3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #7

Bocah Arwah

Butuh waktu beberapa bulan bagi Raka untuk menyadari polanya.

Pada awalnya, di rumah Tante Rina, ia mengira dirinya hanya bermimpi buruk berulang-ulang, terbangun setiap dini hari dengan tubuh menggigil, napas berat, dan bayang-bayang samar yang menghilang begitu ia menyalakan lampu kamar. Tante Rina, yang bekerja shift malam sebagai perawat dan jarang berada di rumah pada jam-jam tersebut, tak pernah menyaksikannya sendiri, dan Raka, yang masih terlalu shock oleh kehilangan untuk mempercayai indranya sendiri, tak pernah benar-benar menceritakannya.

Suatu pagi, saat sarapan, Tante Rina bertanya kenapa matanya selalu merah setiap hari Selasa dan Kamis, hari-hari ketika ia libur shift malam dan tidur di rumah. Raka mengarang alasan tentang PR yang menumpuk, dan Tante Rina, yang punya cukup banyak hal untuk dikhawatirkan tanpa perlu menambah satu lagi, mempercayainya.

Tapi lambat laun, ia mulai memperhatikan sesuatu yang tak bisa lagi ia abaikan sebagai kebetulan: jam. Selalu jam yang sama. Pukul tiga lewat tujuh belas menit, dini hari maupun sore hari, seolah waktu itu sendiri telah menandai dirinya dengan sebuah jadwal yang tak pernah ia setujui.

Dan setiap kali jam itu tiba, mereka datang.

•  •  •

Minggu-minggu pertama di sekolah baru, ada satu anak yang mencoba berteman dengannya, seorang anak lelaki bernama Doni, yang duduk di bangku sebelahnya karena urutan absen kebetulan berdekatan, dan yang, entah karena kebaikan hati atau sekadar rasa ingin tahu yang polos, terus mengajaknya bicara meski Raka jarang menjawab lebih dari satu-dua kata.

“Lo suka Dragon Ball nggak?” tanya Doni suatu hari, menunjukkan gambar yang ia coret di buku tulisnya. “Gue lagi belajar gambar Goku, tapi rambutnya susah banget.”

Raka melihat gambar itu, dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman, sesuatu di dadanya terasa sedikit lebih ringan. “Rambutnya harus tajem-tajem,” katanya, mengambil pensil Doni tanpa benar-benar berpikir, memperbaiki beberapa garis. “Kayak gini.”

Doni tertawa, kagum. “Wah, jago lo! Ajarin gue, dong.”

Untuk tiga minggu setelahnya, mereka makan siang bersama, bertukar komik, dan sekali, di rumah Doni sepulang sekolah, bermain gim konsol sampai maghrib sebelum Raka buru-buru pulang karena takut membuat Tante Rina cemas. Itu adalah tiga minggu paling normal yang Raka rasakan sejak kecelakaan, dan karena itu pula, ketika semuanya berakhir, rasanya jauh lebih menyakitkan daripada jika ia tak pernah punya teman sama sekali.

•  •  •

Kelas matematika berlangsung seperti biasa siang itu. Guru menulis rumus di papan tulis, kapur berderit dengan bunyi yang sudah familiar bagi telinga semua murid. Raka duduk di bangku keduanya, di sebelah Doni, mulai merasa seperti murid biasa untuk pertama kalinya sejak ia pindah.

Ia melirik jam tangan murahan yang dibelikan Tante Rina untuknya bulan lalu.

Pukul tiga lewat enam belas menit.

Jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Ia tahu apa yang akan datang, meski belum sepenuhnya memahami mengapa, dan untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan yang berbeda dari biasanya, bukan lagi hanya takut pada apa yang akan muncul, melainkan takut pada apa yang akan Doni pikirkan tentangnya setelahnya.

“Lo kenapa, pucet gitu?” bisik Doni, memperhatikan wajahnya.

Lihat selengkapnya