Pak Yanto menyeduh tiga cangkir teh dengan tangan yang masih sedikit gemetar, meletakkannya di atas meja kerja yang dipenuhi peralatan reparasi jam yang telah lama tak tersentuh untuk pekerjaan yang sebenarnya. Ia duduk kembali, menatap uap tipis yang mengepul dari cangkirnya sendiri untuk waktu yang lama sebelum akhirnya mulai bicara.
“Tahun 1989,” katanya, suaranya berat oleh kenangan yang telah lama ia coba kubur, “saya masih muda, baru belajar jadi tukang jam di bengkel guru saya, di jalan ini juga, cuma beberapa bangunan dari sini. Suatu sore, seorang perempuan datang bawa jam saku antik yang rusak, minta diperbaiki.”
Matanya menerawang jauh, seolah melihat kembali sosok yang sudah puluhan tahun tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
“Namanya Siti Rahayu.”
Ia berhenti sejenak, seolah mengucapkan nama itu keras-keras setelah bertahun-tahun hanya menyimpannya dalam hati adalah sesuatu yang membutuhkan keberanian tersendiri.
“Jam yang dia bawa itu, ” Pak Yanto menunjuk ke sebuah kotak kaca kecil yang tergantung di dinding, tempat sebuah jam saku antik dipajang dengan hati-hati, jarumnya, seperti semua jam lain di ruangan itu, membeku di pukul tiga lewat tujuh belas menit. “, itu jamnya. Jam yang sama yang kalian cari.”
Raka menatap jam itu dengan napas tertahan, mengenali bentuknya dari deskripsi yang pernah ia baca di manuskrip tua bersama Lily, jam saku buatan Cornelius van der Berg, jam yang telah membuka pintu di Dieng seratus tiga tahun lalu, jam yang entah bagaimana telah berpindah tangan, melintasi generasi, hingga sampai ke bengkel kecil ini.
“Siti,” lanjut Pak Yanto, “adalah Jangkar. Sudah sejak dia masih anak-anak, katanya, diwariskan dari ibunya, yang diwariskan dari ibunya lagi, garis keturunan yang entah sudah berapa lama menjaga pintu itu tanpa pernah benar-benar diketahui dunia luar. Saya nggak tahu soal itu waktu pertama kali ketemu dia. Saya cuma tahu, dia perempuan paling menarik yang pernah saya temui, dan saya jatuh cinta secepat itu, secepat dia masuk pintu bengkel guru saya sore itu.”
Ia tersenyum getir, sebuah senyum yang menyimpan lebih banyak duka daripada kebahagiaan.
“Kami deket selama dua tahun. Dia nggak pernah cerita detail soal apa yang dia jaga, cuma bilang ada beban keluarga yang harus dia tanggung, dan kadang, di malam-malam tertentu, dia bakal ngilang tanpa penjelasan, pulang dengan wajah pucat dan mata yang kelihatan udah nangis lama. Saya nggak pernah maksa dia cerita. Saya pikir, kalau dia siap, dia bakal cerita sendiri.”
Pak Yanto berhenti sejenak, matanya menerawang ke arah jendela kecil di sudut bengkel, seolah bisa melihat kembali bayangan hari-hari itu di kaca yang buram oleh debu. “Kami suka jalan Minggu pagi ke Gasibu, beli cendol, duduk di bawah pohon. Dia suka ketawa keras banget kalau denger lelucon jelek, makin jelek leluconnya, makin keras dia ketawa. Saya sengaja nyari lelucon paling jelek yang bisa saya temuin cuma buat denger dia ketawa kayak gitu.”
Ia diam sejenak, seolah membiarkan kenangan itu mengendap sebelum melanjutkan ke bagian yang lebih berat untuk diceritakan. “Saya sempet mikir mau lamar dia. Udah nabung buat cincin. Nggak pernah sempet.”
• • •
Lily menggenggam cangkir tehnya erat-erat, mendengarkan dengan seksama, matanya tak lepas dari wajah lelaki tua di hadapannya yang kini membuka luka lama yang telah ia jaga sendirian selama lebih dari tiga dekade.
“Malam itu,” lanjut Pak Yanto, suaranya mulai bergetar, “tanggal empat belas Agustus, 1989. Dia dateng ke bengkel, tengah malam, ngetok pintu dengan panik. Bilang, pintunya lemah. Bilang, sesuatu bakal nyerang malam itu, dan dia butuh saya nemenin dia, karena dia nggak sanggup lagi sendirian.”
Ia menutup matanya sejenak, seolah masih bisa merasakan dinginnya malam itu, tiga puluh tujuh tahun kemudian.