam rumah supaya tidak keluar?

Ia bangkit, menyalakan lampu teplok kedua, cahayanya jatuh ke sudut kamar tempat peti kecil ibunya tersimpan di bawah tumpukan kain batik yang tak pernah lagi ia pakai. Ia tahu peti itu ada di sana seperti ia tahu di mana meletakkan cangkul—tanpa perlu memikirkannya. Yang tak pernah ia lakukan adalah membukanya lebih dari sekali, sepuluh tahun lalu, sebentar, lalu menutupnya lagi karena tak tahan dengan aroma kapur barus yang bercampur dengan sesuatu yang masih menyerupai ibunya.

Malam ini aroma itu masih sama. Kapur barus, dan di bawahnya, samar, minyak kelapa.

Isinya sederhana—kain lurik yang pudar, sisir tanduk bergigi patah, sebuah kalung manik-manik hitam yang tak pernah ia lihat dipakai ibunya seumur hidupnya, seolah kalung itu disimpan justru untuk tidak dipakai. Di dasar peti, terlipat rapi lebih rapi dari benda-benda lain, sehelai kain putih.

Bukan kain biasa. Penuh tulisan tangan beraksara Jawa kuno, tintanya memudar namun masih terbaca dengan cahaya yang cukup. Wiryo tak bisa membaca aksara itu lancar—sekolah kolonial mengajarinya huruf Latin, sedikit huruf Jawa modern, bukan aksara leluhur yang bahkan gurunya sendiri tak hafal. Tapi satu kata muncul berulang, lebih besar dari yang lain, seperti sengaja ditulis untuk bisa dibaca oleh mata yang tak terlatih sekalipun.

Jangkar.

Ia melipat kain itu, memasukkannya kembali, menutup peti. Tangannya, saat menutup kunci kecil di sisinya, terasa seperti tangan orang lain yang kebetulan menempel di pergelangannya.

•  •  •

Lihat selengkapnya