3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #6

Pemakaman Ganda

Raka tidak ingat banyak dari tiga hari setelah kecelakaan itu.

Yang tertinggal di ingatannya hanyalah kepingan-kepingan yang tak berurutan: seorang perawat yang memeriksa denyut nadinya berulang-ulang dengan wajah kebingungan yang tak pernah benar-benar hilang; Tante Rina yang memeluknya erat di ruang tunggu rumah sakit, tubuhnya gemetar oleh tangis yang ia coba tahan demi keponakannya; dokter yang berbisik-bisik dengan perawat lain di luar ruangan, kata-kata seperti “keajaiban” dan “tidak masuk akal secara medis” terdengar samar-samar melalui pintu yang tak tertutup sempurna.

Tak seorang pun bisa menjelaskan bagaimana seorang anak yang tenggelam, menurut catatan warga yang menemukan mobil itu, lebih dari dua puluh menit, bisa ditemukan masih bernapas, jantungnya masih berdetak, tanpa kerusakan otak yang seharusnya tak terhindarkan pada kondisi semacam itu.

Seorang perawat muda, yang jaga malam di ruangannya pada hari kedua, mencoba mengajaknya bicara, bukan pertanyaan medis seperti yang lain, melainkan pertanyaan yang lebih sederhana, jenis yang orang dewasa ajukan ketika kehabisan cara untuk menjangkau seorang anak yang menutup diri.

“Kamu suka warna apa?” tanyanya, sambil mengganti infus. “Kamar ini boleh Kakak tempelin stiker, kalau kamu mau.”

Raka menatapnya lama sebelum menjawab, suaranya serak karena tiga hari nyaris tak dipakai. “Biru,” katanya, lalu diam lagi, bukan karena tak ada yang ingin ia katakan, melainkan karena setiap kali ia membuka mulut, yang ingin keluar bukan soal warna kesukaan, melainkan pertanyaan yang tak sanggup ia ucapkan keras-keras: apakah perawat itu juga bisa melihat ibunya, yang menurut ingatannya masih berdiri di sudut ruangan, diam, menatapnya sepanjang malam tanpa pernah benar-benar mendekat.

Perawat itu tak melihat apa-apa. Ia hanya tersenyum, menepuk pelan tangan Raka, dan melanjutkan pekerjaannya.

Raka sendiri tidak menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Ia hanya diam, menatap kosong ke dinding kamar rumah sakit, menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter dengan anggukan atau gelengan seadanya, tak sanggup mengucapkan kalimat lengkap tentang apa yang ia lihat di dasar sungai itu.

Bagaimana ia bisa menjelaskan cahaya emas yang keluar dari tangan ibunya? Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia mati, benar-benar mati, dan kemudian tidak?

•  •  •

Tante Rina datang setiap hari, kadang dua kali sehari di antara jam kerjanya, dan pada malam kedua, ketika Raka masih terjaga meski lampu kamar sudah dimatikan, ia duduk di kursi plastik di samping ranjang dan bicara, bukan bertanya, hanya bicara, seolah tahu bahwa Raka belum siap menjawab apa pun.

“Mama kamu itu,” katanya, suaranya pelan di kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu mesin pemantau jantung, “dulu waktu kecil paling nggak suka disuruh tidur siang. Tante yang harus jagain dia biar nggak kabur ke halaman. Padahal Tante yang lebih kecil dua tahun darinya.”

Raka tak menjawab, tapi matanya, yang sejak siang menatap langit-langit tanpa berkedip, perlahan bergerak ke arah suara itu.

“Dia keras kepala,” lanjut Tante Rina, suaranya mulai retak meski ia berusaha menahannya, “tapi dia sayang banget sama kamu. Dari kamu bayi, Tante inget dia selalu bilang, anak ini bakal jadi orang baik. Entah dari mana dia tahu.”

Ia berhenti sejenak, mengusap wajahnya sendiri dengan punggung tangan. “Tante nggak akan maksa kamu cerita apa-apa sekarang. Tapi kamu nggak sendirian, Nak. Ada Tante.”

Raka memejamkan mata, bukan karena mengantuk, melainkan karena ia tak sanggup menatap wajah bibinya yang begitu ingin menolong sesuatu yang bahkan tak bisa ia jelaskan sendiri.

•  •  •

Lihat selengkapnya