3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #8

Lima Botol yang Tak Pernah Diminum

Tante Rina mencoba segala cara yang ia tahu.

Setelah insiden di kelas matematika menyebar ke seluruh sekolah, wali kelas Raka memanggilnya untuk sebuah pertemuan yang canggung di ruang guru, duduk berhadapan dengan meja yang dipenuhi map-map berkas dan secangkir teh yang tak pernah disentuh siapa pun. Wali kelas itu, dengan nada yang berusaha terdengar profesional namun jelas menyembunyikan kekhawatiran yang tulus, menyarankan Raka untuk menemui psikolog anak.

“Ini bukan tentang menghakimi keponakan Ibu,” katanya, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Tapi apa yang dia alami di kelas kemarin... itu bukan perilaku biasa. Mungkin dia butuh bantuan untuk memproses kehilangan orang tuanya.”

Tante Rina mengangguk, meski di dalam hati ia tak sepenuhnya yakin apa yang sedang ia setujui. Ia bukan orang yang percaya penuh pada psikologi, generasinya dibesarkan dengan keyakinan bahwa kesedihan cukup ditahan, bukan dianalisis, tapi ia juga bukan orang yang punya pilihan lain. Ia bekerja shift bergantian di rumah sakit, jarang di rumah, dan tak punya cukup waktu maupun pengetahuan untuk benar-benar memahami apa yang terjadi pada keponakannya setiap sore pukul tiga lewat tujuh belas menit.

Malam itu, di meja makan, ia menyampaikan rencana itu kepada Raka sambil menghindari tatapan matanya, seolah takut Raka akan menganggapnya sebagai pengkhianatan. “Tante udah cari nama-nama dokter. Kamu mau coba, kan?”

Raka mengaduk nasi di piringnya tanpa benar-benar memakannya. “Kalau itu bikin Tante nggak khawatir lagi, aku coba.”

Ia tak mengatakan yang sebenarnya ia rasakan, bahwa ia sendiri berharap, dengan cara yang nyaris putus asa, bahwa salah satu dari dokter-dokter itu akan menemukan sesuatu yang bisa menghentikan semua ini, meski jauh di dalam dirinya ia sudah mulai curiga tak akan ada yang berhasil.

• • •

Psikolog pertama adalah seorang perempuan berusia lima puluhan dengan kacamata berbingkai tebal dan ruang praktik yang dipenuhi diploma-diploma yang tergantung rapi di dinding. Ia mendengarkan cerita Raka dengan sabar, mencatat sesekali di buku catatannya, dan pada akhir sesi menyimpulkan dengan nada yang meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan Raka.

“Ini halusinasi pasca-trauma,” katanya kepada Tante Rina di ruang tunggu. “Wajar terjadi setelah kecelakaan seberat itu.”

Raka ingin bertanya bagaimana halusinasi bisa membuat suhu ruangan anjlok sampai membuat napas semua orang mengembun. Tapi ia diam saja.

• • •

Psikolog kedua praktik di sebuah ruko kecil di lantai dua, ruangannya sempit namun rapi, dengan satu jendela yang menghadap parkiran motor di bawahnya. Ia lelaki berusia empat puluhan dengan janggut rapi dan suara tenang seperti penyiar radio larut malam, dan berbeda dari yang pertama, ia mengajak Raka duduk di kursi yang sejajar, bukan di seberang meja.

“Coba ceritain,” katanya, “kapan pertama kali kamu ngerasa nggak pantas buat masih hidup?”

Pertanyaan itu menghantam Raka lebih keras dari yang ia duga, bukan karena tak pernah ia pikirkan, melainkan karena tak seorang pun sebelumnya cukup berani menanyakannya langsung. Ia diam lama sebelum menjawab.

“Setiap hari,” katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Setiap kali aku inget Ibu senyum, terus mata dia nutup. Kayak dia yang harusnya hidup, bukan aku.”

Lihat selengkapnya