Mereka memutuskan untuk menunggu hingga fajar.
Pak Yanto, meski lengannya masih dibalut kain yang ia rawat sendiri dengan keahlian yang mengejutkan bagi seorang tukang jam, bersikeras bahwa mereka butuh waktu untuk mempersiapkan diri, bukan secara fisik, karena tak ada senjata atau perlengkapan yang bisa benar-benar mempersiapkan seseorang untuk memasuki sebuah dimensi antara hidup dan mati, melainkan secara batin, sebuah persiapan yang jauh lebih sulit dijelaskan namun, menurutnya, jauh lebih penting.
“Siti selalu bilang,” katanya, duduk di kursi kerjanya yang kini dikelilingi puing-puing bengkel yang hancur, “kalau mau masuk ke tempat seperti itu dengan hati yang penuh ketakutan, pintu itu bakal makan ketakutan kalian duluan sebelum kalian sempat ngelakuin apa pun. Tapi kalau masuk dengan hati yang tenang, meski takut, setidaknya kalian masih bisa mikir jernih.”
Malam itu, sementara Pak Yanto beristirahat di sudut bengkel yang masih tersisa, Raka duduk di trotoar depan bengkel, menatap gang sempit Braga yang mulai sepi seiring larut malam merambat. Lily duduk di sebelahnya, kedua kaki mereka terjulur ke jalanan yang masih hangat oleh sisa panas siang.
“Aku harus telepon Tante Rina,” kata Raka akhirnya, memecah keheningan yang telah lama mengambang di antara mereka. “Kalau... kalau ini beneran bahaya kayak yang Pak Yanto bilang, aku nggak mau dia denger kabar ini dari orang lain.”
Lily mengangguk, memberinya ruang, dan Raka mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Panggilan itu tersambung setelah dua dering, suara Tante Rina yang lelah namun hangat menyapa dari ujung telepon, jelas baru saja pulang dari shift malamnya di rumah sakit.
“Raka? Kamu di mana, Nak? Udah malem, ”
“Tante,” potong Raka, suaranya berusaha tenang meski dadanya sesak oleh sesuatu yang sulit ia ucapkan. “Aku lagi di Bandung. Sama temen kuliah. Ada... ada urusan penting yang harus aku selesain.”
Keheningan sejenak di ujung telepon, sebuah keheningan yang Raka kenal betul, kekhawatiran yang Tante Rina coba tahan, seperti biasa, demi tak membebani keponakannya dengan kecemasannya sendiri.
“Urusan apa?” tanyanya akhirnya, hati-hati.
Raka menutup matanya sejenak. Ia tak bisa menjelaskan semuanya, tak ada cara untuk menjelaskan Loka Sunya, Sande Kala, empat puluh tujuh arwah, kepada seseorang yang selama tujuh tahun ini hanya bisa menyaksikan dari kejauhan tanpa pernah benar-benar memahami apa yang terjadi pada keponakannya setiap pukul tiga lewat tujuh belas menit.
“Urusan keluarga,” katanya akhirnya, sebuah kebohongan kecil yang, anehnya, terasa lebih jujur daripada kedengarannya, karena bagaimanapun, ini memang tentang keluarga, tentang ibunya, tentang neneknya yang bahkan tak pernah ia kenal namanya sampai beberapa jam lalu. “Tante, aku cuma mau bilang... makasih. Buat semuanya. Buat tujuh tahun ini.”
“Raka, kamu ngomong kayak orang mau pamit,” suara Tante Rina mulai bergetar, kekhawatiran yang selama ini ia tahan mulai pecah di permukaan. “Ada apa sebenarnya?”
“Nggak ada apa-apa,” Raka berusaha meyakinkannya, meski suaranya sendiri tak sepenuhnya percaya pada kata-katanya sendiri. “Aku cuma... aku sayang Tante. Itu aja.”
Setelah panggilan itu berakhir, Raka duduk diam untuk waktu yang lama, menatap layar ponselnya yang kini gelap, sebelum akhirnya Lily meletakkan tangannya di atas tangan Raka, sebuah sentuhan yang tak butuh kata-kata untuk menyampaikan pengertian yang mendalam.
“Kamu nggak bilang semuanya ke dia,” katanya, bukan sebagai tuduhan, melainkan sebuah pengamatan yang penuh empati.