Lily Anggraini bangun pukul lima pagi pada hari pertama kuliahnya, dua jam lebih awal dari yang sebenarnya ia perlukan, karena kebiasaan lama dari rumah, ibunya selalu bilang, orang yang terburu-buru di pagi hari akan membawa keburu-buruan itu ke sepanjang harinya. Ia menyeduh teh, memeriksa jadwal kelasnya tiga kali meski sudah hafal di luar kepala, dan berjalan kaki ke kampus lebih pagi dari siapa pun, hanya untuk memastikan ia mendapat kursi yang tepat, tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang.
Ibunya seorang guru SD di kampung halamannya, dan sejak kecil Lily dibesarkan dengan satu prinsip yang diulang-ulang setiap kali ia mengeluh tentang teman sekelas yang aneh atau guru yang galak: setiap orang bawa sesuatu yang kamu nggak lihat. Kalau kamu nggak sabar liatnya, kamu bakal nge-judge sebelum ngerti. Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa ketika Lily masih kecil. Kini, di usia sembilan belas, ia mulai menyadari kalimat itu telah membentuk cara ia melihat dunia lebih dalam daripada yang pernah ia sadari, sebuah kebiasaan memperhatikan yang, entah kapan, berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kesabaran.
Kebiasaan itu punya akar yang lebih dalam dari sekadar nasihat ibunya. Ayah Lily sakit selama tiga tahun sebelum akhirnya meninggal, penyakit ginjal yang lambat, yang berarti Lily, sejak usia sembilan tahun, tumbuh di antara jadwal cuci darah, obat-obatan yang harus diminum tepat waktu, dan orang-orang dewasa yang selalu berkata jangan khawatir, Nak, urus aja PR kamu setiap kali ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ia dijauhkan dari informasi demi kebaikannya sendiri, dan hasilnya bukan ketenangan yang diharapkan orang-orang dewasa itu, melainkan sebuah kegelisahan permanen yang tak pernah benar-benar hilang, rasa tak berdaya karena tak tahu, karena tak diberi kesempatan untuk mengerti apa yang mengancam orang yang ia sayangi.
Setelah ayahnya meninggal, sesuatu di dalam diri Lily berubah secara diam-diam. Ia mulai membaca segalanya, bertanya segalanya, menyimpan catatan tentang segalanya, bukan karena ia terlahir sebagai anak yang teliti, melainkan karena ia telah bersumpah pada dirinya sendiri, tanpa pernah mengucapkannya keras-keras kepada siapa pun, bahwa ia tak akan pernah lagi membiarkan dirinya berdiri tak berdaya di pinggir sesuatu yang bisa merenggut orang yang ia cintai, hanya karena tak ada yang mau menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.
Dua minggu sebelum keberangkatannya ke Bandung, ibunya mengemasi kopornya sambil menyisipkan amplop-amplop kecil berisi uang di antara lipatan baju, sesuatu yang selalu ia lakukan tanpa memberitahu, baru diketahui Lily setelah sampai di kos dan membongkar isi koper satu per satu. Di dalam salah satu amplop, sehelai kertas kecil bertuliskan: Jaga diri baik-baik, Nak. Kalau ketemu hal-hal yang aneh, jangan takut, percaya aja sama apa yang kamu rasa. Kalimat itu terasa lebih berarti sekarang, berminggu-minggu kemudian, daripada saat pertama kali ia membacanya di kamar kos yang masih terasa asing.
Ia duduk di baris ketiga ruang kuliah Sejarah Peradaban Nusantara pada hari pertama semester itu, pena di tangan, buku catatan terbuka di halaman pertama yang masih kosong, kebiasaan yang selalu ia jaga sejak SMA, menulis tanggal dan nama mata kuliah di pojok kanan atas sebelum dosen bahkan sempat membuka mulut.
Ia bukan tipe mahasiswa yang mencolok. Rambutnya diikat sederhana, kacamata bulat kecil bertengger di hidungnya, dan di balik penampilan yang biasa-biasa saja itu, tersembunyi sesuatu yang jarang dimiliki orang-orang seusianya: kemampuan memperhatikan hal-hal yang orang lain lewatkan begitu saja.
Ia sudah memperhatikannya bahkan sebelum tahu namanya.
• • •
Pemuda itu masuk beberapa menit setelah kelas dimulai, duduk sendirian di pojok belakang, bukan di dekat pintu seperti mahasiswa lain yang datang terlambat dan ingin cepat kabur begitu kelas selesai, melainkan di sudut paling jauh, paling gelap, tempat yang seolah sengaja dipilih untuk menghindari perhatian siapa pun.
Lily memperhatikan bagaimana teman-teman sekelasnya yang baru, yang bahkan belum saling mengenal satu sama lain, entah bagaimana secara naluriah menghindari kursi-kursi di sekitar pemuda itu. Tak ada yang mengatakannya secara terang-terangan, tapi pola itu terjadi begitu saja, mengarahkan orang-orang untuk menjaga jarak dari sesuatu yang mereka rasakan namun tak bisa mereka jelaskan.
Yang membuat Lily penasaran bukanlah jarak yang dijaga orang lain. Yang membuatnya penasaran adalah caranya sendiri bereaksi terhadap pemuda itu, sebuah perasaan yang sulit ia definisikan, seperti mengenali seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Dosen mulai memperkenalkan silabus mata kuliah, membahas cakupan materi sepanjang semester, sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara dari Sriwijaya hingga Majapahit.