3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #11

Memudar

Raka pertama kali menyadarinya di kamar mandi, pada suatu pagi di penghujung masa SMA-nya, ketika cahaya matahari yang menembus jendela kecil di atas wastafel jatuh tepat ke tangannya.

Ia sedang menyikat gigi, setengah mengantuk, pikirannya melayang ke ujian akhir yang akan berlangsung minggu itu, ketika sesuatu membuatnya berhenti di tengah gerakan. Cahaya matahari yang biasanya jatuh di kulitnya seperti pada kulit siapa pun, memantul, memberi bayangan, menegaskan bentuk, kini tampak sedikit berbeda. Untuk sepersekian detik, ia bisa melihat samar-samar urat nadi biru di bawah permukaan kulitnya, seolah kulit itu sendiri kehilangan sedikit dari kepadatannya, menjadi sedikit lebih tembus cahaya daripada yang seharusnya.

Ia mengangkat tangannya lebih tinggi, mendekatkannya ke jendela, menatapnya dengan seksama.

Untuk sesaat, hanya sesaat, cukup singkat hingga ia nyaris meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya trik cahaya pagi yang menyilaukan, ia bisa melihat siluet keran wastafel di baliknya, samar-samar, seperti melihat melalui kaca yang berkabut tipis.

Ia menjatuhkan sikat giginya ke wastafel.

•  •  •

Selama berminggu-minggu setelahnya, ia mengamati dirinya sendiri dengan ketelitian yang nyaris obsesif, berdiri di depan cermin kamar mandi setiap pagi dan malam, membandingkan bagaimana cahaya jatuh pada kulitnya hari ini dibandingkan minggu lalu, mencatat pengamatannya di sebuah buku catatan kecil yang ia sembunyikan di bawah kasur, jauh dari pandangan Tante Rina yang sudah cukup memiliki banyak hal untuk dikhawatirkan tanpa perlu menambahkan satu lagi yang bahkan Raka sendiri belum sepenuhnya pahami.

3 Maret. Di bawah lampu kamar, tangan kanan tampak sedikit transparan di bagian ujung jari. Tidak yakin ini nyata atau hanya lelah mata.

17 Maret. Berdiri di depan jendela siang hari. Bisa melihat samar bentuk pohon di balik lengan kiri. Ini bukan trik cahaya. Ini nyata.

2 April. Mengukur dengan kamera ponsel, membandingkan foto dari sudut yang sama tiap minggu. Tingkat transparansi bertambah. Sekitar sepuluh persen dari sebulan lalu.

Ia mulai mencari jawaban ke tempat-tempat yang sama sekali tak berguna, forum daring tentang gejala medis aneh, artikel-artikel semi ilmiah tentang kondisi kulit langka, bahkan, dalam momen putus asa di tengah malam, forum-forum konspirasi yang membahas fenomena tak terjelaskan yang biasanya diisi oleh orang-orang yang, ia curigai, tak pernah benar-benar mengalami apa yang mereka klaim.

Tak satu pun memberinya jawaban yang masuk akal. Tak satu pun bahkan mendekati kebenaran yang, jauh di lubuk hatinya, sudah mulai ia curigai sejak lama: bahwa ini berkaitan dengan empat puluh enam wajah yang muncul setiap pukul tiga lewat tujuh belas menit, dengan jam saku kuno yang tak pernah benar-benar ia lihat namun entah bagaimana ia rasakan keberadaannya di suatu tempat, menunggu, berdetak menuju sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.

•  •  •

Suatu sore sepulang sekolah, dengan uang tabungan yang ia kumpulkan diam-diam dari uang jajan selama berbulan-bulan, Raka pergi sendirian ke klinik kulit di dekat terminal, tempat yang cukup jauh dari rumah agar tak ada kemungkinan bertemu siapa pun yang mengenalnya.

Lihat selengkapnya