3:17 Jangkar Terakhir

Nuryono
Chapter #3

Malam di Candi Dieng

Kabut di reruntuhan Candi Dieng malam itu tidak bergerak seperti kabut biasa.

Wiryo menyadarinya begitu melewati batas hutan kecil yang memisahkan jalan desa dari kompleks candi. Kabut yang biasa ia lewati tiap pagi menuju perkebunan selalu mengikuti arah angin, menipis di satu sisi, menebal di sisi lain sesuai hembusan—hukum alam yang bahkan tak perlu ia pikirkan, seperti tahu air akan mengalir ke bawah. Kabut ini merangkak rendah di antara batu berlumut tanpa pola yang bisa ia baca, seperti sesuatu yang sedang memilih ke mana harus bergerak, bukan digerakkan.

Ia berhenti sejenak di batas hutan, satu tangan bertumpu pada batang pohon yang dingin oleh embun. Dua puluh tahun ia berjalan di jalur ini, ke perkebunan dan pulang, ke pasar dan pulang, ke rumah Kyai Sadewo sesekali untuk urusan desa dan pulang—dan tak sekali pun jalur ini terasa seperti sekarang, seperti tanah yang tahu ia akan datang dan sudah lama menunggu.

Bulan purnama menggantung nyaris penuh, cahayanya keperakan, membuat prasasti-prasasti yang biasa ia lihat siang hari—akrab, bagian dari lanskap yang tak lagi ia perhatikan, seperti gerobak rusak yang teronggok terlalu lama di pinggir jalan sampai mata berhenti mencatatnya—kini tampak seperti sesuatu yang baru pertama kali ia temui. Ia menggenggam lenteranya erat, nyala apinya bergoyang meski malam nyaris tanpa angin, dan ia sempat berpikir, dengan bagian dari dirinya yang masih berusaha bersikap seperti mandor perkebunan biasa, bahwa mungkin apinya sendiri yang gemetar, bukan udaranya.

Pukul dua lewat empat puluh lima.

Ia melihat mereka sebelum mereka menyadari kedatangannya—tiga sosok berjubah putih mengelilingi altar batu di tengah reruntuhan. Kyai Sadewo di tengah, tongkatnya kini lebih terlihat seperti perpanjangan tubuhnya sendiri daripada alat bantu jalan. Di kanan, Nyi Kenanga, wajah tegasnya yang biasa Wiryo kenal kini menyimpan sesuatu yang baru—bukan ketakutan yang meledak, melainkan ketakutan yang sudah lama dijinakkan, disimpan rapi di balik ekspresi tenang, cara seseorang menyimpan pisau di balik kain agar tak terlihat tajamnya. Di kiri, seorang biksu tua yang belum pernah Wiryo lihat sepanjang hidupnya di desa itu, kepalanya gundul mengkilap tertimpa cahaya bulan, matanya terpejam, bibirnya bergerak pelan seperti sedang menghitung sesuatu yang hanya bisa ia dengar sendiri.

Di tengah altar, sebuah jam saku terbuka, jarum detiknya bergerak dengan bunyi yang terdengar jelas meski jaraknya cukup jauh dari tempat Wiryo berdiri—bunyi yang menempel di telinganya seperti detak jantung orang lain yang kebetulan berdiri terlalu dekat.

“Kyai... apa yang terjadi? Kenapa harus tengah malam—”

“Duduk, Nak.” Suara Kyai Sadewo tenang, tapi ada sesuatu di baliknya yang mendesak, seperti orang yang sedang menghitung sisa napas yang ia punya untuk berbicara. “Waktunya tidak banyak.”

Wiryo duduk di batu dingin, lenteranya masih ia genggam meski tak lagi benar-benar ia butuhkan di bawah cahaya bulan sepenuh itu—hanya saja tangannya tak tahu harus melakukan apa selain menggenggam sesuatu, sama seperti ketika ia kecil dan menggenggam ujung kain ibunya di tengah keramaian pasar.

• • •

Kyai Sadewo mengangkat jam saku itu dengan kedua tangan, hati-hati, seperti mengangkat sesuatu yang bisa retak jika terlalu banyak diguncang.

“Jam ini dibuat tahun 1898. Oleh tukang jam Belanda. Cornelius van der Berg.” Ia menatap Wiryo lama sebelum melanjutkan. “Dia mencoba membuat mesin yang bisa membekukan waktu. Eksperimennya gagal. Tapi jam ini jadi sesuatu yang lain.”

“Pintu,” kata Nyi Kenanga, singkat, seolah dua kata itu cukup.

Biksu tua membuka mata, suaranya serak seperti jarang dipakai. “Jam ini secara tidak sengaja membuka pintu ke dimensi lain. Dimensi antara hidup dan mati. Orang Jawa menyebutnya Loka Sunya. Ruang kosong.”

“Setiap alam,” lanjut Kyai Sadewo, “punya batasnya sendiri. Dunia yang kita pijak ini, dan dunia arwah, dipisahkan bukan oleh jarak, tapi oleh keseimbangan. Sangkan paraning dumadi—dari mana datang, ke mana kembali.”

Wiryo mengernyit, tak sepenuhnya mengikuti, tapi diam, membiarkan orang tua itu melanjutkan.

“Manusia lahir dari Sang Sangkan, menjalani laku hidupnya di dunia madya ini, lalu pulang ke Sang Paran. Empat penjuru menjaga jalan itu tetap lurus—sedulur papat, lima pancer, empat saudara gaib yang lahir bersama tiap manusia, menjaga si pancer, jiwa yang di tengah, agar tak tersesat antara dua alam.”

“Dan jam ini?” potong Wiryo, tak sabar.

“Merobek keseimbangan itu,” kata Kyai Sadewo, singkat. “Membuat lubang di tempat yang seharusnya tak berlubang. Lubang itu tak kenal empat penjuru. Tak kenal pancer siapa pun.”

“Dimensi...” Wiryo mencoba mencerna, kata-kata itu terlalu besar untuk kepala yang baru semalam mulai meragukan hal-hal yang selama ini ia anggap pasti—takaran pupuk, jadwal panen, jarak antara terbit dan terbenamnya matahari. “Apa maksudnya—”

Lihat selengkapnya