3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #16

Pertengkaran Pertama

Pertengkaran itu dimulai dari sesuatu yang sepele, setidaknya begitulah awalnya, sebelum berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang pernah mereka bicarakan sebelumnya.

Sore itu, sebelum pertengkaran dimulai, mereka sempat mengunjungi toko buku bekas dekat kampus, sekadar mencari udara segar setelah berhari-hari terkurung di ruang arsip dan kamar kos. Raka menemukan sebuah novel lama yang pernah dibaca ayahnya, edisi yang sama persis dengan yang tergeletak terbuka di meja ruang tamu rumah lama, dan ia berdiri lama di depan rak itu, jarinya menyusuri punggung buku tanpa benar-benar mengambilnya.

“Kamu oke?” tanya Lily, memperhatikan keheningannya.

“Ayah aku suka baca ini,” kata Raka, akhirnya mengambil buku itu, menimangnya di tangan. “Aku nggak pernah sempet baca sendiri. Selalu mikir, nanti aja, pas udah gede.”

Ia membeli buku itu, memasukkannya ke tas tanpa berkata banyak, dan momen kecil itu, kesedihan yang tiba-tiba muncul lalu menghilang secepat kedatangannya, entah bagaimana ikut menumpuk bersama semua hal lain yang telah lama ia pendam, hingga akhirnya pecah beberapa jam kemudian di kamar kos Lily, dipicu oleh sesuatu yang jauh lebih kecil dari yang seharusnya bisa memicu ledakan sebesar itu.

•  •  •

Mereka duduk di kamar kos Lily malam sebelum rencana keberangkatan ke Braga, mengatur jadwal, membicarakan alasan apa yang akan mereka sampaikan ke dosen untuk absen dua hari, memeriksa ulang rute kereta yang akan mereka tumpangi.

“Aku udah pesen dua tiket,” kata Lily, menunjukkan layar ponselnya. “Berangkat besok pagi jam tujuh.”

Raka menatap layar itu lama, sesuatu yang berat mulai mengendap di dadanya sejak beberapa hari terakhir, sesuatu yang terus ia coba abaikan namun kini tak lagi bisa ia tahan.

“Aku pergi sendiri aja,” katanya akhirnya, suaranya datar, mencoba terdengar seyakin mungkin meski jauh di dalam dirinya ia tahu betapa rapuhnya keputusan itu.

Lily menatapnya, terkejut. “Apa maksud kamu? Kita udah rencanain ini bareng, ”

“Aku nggak mau kamu ikut,” potong Raka, lebih tegas dari yang ia inginkan, sebuah ketegasan yang lahir bukan dari kemarahan melainkan dari ketakutan yang telah lama ia pendam. “Ini terlalu berbahaya, Lily. Kamu udah lihat sendiri apa yang terjadi setiap hari. Makin parah. Aku nggak mau kamu kena dampaknya.”

“Aku juga bisa lihat mereka,” bantah Lily, berdiri dari kursinya, suaranya mulai meninggi. “Itu berarti aku juga bagian dari ini, entah kamu suka atau nggak.”

“Itu justru yang aku takutin!”

Suara Raka pecah, lebih keras dari yang ia maksudkan, mengejutkan mereka berdua sekaligus.

Lihat selengkapnya