3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #21

Pembebasan 46 Jiwa

Reruntuhan candi itu tampak berbeda di bawah cahaya pagi dibanding bayangan yang selama ini terbentuk di kepala Raka dari catatan-catatan tua yang telah ia baca berulang kali. Bukan tempat yang menyeramkan dalam arti sederhana, justru sebaliknya, ada ketenangan aneh yang menyelimuti reruntuhan itu, batu-batu berlumut yang telah berdiri ratusan tahun, dikelilingi pohon-pohon tua yang akarnya menjalar di antara celah-celah prasasti yang mulai runtuh dimakan waktu. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara bebatuan, meski matahari sudah mulai meninggi di ufuk timur.

Pak Yanto tak ikut, luka di lengannya, meski sudah dibalut, membuatnya terlalu lemah untuk perjalanan sejauh ini, dan lebih dari itu, ia sendiri mengakui dengan suara yang berat bahwa ia tak yakin sanggup menyaksikan tempat yang telah merenggut begitu banyak dari hidupnya, dari jauh maupun dekat. Sebagai gantinya, ia membekali mereka dengan sebuah kompas kuno yang telah lama tersimpan di bengkelnya, bukan kompas biasa, melainkan alat peninggalan Cornelius van der Berg sendiri, yang jarumnya, alih-alih menunjuk utara, akan menunjuk ke titik di mana pintu antara dua dunia berada paling tipis.

Jarum kompas itu kini bergetar liar, mengarah tepat ke sebuah altar batu di tengah reruntuhan, altar yang sama, Raka menyadarinya dengan dada berdebar, yang pernah ia baca dalam catatan tentang malam seratus tiga tahun lalu, tempat Kyai Sadewo pertama kali menjadi Jangkar, tempat empat puluh enam penduduk Desa Sembungan pertama kali terperangkap di antara dua dunia.

“Ini tempatnya,” bisik Raka, suaranya bergetar oleh sebuah pengenalan yang aneh, seolah, meski baru pertama kali menginjakkan kaki di sini, sebagian dari dirinya, sebagian dari empat puluh tujuh suara yang tinggal di dalamnya, telah lama mengenal setiap sudut reruntuhan ini.

Lily menggenggam tangannya, matanya menyapu sekeliling dengan kewaspadaan yang sama seperti yang ia tunjukkan di bengkel Pak Yanto malam sebelumnya. “Kamu tahu apa yang harus dilakuin?”

Raka menggeleng jujur. “Nggak sepenuhnya. Tapi aku rasa... aku bakal tahu begitu waktunya sampai.”

• • •

Mereka menunggu di antara reruntuhan sepanjang pagi, memeriksa setiap sudut altar, membaca ulang catatan-catatan yang telah mereka kumpulkan, hingga akhirnya matahari mencapai titik tertingginya dan mulai turun kembali menuju sore.

Pukul tiga lewat empat belas menit.

Raka merasakan getaran familiar mulai menjalar di sekujur tubuhnya, namun kali ini berbeda, bukan sekadar isyarat kedatangan para arwah, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar, seolah seluruh reruntuhan itu sendiri mulai menahan napas, menunggu momen yang telah tertunda seratus tiga tahun.

“Lily,” katanya, suaranya mendadak tegang, “apa pun yang terjadi setelah ini, kamu harus tetap di dekat altar. Jangan biarkan tanganmu lepas dari tanganku, apa pun yang kamu lihat.”

Lily mengangguk, menggenggam tangannya lebih erat sebagai jawaban.

Pukul tiga lewat tujuh belas menit.

Reruntuhan itu berubah.

Bukan lagi hanya suhu yang anjlok drastis seperti biasa, kali ini, cahaya matahari sore itu sendiri kehilangan kekuatannya, meredup menjadi rona keunguan yang aneh, dunia di sekeliling mereka perlahan bertukar tempat dengan sesuatu yang lain. Batu-batu candi mulai berpendar dengan cahaya samar berwarna keemasan, mengikuti pola-pola ukiran kuno yang telah lama tersembunyi di balik lumut, reruntuhan itu sendiri terbangun dari tidur panjangnya.

Empat puluh tujuh sosok mulai bermunculan di sekeliling altar, namun kali ini bukan sekadar bayangan samar yang biasa muncul sekilas sebelum menghilang lagi, mereka tampak lebih jelas, lebih nyata, wajah-wajah yang meski masih transparan kini bisa dikenali satu per satu: seorang perempuan tua yang menggendong bakul, seorang anak lelaki yang tak lebih tua dari sepuluh tahun, sepasang suami istri yang masih saling menggenggam tangan meski telah seratus tiga tahun terpisah dari dunia yang mereka kenal.

Raka merasakan air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan, menyaksikan mereka dari dekat, bukan lagi sebagai bayangan menakutkan yang selama tujuh tahun ia coba usir dari hidupnya, melainkan sebagai manusia, orang-orang yang pernah memiliki nama, keluarga, ladang yang mereka garap, anak-anak yang mereka besarkan, sebelum semuanya direnggut dalam satu malam yang bahkan tak pernah mereka pahami sepenuhnya.

“Aku bisa denger mereka,” bisik Raka, suaranya penuh keharuan. “Bukan cuma suara. Aku bisa denger... nama mereka.”

Ia menyebutkannya satu per satu, nama-nama yang muncul begitu saja di kepalanya, telah lama tersimpan menunggu untuk akhirnya diucapkan keras-keras: Mbok Darmi, si penjual jamu yang hilang dalam perjalanan pulang dari pasar. Kang Slamet, petani muda yang baru menikah tiga bulan sebelum malam itu. Ni Sukesih dan suaminya, Pak Wongso, yang telah bersama sejak kanak-kanak dan bahkan kematian tak sanggup memisahkan genggaman tangan mereka.

Satu sosok, seorang anak perempuan tak lebih dari tujuh tahun, mengambang paling dekat dengan Raka, matanya menatap lurus ke arahnya, ia telah lama menunggu momen ini secara khusus, itu jelas dari caranya menatap. Raka berlutut, sejajar dengan tinggi anak itu, meski tahu tangannya tak akan bisa menyentuhnya.

“Namamu Wulan,” bisiknya, nama itu muncul begitu saja, jelas seperti sesuatu yang telah lama ia hafal tanpa sadar. “Kamu suka nyanyi. Kamu nunggu ibumu pulang dari ladang malam itu, kan? Kamu nggak tahu kenapa kamu diseret ikut sama yang lain.”

Anak itu mengangguk, matanya berkaca-kaca meski tak ada air mata yang benar-benar bisa jatuh dari wujud setransparan itu. Bibirnya bergerak, membentuk kata yang tak keluar suara, namun Raka bisa membacanya dengan jelas: pulang.

“Kamu bakal pulang,” janji Raka, suaranya pecah oleh emosi yang tak lagi sanggup ia tahan. “Aku janji.”

Lihat selengkapnya