3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #15

Manifestasi 03:17

Selama dua minggu berikutnya, hidup Raka terbagi menjadi dua ritme yang berjalan bersamaan, pencarian yang semakin intens bersama Lily di sore hari, dan manifestasi 03:17 yang mulai muncul di tempat-tempat yang semakin sulit ia sembunyikan.

Di perpustakaan, suhu ruangan anjlok tepat pukul tiga lewat tujuh belas, membuat puluhan mahasiswa yang sedang belajar untuk ujian tengah semester menggosok-gosok lengan mereka dengan bingung.

Di pusat perbelanjaan, jam tangan digital di etalase sebuah toko elektronik tiba-tiba semuanya menunjukkan angka yang sama secara bersamaan, sebelum kembali normal beberapa detik kemudian.

Di masjid kampus, tempat Raka kadang duduk sendirian di teras belakang untuk sekadar mencari ketenangan tanpa benar-benar shalat, seorang muazin muda yang sedang mempersiapkan alat pengeras suara melaporkan kepada pengurus masjid bahwa mikrofon tiba-tiba mengeluarkan dengung aneh selama beberapa detik, tepat pukul tiga sore, sebelum kembali normal, sebuah kejadian kecil yang tak ada yang menghubungkannya dengan pemuda yang duduk termenung di sudut teras hari itu, kecuali Raka sendiri, yang buru-buru berdiri dan pergi sebelum ada yang bertanya-tanya.

Yang paling menakutkan bagi Raka terjadi di jalan raya, dalam perjalanan pulang bersama Lily yang mengendarai motor tuanya melewati perempatan yang padat, lampu-lampu lalu lintas di seluruh perempatan itu berkedip merah secara serentak selama tujuh detik penuh.

“Makin sering,” kata Raka suatu malam, duduk di teras rumah Tante Rina bersama Lily. “Dulu cuma di sekitar aku doang. Sekarang kayak... nyebar. Lebih kuat.”

Lily menatapnya, kekhawatiran yang tak lagi coba ia sembunyikan tergambar jelas di wajahnya. “Aku juga notice itu. Menurut catatan yang aku baca, semakin lama Jangkar nahan beban tanpa ‘diperkuat’, semakin lemah pintu yang dia jaga.”

“Jadi aku bukan cuma memudar,” katanya pelan. “Aku juga makin nggak sanggup nahan pintunya.”

• • •

Suatu sore, Tante Rina, yang kebetulan pulang lebih awal, mendapati Raka dan Lily duduk berdampingan di ruang tamu, dikelilingi map-map fotokopi dan catatan tangan yang berserakan di lantai, termasuk, tanpa sempat Raka sembunyikan tepat waktu, sebuah halaman yang bertuliskan besar-besar kata JANGKAR dan LOKA SUNYA di bagian atasnya.

Tante Rina berhenti di ambang pintu, matanya menyapu kertas-kertas itu lebih lama dari yang biasa ia lakukan. “Ini apa?” tanyanya, suaranya berubah, kehilangan nada jahil yang biasa ia pakai.

“Tugas kuliah, Tante,” kata Raka, cepat, terlalu cepat.

“Tugas kuliah,” ulang Tante Rina, pelan, menatap Raka lurus-lurus dengan sebuah ekspresi yang belum pernah Raka lihat sebelumnya di wajah bibinya, bukan lagi kekhawatiran yang biasa, melainkan sesuatu yang lebih tajam, lebih terluka. “Raka, Tante bukan orang bodoh. Tante lihat kata-kata itu. Tante denger kamu ngomong sendiri di kamar, jam tiga sore, hampir tiap hari, sejak kamu SMP. Tante pura-pura nggak denger karena Tante pikir itu cara kamu buat ngadepin kehilangan Ibu Ayah kamu. Tapi ini,” ia menunjuk kertas-kertas itu, “ini bukan cara ngadepin kehilangan. Ini kayak kamu udah tahu sesuatu yang Tante nggak pernah tahu.”

Ruang tamu itu hening, Lily duduk kaku, tak yakin apakah ia harus bicara atau diam.

“Tante,” kata Raka, suaranya bergetar, “ini rumit, ”

“Tujuh tahun,” potong Tante Rina, suaranya kini bergetar juga, namun oleh sesuatu yang lebih dekat dengan kemarahan daripada kesedihan. “Tujuh tahun Tante bangunin kamu tiap kamu mimpi buruk, Tante bawa kamu ke lima psikolog, Tante habisin tabungan buat itu semua, dan kamu masih mikir Tante nggak cukup dewasa buat denger yang sebenarnya? Kamu kenal cewek ini,” ia menunjuk ke arah Lily, tanpa maksud kasar, hanya frustrasi yang meluap, “berapa lama? Sebulan? Dan dia udah tahu lebih banyak soal kamu daripada Tante yang udah tujuh tahun jadi ibu kamu?”

Kata-kata itu menghantam Raka lebih keras daripada yang bisa ia bayangkan, karena setiap kata itu benar.

“Tante bukan ibu kamu,” lanjut Tante Rina, suaranya melunak sedikit namun matanya masih berkaca-kaca, “tapi Tante udah coba jadi sedeket itu. Dan rasanya sakit banget tahu kamu lebih milih diem sama Tante daripada risiko bikin Tante khawatir. Itu bukan ngelindungin Tante, Raka. Itu ngejauhin Tante.”

Ia berbalik, berjalan ke kamarnya sendiri, menutup pintu dengan pelan, bukan dibanting, yang entah kenapa terasa jauh lebih menyakitkan bagi Raka daripada jika pintu itu dibanting keras-keras.

Lihat selengkapnya