3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #13

Bakso Yang Membeku

Selama dua minggu setelah kejadian di kelas mitologi, Lily memperhatikan Raka dari kejauhan tanpa pernah benar-benar mendekat, bukan karena takut, melainkan karena ia tak ingin terburu-buru mendekati seseorang yang, ia curigai, sudah cukup sering dikejutkan oleh orang-orang yang mendekat dengan alasan yang salah.

Ia memperhatikan pola yang sama berulang setiap hari: Raka makan siang sendirian di meja pojok kantin, selalu jam yang sama, selalu porsi yang sama, selalu selesai dalam waktu kurang dari sepuluh menit seolah makan adalah tugas yang harus diselesaikan secepat mungkin, bukan sesuatu yang bisa dinikmati. Dan setiap hari, tepat sebelum pukul tiga, ia akan berdiri, meninggalkan kantin, entah ke mana.

Pada suatu malam, Lily menceritakan sebagian dari apa yang ia perhatikan kepada Tantri, bukan bagian tentang lengan yang tembus cahaya, hanya bagian tentang cowok pendiam di kelas mitologi yang selalu makan sendirian.

“Lo suka ya sama dia?” goda Tantri, tersenyum jahil.

“Bukan gitu,” bantah Lily, meski ia sendiri tak sepenuhnya yakin bantahannya benar. “Aku cuma... penasaran.”

Tantri mengangkat bahu. “Ya udah, samperin aja. Paling nggak dia gigit.”

Malam itu, Lily berbaring di kasurnya, menatap langit-langit, memutuskan bahwa besok ia akan melakukannya, bukan karena nasihat Tantri, melainkan karena kenangan tentang kakeknya di pemakaman terus muncul kembali setiap kali ia memikirkan Raka, seolah dua hal itu, entah bagaimana, saling terhubung dalam sebuah pola yang belum sepenuhnya ia pahami.

•  •  •

Kantin kampus siang itu ramai seperti biasa, suara obrolan yang tumpang tindih, denting sendok dan piring, aroma bumbu kacang dan kaldu yang bercampur menjadi satu di udara yang lembap oleh uap masakan. Raka duduk di meja pojok yang sudah menjadi tempatnya secara tak resmi sejak minggu pertama kuliah, semangkuk bakso mengepul di depannya.

Sebuah nampan diletakkan di seberang mejanya.

Ia mendongak, dan mendapati Lily berdiri di sana, tersenyum kecil, sudah duduk sebelum benar-benar mendapat jawaban.

“Boleh gabung?” tanyanya, lebih sebagai pemberitahuan daripada permintaan izin.

“Kamu... yakin? Biasanya orang-orang nggak, ”

“Aku bukan orang-orang,” potong Lily.

“Kamu duduk sendirian terus,” katanya kemudian, bukan sebagai pertanyaan, melainkan pengamatan sederhana. “Setiap hari, dari minggu pertama.”

“Orang-orang nggak nyaman deket-deket aku.”

“Kenapa?”

Tak ada orang yang pernah benar-benar bertanya kenapa. Lily adalah yang pertama, dalam waktu yang sangat lama, yang benar-benar ingin tahu jawabannya.

Raka melirik jam tangannya secara refleks, kebiasaan yang telah mendarah daging selama bertahun-tahun.

Lihat selengkapnya