Kereta menuju Bandung berangkat pukul tujuh pagi, gerbong ekonomi yang mereka tumpangi separuh kosong pada jam sepagi itu, hanya diisi beberapa pedagang yang membawa karung-karung besar dan seorang ibu dengan anak balita yang tertidur di pangkuannya sepanjang perjalanan.
Raka duduk di kursi dekat jendela, menatap sawah-sawah yang berlari mundur di luar kaca, pikirannya melayang ke percakapan semalam dengan Tante Rina, ia sempat menelepon sebelum tidur, mengatakan akan pergi study tour dengan teman kuliah selama dua hari, sebuah kebohongan kecil yang terasa lebih berat di lidahnya daripada yang seharusnya.
“Kamu kepikiran soal Tante lagi?” tanya Lily, yang duduk di sebelahnya, memperhatikan wajahnya.
“Aku bohong ke dia,” aku Raka. “Selama ini aku selalu bilang ke diri sendiri aku bohong buat lindungin dia. Tapi kadang aku mikir, mungkin aku cuma pengecut.”
Lily tak langsung menjawab, membiarkan kereta bergerak beberapa saat dalam diam sebelum berkata, “Kamu bukan pengecut. Kamu cuma belum siap. Itu beda.”
“Kamu juga bohong ke ibumu,” kata Raka, menoleh kepadanya. “Soal mau ke mana akhir pekan ini.”
Lily mengangkat bahu, mencoba terdengar ringan, meski sesuatu di wajahnya mengeras sedikit. “Itu beda. Aku nggak takut ibuku khawatir soal aku fisik. Aku takut dia mikir aku... mulai kayak dia.”
“Maksudnya?”
Lily menghela napas, menatap keluar jendela sejenak sebelum menjawab. “Ibuku dulu punya kepekaan yang sama kayak aku, tapi lebih kuat. Waktu dia masih muda. Terus dia berhenti make-nya sama sekali, nggak pernah cerita kenapa. Aku baru tahu belakangan, dari bibiku, kalau dulu di kampung, orang-orang mulai jauhin dia gara-gara itu. Dibilang aneh. Susah dapet jodoh. Akhirnya dia belajar buat nggak pernah nunjukkin itu lagi, bahkan ke suaminya sendiri, sampai ayahku meninggal dan dia nggak sempet lagi jelasin ke aku kenapa dia kayak gitu.”
Raka menatapnya, mendengar sesuatu yang baru, sesuatu yang tak ada hubungannya dengan dirinya sama sekali. “Kamu takut jadi kayak dia?”
“Aku takut kepekaan ini makin kuat seiring aku makin tua,” aku Lily, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Sama kayak ibuku. Dan aku takut, kalau itu kejadian, aku bakal harus milih, terus jadi diri aku yang sebenarnya dan jadi ‘aneh’ kayak yang orang-orang bilang ke ibuku, atau matiin itu semua kayak yang dia lakuin, dan kehilangan bagian dari diri aku yang justru bikin aku bisa liat kamu dari awal.”
Ini bukan sesuatu yang pernah ia ceritakan kepada siapa pun, dan mengucapkannya keras-keras, di gerbong kereta yang berderak menuju sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari ketakutan pribadinya sendiri, terasa aneh sekaligus melegakan.
“Kamu nggak harus milih itu sekarang,” kata Raka, menggenggam tangannya. “Dan kalau kamu emang harus milih suatu hari nanti, aku bakal ada, bantuin kamu apa pun yang kamu pilih. Bukan cuma kamu yang bantuin aku.”
Lily tersenyum, sebuah senyum kecil namun tulus, dan untuk sisa perjalanan itu, mereka duduk dalam diam yang tak lagi hanya berisi ketakutan tentang Sande Kala, melainkan juga ruang bagi ketakutan Lily sendiri yang, untuk pertama kalinya, tak lagi ia tanggung sendirian.
• • •
Perjalanan dari stasiun menuju Braga pagi itu mereka lalui dengan angkot yang penuh sesak, jendela-jendela buram oleh embun. Sepanjang jalan Lily membuka catatannya, membaca ulang teori-teori yang telah mereka kumpulkan, sesuatu untuk dipegang tangannya selain kegugupan.
“Kalau dia nggak mau buka pintu?” tanya Raka, menatap keluar jendela angkot yang berembun.
“Kita coba lagi besok,” jawab Lily, sederhana, seolah kegagalan hanyalah bagian normal dari rencana, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. “Kita di sini sampai ketemu jawabannya, Raka. Nggak ada rencana B yang lebih baik dari itu.”