Ada jeda, sepersekian detik yang terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya mungkin bagi fisika mana pun, antara benturan yang meremukkan badan mobil dan saat air sungai mulai menelan mereka, sebuah jeda di mana Sari masih sempat merasakan tubuhnya sendiri terpental ke depan, sabuk pengaman mencengkeram dadanya dengan keras, dan suara jeritan yang ia sendiri tak yakin berasal dari mulutnya atau dari mulut orang lain di dalam mobil itu.
Air masuk lewat jendela yang hancur, dingin dan keruh, bergerak begitu cepat hingga tak ada waktu untuk berpikir, hanya waktu untuk tenggelam.
Mobil itu meluncur turun, ditarik ke dasar sungai yang jauh lebih dalam dari yang terlihat dari permukaan jalan, badannya berputar pelan dalam air yang keruh oleh lumpur yang terangkat dari dasar.
Budi sudah tidak bergerak. Lehernya patah dalam posisi yang tak mungkin dimiliki tubuh yang masih hidup. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah kegelapan yang perlahan memenuhi kabin. Darah mengalir dari mulutnya, bercampur air sungai dalam gumpalan merah muda yang melayang perlahan di sekelilingnya. Ia mati seketika, tanpa sempat merasakan sakit, tanpa sempat mengucapkan kata terakhir untuk siapa pun, tak sempat pula menyelesaikan kalimat yang setengah jam lalu ia mulai di dalam hati, tentang mengajak Raka mendaki bersama tahun depan, sebuah rencana yang kini tak akan pernah sampai pada siapa pun.
Sari masih hidup, untuk beberapa detik lagi. Dadanya tertusuk kolom kemudi yang patah, darah memenuhi mulutnya, gelembung udara keluar dari bibirnya setiap kali ia mencoba menarik napas yang tak lagi bisa ia hirup dengan benar. Ia sekarat, dan ia tahu itu, bukan dengan kepanikan seperti yang mungkin dibayangkan orang yang belum pernah melihat kematiannya sendiri lebih dulu dalam mimpi, melainkan dengan sebuah ketenangan aneh, seperti murid yang akhirnya duduk untuk ujian yang sudah ia pelajari jawabannya bertahun-tahun.
Di kursi belakang, Raka terjebak, sabuk pengaman menekan dadanya, tubuh kecilnya tak berdaya melawan tekanan air yang terus naik. Ada satu momen, sepersekian detik sebelum kesadarannya benar-benar padam, ketika ia masih sempat berpikir tentang permainan di ponselnya yang kini melayang entah ke mana di dalam air, pikiran yang begitu kecil, begitu tak penting, dan justru karena itu terasa begitu menyayat baginya untuk diingat kembali bertahun-tahun kemudian: bahwa detik terakhirnya sebagai anak yang belum tahu apa-apa dihabiskan untuk memikirkan sebuah gim.
Matanya terbuka, tak lagi bernapas, tak lagi bergerak.
Di bawah air, semuanya senyap. Hanya gelembung yang naik perlahan menuju permukaan yang terasa begitu jauh, seolah bukan lagi bagian dari dunia yang sama dengan mobil yang terbalik ini.
• • •
Dan kemudian, dengan sisa kekuatan yang seharusnya sudah tak ia miliki lagi, tangan Sari mulai bersinar.