Sari sudah tahu sejak tiga hari sebelumnya, dan tak pernah mengatakannya keras-keras kepada siapa pun, bukan kepada Budi, apalagi kepada Raka.
Ia tumbuh dengan ibunya yang selalu berkata: firasat yang kamu ceritakan, kehilangan separuh kekuatannya untuk mencegah. Sari tak pernah sepenuhnya mengerti kalimat itu sampai bertahun-tahun kemudian, ketika ia sendiri mulai melihat hal-hal yang tak seharusnya bisa dilihat orang lain, dan mendapati bahwa mengatakannya keras-keras kepada orang yang dicintainya hanya membuat mereka menatapnya seperti melihat orang sakit, bukan orang yang sedang berusaha menyelamatkan mereka.
Malam sebelum keberangkatan, ia duduk sendirian di dapur pukul satu pagi, air dalam gelas di depannya tak pernah ia sentuh, hanya menatap permukaannya yang tenang seperti menatap sesuatu yang bisa membalas tatapannya kalau ia cukup sabar menunggu. Ia sudah menelepon biro perjalanan tiga kali untuk menanyakan apakah jadwal keberangkatan bisa diubah, dan tiga kali pula ia membatalkan niatnya sebelum sempat berbicara dengan operator, karena apa yang bisa ia katakan? Saya melihat tabrakan di jalan yang belum kami lewati, tolong ubah jam berangkat kami? Bahkan di dalam kepalanya sendiri, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang layak ditertawakan.
Yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada Budi, yang setelah lima belas tahun pernikahan tahu hampir semua tentang dirinya, adalah bahwa penglihatan itu datang dengan angka. Selalu angka. Pukul tiga lewat tujuh belas menit, tertulis di jam digital yang retak, dikelilingi warna merah yang bukan warna cahaya rem, melainkan warna yang lebih gelap dan lebih hangat dari itu.
Ia sudah mengalami penglihatan semacam ini sebelumnya, dan sebagian besar tak pernah terjadi persis seperti yang ia lihat, kadang meleset harinya, kadang meleset orangnya, seolah masa depan yang ia intip hanyalah salah satu dari banyak kemungkinan yang bisa saja tak terjadi. Tapi penglihatan yang datang dengan angka yang begitu presisi, begitu berulang setiap kali ia mencoba memejamkan mata untuk melihat lebih jelas, belum pernah sekali pun meleset.
Sebelum subuh, ia masuk ke kamar Raka tanpa membangunkannya, berdiri di ambang pintu menatap anaknya yang tidur dengan mulut sedikit terbuka, satu kaki menjulur keluar dari selimut seperti kebiasaannya sejak bayi. Sari tak melakukan apa-apa selain berdiri di sana selama beberapa menit, menghafal wajah itu dengan cara yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, bukan sebagai ibu yang mengecek anaknya sebelum tidur, melainkan sebagai seseorang yang tak yakin akan diberi kesempatan melihatnya lagi.
Ia hampir membangunkannya, hampir mengucapkan sesuatu, entah peringatan, entah permintaan maaf atas hal yang belum terjadi, tapi ia tahu tak ada kalimat yang bisa ia susun tanpa terdengar gila bagi anak tiga belas tahun yang sedang tidur nyenyak, bermimpi tentang hal-hal biasa yang belum tersentuh oleh apa yang ia lihat. Ia menutup pintu itu perlahan, kembali ke kamarnya sendiri, dan berbaring di sisi Budi tanpa tidur sedetik pun hingga matahari terbit.
• • •
Kabut pagi menyelimuti perkebunan teh Ciwidey dengan kelembutan yang nyaris menipu, hijau berlapis-lapis di kedua sisi jalan, tenang seperti lukisan yang belum diberi tahu apa yang akan terjadi di dalamnya.
Toyota Avanza perak melaju pelan di jalan berkelok, ban-bannya mendesis di atas aspal yang masih basah oleh embun semalam. Radio memutar “Pura-Pura Lupa” milik Mahen, liriknya mengalir memenuhi kabin seperti sesuatu yang tak seorang pun benar-benar mendengarkan namun tak seorang pun juga meminta dimatikan.
Budi Santoso duduk di kursi penumpang depan, novel Pramoedya Ananta Toer terbuka di pangkuannya, pena di tangan kanan menandai kalimat yang menurutnya layak diingat. Sesekali ia mengangkat pandangan dari buku, menatap istrinya yang duduk di belakang kemudi, bukan menatap jalan seperti yang biasa dilakukan penumpang yang khawatir, melainkan menatap istrinya sendiri, mencoba membaca sesuatu di wajahnya yang selama tiga hari terakhir menolak untuk dibaca.
Sari menggenggam setir dengan cengkeraman yang memutihkan buku-buku jarinya. Matanya cekung karena tiga malam nyaris tanpa tidur, dan setiap beberapa detik ia melirik jam di dasbor, bukan kekhawatiran biasa seorang pengemudi, melainkan cara seseorang mengawasi bom yang sudah ia tahu akan meledak, hanya belum tahu jam berapa persisnya.
Di kursi belakang, Raka, tiga belas tahun, earphone besar menutupi kedua telinganya, meringkuk dengan wajah yang diterangi cahaya biru dari layar ponsel, sama sekali tak menyadari ketegangan yang mengambang di kursi depan, terlalu larut dalam pertempuran virtualnya sendiri.
“Satu squad di depan!” serunya ke mikrofon kecil di earphone-nya. “Revive gue, cepet! Jangan sampai too soon!”
Budi menutup bukunya. “Sayang, gantian aku yang bawa, ya? Kamu gemetar begitu sejak masuk jalur Ciwidey.”