Di rumah, kesendirian itu mengambil bentuk yang berbeda, namun sama menyakitkannya.
Tante Rina bukanlah orang yang tak menyayanginya. Shift malamnya sering dimulai pukul sepuluh dan berakhir pukul enam pagi, meninggalkan Raka sendirian di rumah selama berjam-jam yang seharusnya diisi oleh kehadiran orang dewasa yang bisa ia ajak bicara.
Meja makan mereka lebih sering diisi hanya satu piring. Kadang Tante Rina meninggalkan pesan di kertas tempel yang ditempelkan di kulkas: Ada nasi di rice cooker, lauknya di kulkas, tinggal dihangetin. Jangan lupa makan, ya, Nak. Sayang kamu.
Pesan-pesan itu, meski singkat, selalu Raka simpan, ditumpuk di laci meja belajarnya.
• • •
Malam-malam ketika Tante Rina bekerja, Raka mengembangkan sebuah rutinitas kecil untuk dirinya sendiri, memanaskan nasi persis pukul tujuh, menonton acara berita yang tak benar-benar ia ikuti isinya, sekadar untuk mendengar suara manusia lain di dalam rumah yang sunyi, lalu tidur lebih awal dari yang seharusnya, karena tidur adalah satu-satunya cara ia tahu untuk membuat malam terasa lebih pendek.
Sesekali, ketika insomnia menyerang dan ia tak sanggup lagi berbaring menatap langit-langit, ia menulis di sebuah buku catatan kecil yang ia sembunyikan di bawah kasur, bukan jurnal tentang manifestasi 03:17, melainkan catatan yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih menyedihkan: daftar hal-hal yang ingin ia ceritakan kepada Tante Rina kalau saja ia cukup berani, kalau saja ia yakin ceritanya tak akan membuat perempuan itu semakin khawatir.