3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #9

Zona Karantina

Di kantin sekolah, ada satu meja yang tak pernah terisi.

Bukan karena mejanya rusak, bukan karena letaknya kurang strategis, justru sebaliknya, meja itu berada di sudut yang teduh, dekat jendela yang menghadap taman sekolah, tempat yang seharusnya diperebutkan oleh murid-murid yang ingin makan siang sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Tapi sejak kelas sepuluh, meja itu selalu kosong, kecuali satu orang yang duduk di sana setiap hari, sendirian, dengan nampan makan siang yang sama sekali tak pernah ditemani nampan lain.

Teman-teman sekelas Raka telah mengembangkan istilah tak resmi untuk area di sekelilingnya: zona karantina. Bukan sekadar meja kosong, melainkan radius tak kasat mata yang seolah dijaga oleh peraturan tak tertulis yang dipahami semua orang tanpa perlu diucapkan, jangan duduk terlalu dekat dengan Raka, jangan sampai terjebak dalam obrolan dengannya lebih lama dari basa-basi seperlunya.

Raka belajar untuk hidup di dalam zona itu. Ia belajar untuk makan siang secepat mungkin, menyelesaikan nasi dan lauknya dalam waktu sepuluh menit alih-alih menikmatinya perlahan seperti murid-murid lain. Ia belajar untuk membawa buku ke mana pun ia pergi, bukan karena ia benar-benar ingin membaca, melainkan karena buku memberinya alasan untuk tidak menatap ke sekeliling.

•  •  •

Pada suatu siang di kelas sebelas, seorang murid bernama Fajar, anak yang duduk dua bangku darinya, yang selama ini tak pernah lebih dari sekadar mengangguk kalau berpapasan, tiba-tiba berhenti di dekat mejanya di kantin, nampan di tangan, ragu sejenak sebelum akhirnya duduk di seberangnya.

“Boleh gabung?” tanyanya, canggung.

Raka menatapnya, terkejut, hampir tak percaya. “Boleh,” katanya, terlalu cepat, terlalu bersemangat untuk terdengar wajar.

Mereka mengobrol tentang tugas fisika yang sama-sama mereka benci selama sepuluh menit yang, bagi Raka, terasa seperti oase di tengah gurun panjang. Fajar bahkan tertawa pada salah satu leluconnya, lelucon kecil tentang guru fisika yang selalu lupa nama murid, dan untuk sepuluh menit itu, Raka lupa untuk memeriksa jam tangannya.

Lihat selengkapnya