3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #19

Serangan Sande Kala

Mereka masih duduk di bengkel itu ketika jam tangan Raka menunjukkan pukul tiga lewat empat belas menit, dan kali ini, sesuatu terasa berbeda dari biasanya, sebuah tekanan di udara yang jauh lebih berat, jauh lebih mengancam daripada manifestasi rutin yang selama ini ia hadapi setiap hari.

“Kamu rasain itu?” tanya Lily, suaranya tegang, matanya mulai menyapu ruangan dengan kewaspadaan yang tiba-tiba.

Pak Yanto berdiri mendadak dari kursinya, wajahnya pucat pasi, mata tuanya melebar oleh sebuah ketakutan yang belum pernah Raka lihat sebelumnya di wajah lelaki itu sepanjang percakapan mereka. “Ini beda,” katanya, suaranya bergetar. “Ini... ini kayak malam itu. Malam Siti nyaris nggak selamat.”

Seluruh jam di dinding bengkel itu, ratusan yang selama tiga puluh tujuh tahun terakhir tak pernah bergerak sedikit pun, tiba-tiba mulai berdetak bersamaan, bukan detak normal, melainkan sebuah getaran yang begitu keras hingga kaca-kaca yang membingkai beberapa jam mulai retak, jarum-jarum yang telah lama membeku kini bergerak liar, berputar mundur dan maju dengan kecepatan yang tak masuk akal.

“Dia tahu kamu di sini,” bisik Pak Yanto, menatap Raka dengan kengerian yang tulus. “Dia tahu Jangkarnya lemah, dan dia tahu ini kesempatan.”

Pukul tiga lewat tujuh belas menit.

Suhu ruangan anjlok begitu drastis hingga napas ketiganya langsung mengembun tebal, dan sebuah retakan hitam mulai terbuka di dinding belakang bengkel, bukan sekadar bayangan seperti yang biasa muncul di sekeliling Raka, melainkan sesuatu yang jauh lebih nyata, sebuah robekan di udara itu sendiri, tepiannya berdenyut seperti luka yang baru dibuka, mengeluarkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Dari dalam robekan itu, sesosok bayangan besar mulai merangsek keluar, jauh lebih besar dari yang pernah Raka bayangkan berdasarkan deskripsi di catatan-catatan lama yang ia baca, tubuhnya mengisi hampir separuh ruangan bengkel yang sempit, ribuan mata berkedip di seluruh permukaannya, ribuan tangan dengan jari-jari terlalu panjang meraih ke segala arah.

“LILY, MUNDUR!” teriak Raka, mendorong tubuhnya sendiri ke depan, berdiri di antara makhluk itu dan gadis yang baru enam minggu lalu memasuki hidupnya namun kini terasa seperti satu-satunya hal yang ingin ia lindungi lebih dari apa pun.

Lily tak mundur. Ia justru meraih sebilah palu kecil dari meja kerja Pak Yanto, senjata yang jelas tak sepadan menghadapi makhluk sebesar dan seasing itu, namun sebuah tindakan yang menunjukkan dengan jelas bahwa ia tak berniat meninggalkan Raka sendirian menghadapinya, apa pun risikonya.

“Aku udah janji nggak akan lari!” teriaknya, suaranya bergetar oleh ketakutan namun tak sedikit pun goyah dalam tekadnya.

Salah satu tangan panjang makhluk itu menyapu ke arah rak-rak jam di dinding, menghancurkan puluhan koleksi Pak Yanto dalam sekali sabetan, pecahan kaca dan kayu berhamburan ke seluruh ruangan. Pak Yanto berteriak, bukan karena koleksinya hancur, melainkan karena salah satu pecahan kayu yang melesat mengenai lengannya, membuat darah segera merembes di kemeja putihnya yang sederhana.

“Pak!” Lily bergegas ke arahnya, mencoba membantu lelaki tua itu menjauh dari jangkauan makhluk yang terus mendekat.

Raka merasakan sesuatu bergolak di dalam dadanya, bukan hanya ketakutan, melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terasa seperti empat puluh tujuh suara yang selama ini tertidur di dalam dirinya kini mulai terbangun, mendesak untuk keluar, seolah mereka juga merasakan ancaman yang sama dan ingin membantu dengan cara mereka sendiri.

Tangannya mulai bersinar.

Cahaya emas yang samar, jauh lebih lemah dari yang pernah ia baca dalam catatan tentang Kyai Sadewo maupun neneknya Siti Rahayu, namun tetap saja nyata, mengalir dari ujung jarinya seperti api kecil yang baru saja dinyalakan.

“AKU JANGKARNYA!” teriaknya, mengingat kata-kata yang pernah diucapkan Kyai Sadewo seratus tiga tahun lalu, kata-kata yang telah ia baca berulang-ulang dalam catatan arsip hingga hafal di luar kepala. “KAU NGGAK BISA MASUK!”

Lihat selengkapnya