Tiga hari sebelum menemukan map-map itu, mereka menghabiskan sore demi sore di ruang baca umum perpustakaan, berbagi satu laptop, bergantian mengetik kata kunci ke katalog digital kampus yang lebih sering menampilkan hasil tak relevan daripada yang berguna, skripsi tentang pariwisata Dieng, jurnal tentang geologi dataran tinggi, artikel tentang festival budaya tahunan yang sama sekali tak menyinggung apa yang mereka cari.
“Coba ‘penunggu pintu’,” usul Raka pada sore kedua, frustrasi mulai terasa di suaranya.
Lily mengetik, menggeleng pada hasil yang muncul. “Nggak ada. Coba ‘Sande Kala’ aja langsung.”
Hasil yang muncul hanya satu, sebuah tesis lama tentang istilah-istilah kosmologi Jawa yang jarang dipakai, disimpan di ruang arsip lantai tiga, tak pernah didigitalkan sepenuhnya. Mereka berdua saling pandang, dan tanpa perlu bicara, langsung berdiri bersama menuju lift.
• • •
Ruang arsip di lantai tiga perpustakaan pusat kampus jarang dikunjungi mahasiswa mana pun kecuali mereka yang benar-benar terpaksa, rak-rak kayu tua yang menjulang tinggi, bau kertas lapuk yang bercampur dengan debu bertahun-tahun, dan penerangan temaram yang membuat ruangan itu terasa seperti dunia tersendiri, terpisah dari hiruk-pikuk kampus di lantai-lantai bawahnya.
Lily sudah duduk di salah satu meja panjang ketika Raka tiba, dikelilingi tumpukan buku dan map arsip yang sudah ia kumpulkan sejak pagi.
“Aku nemu sesuatu,” katanya, tanpa basa-basi, begitu Raka duduk di sebelahnya. Matanya berbinar dengan semangat yang hanya dimiliki seseorang yang baru saja menemukan potongan puzzle yang telah lama dicari.
Ia mendorong sebuah map tua ke arah Raka, salinan mikrofilm dari catatan seorang antropolog Belanda yang meneliti kepercayaan lokal di Jawa Tengah pada awal abad kedua puluh.
“Lihat ini,” kata Lily, menunjuk sebuah paragraf yang telah ia garis bawahi dengan pensil. “Ini tentang konsep ‘jangkar’ dalam kepercayaan Jawa kuno, bukan jangkar kapal, tapi... penjaga pintu.”
Raka membaca paragraf itu perlahan, jantungnya mulai berdebar semakin cepat dengan setiap kalimat.
“Menurut kepercayaan yang dianut sebagian masyarakat di lereng Dieng,” bunyi terjemahan itu, “terdapat sosok yang disebut sebagai ‘Jangkar’, seorang penjaga yang tugasnya menahan pintu antara dunia manusia dan sebuah ruang kosong yang disebut Loka Sunya, tempat di mana batas antara hidup dan mati menjadi kabur. Sosok Jangkar dipilih bukan atas kemauannya sendiri, melainkan diwariskan lewat garis darah tertentu, dan tugas ini konon tak bisa ditolak begitu diaktifkan.”
Di margin halaman itu, ada catatan tangan kecil yang nyaris tak terlihat, ditambahkan oleh penerjemah entah kapan: segala ikatan dengan Sande Kala terikat pada kata yang diucapkan, bukan pada maksud di baliknya, leluhur menyebutnya ‘hukum lidah’, sebab kekosongan tak mengenal niat, hanya bunyi. Lily membacanya sekilas, mengangguk tanpa benar-benar menangkap pentingnya, dan melanjutkan ke paragraf berikutnya.
“Tak bisa ditolak,” ulang Raka, suaranya tiba-tiba tajam, mengejutkan Lily yang menoleh cepat ke arahnya. “Jadi nggak ada pilihan sama sekali? Aku cuma... kebagian?”
Ia berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan suara berderit yang terlalu keras untuk ruang arsip yang sunyi. “Aku nggak pernah minta ini, Lily. Aku nggak pernah minta liat orang mati. Aku nggak pernah minta jadi transparan. Dan sekarang buku ini bilang aku bahkan nggak boleh nolak?”
“Raka, ”
“Semua orang di hidupku dapet pilihan,” potongnya, suaranya bergetar antara marah dan sesuatu yang lebih rapuh. “Ibu milih jadi Jangkar, atau setidaknya dia dibesarin buat itu. Wiryo, katanya, punya kesempatan buat lari malam itu. Aku? Aku cuma anak tiga belas tahun yang kebetulan masih megang tangan Ibu waktu dia sekarat. Itu doang. Itu bukan pilihan. Itu kecelakaan yang nempel di dalam diriku selamanya.”
Lily tak langsung menjawab, membiarkan kemarahan itu mengambang di udara alih-alih buru-buru meredamnya dengan penghiburan yang terlalu cepat. “Kamu benar,” katanya akhirnya. “Itu bukan pilihan kamu. Dan kamu berhak marah soal itu.”
Raka duduk kembali, perlahan, kemarahannya mereda menjadi sesuatu yang lebih berat, kelelahan dari seseorang yang telah marah tentang hal yang sama begitu lama hingga marah pun terasa melelahkan. “Aku cuma pengin jadi orang biasa,” katanya, nyaris berbisik. “Aku pengin punya masalah yang orang lain juga punya. Nilai ujian. Putus cinta. Bukan... bukan ini.”
“Aku tahu,” kata Lily, menggenggam tangannya. “Tapi kamu juga nggak harus nerima ini sebagai satu-satunya bagian dari diri kamu. Kamu bukan cuma Jangkar, Raka. Kamu juga orang yang suka gambar Goku bareng temen SMP kamu. Orang yang masih simpen surat yang nggak pernah kamu kirim. Beban ini nempel di kamu, tapi dia bukan kamu.”
Raka menatapnya lama, kata-kata itu menyentuh sesuatu yang tak pernah ia dengar dari siapa pun sebelumnya, bukan penghiburan kosong, melainkan sebuah pengakuan bahwa identitasnya lebih besar dari beban yang ia bawa, meski beban itu terasa begitu menguasai setiap hari hidupnya.
“Loka Sunya,” gumam Raka, mengulang kata itu seolah mengujinya di lidahnya sendiri. “Ruang kosong.”