Melewati retakan itu tidak terasa seperti berjalan sama sekali, lebih seperti tenggelam ke dalam air yang tak basah, atau jatuh ke dalam tidur yang tak pernah benar-benar terasa seperti tidur. Satu detik Raka masih menggenggam tangan Lily di ambang reruntuhan candi, detik berikutnya mereka berdua berdiri di sebuah tempat yang tak memiliki bentuk yang bisa dijelaskan dengan kata-kata manusia biasa.
Loka Sunya bukanlah ruangan, bukan pula kehampaan sepenuhnya. Ia adalah sesuatu di antara keduanya, langit tak berwarna yang membentang tanpa batas ke segala arah, tanah yang terasa solid di bawah kaki namun tak pernah benar-benar terlihat, dan cahaya yang datang dari tak satu pun sumber yang bisa ditunjuk, seolah cahaya itu sendiri adalah bagian dari udara yang mereka hirup.
“Kamu masih di sini?” bisik Raka, menoleh ke arah Lily dengan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
“Masih,” jawab Lily, menggenggam tangannya lebih erat, meski suaranya sendiri terdengar sedikit gemetar oleh keanehan tempat yang kini mengelilingi mereka. “Ini... ini tempat paling aneh yang pernah aku lihat.”
Mereka berjalan bersama, tanpa benar-benar tahu ke arah mana harus melangkah, hingga sebuah bentuk mulai muncul di kejauhan, sesosok pria yang duduk sendirian di atas sebuah batu yang entah bagaimana terlihat solid di tengah kehampaan yang mengelilinginya, punggungnya membungkuk oleh beban yang tak kasat mata namun terasa begitu berat hingga bahkan dari jarak sejauh itu, Raka bisa merasakannya menekan dadanya sendiri.
Ketika mereka mendekat, sosok itu mengangkat kepalanya.
Wajahnya sama persis seperti yang pernah Raka bayangkan dari catatan-catatan yang ia baca, seorang lelaki di usia paruh baya, mengenakan seragam mandor perkebunan yang telah lusuh dimakan waktu meski tak pernah benar-benar rusak, matanya menyimpan kelelahan seratus tiga tahun yang tak sanggup dijelaskan oleh usia fisiknya sendiri.
“Akhirnya,” katanya, suaranya serak, seperti seseorang yang telah lama tak menggunakan suaranya untuk berbicara dengan siapa pun selain dirinya sendiri. “Akhirnya ada yang datang.”
“Wiryo?” Raka melangkah maju, suaranya penuh keharuan yang tak terduga, ada sesuatu yang begitu familiar dalam sosok itu, seolah sebagian dari dirinya sendiri, sebagian dari empat puluh tujuh suara yang pernah tinggal di dalamnya, mengenali lelaki ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar nama dalam catatan sejarah.
Wiryo mengangguk perlahan, matanya menyapu wajah Raka dengan sebuah pengenalan yang sama anehnya. “Kau membawa darahku,” katanya, bukan sebagai pertanyaan. “Dan darah Siti. Aku bisa merasakannya.”
“Bapak kenal nenek saya?”
“Aku merasakan setiap Jangkar yang datang setelahku,” jawab Wiryo, suaranya penuh kelelahan yang tak terbayangkan. “Setiap kali beban berpindah, sedikit dari kesadaranku ikut mengalir bersamanya. Aku merasakan Siti berjuang malam itu. Aku merasakan ibumu memberikan segalanya untukmu di dasar sungai. Dan aku merasakan kau, bertahun-tahun, menghadapi semua ini sendirian, seperti aku dulu.”
Kata-kata itu menghantam Raka dengan sebuah kesedihan yang berbeda dari yang pernah ia rasakan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seorang lelaki yang telah menunggu seratus tiga tahun, merasakan setiap penderitaan keturunan yang mewarisi bebannya, namun tak pernah bisa berbuat apa pun untuk membantu.
“Kenapa Bapak nggak pernah keluar?” tanya Lily, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu yang tulus. “Selama seratus tiga tahun?”
Wiryo tersenyum pahit, menatap kehampaan di sekelilingnya seolah tempat itu sendiri adalah jawabannya. “Pintu ini butuh penjaga di kedua sisi. Di dunia manusia, dan di sini. Kalau aku keluar tanpa ada yang menggantikan di dalam, pintunya bakal terbuka sepenuhnya. Jadi aku tinggal. Menahan. Menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Seseorang yang cukup berani buat datang ke sini,” jawab Wiryo, menatap Raka dan Lily bergantian, “dan cukup pintar buat nemuin cara supaya semua ini nggak perlu berulang lagi.”
“Bapak dulu kayak apa?” tanya Lily tiba-tiba, pertanyaan yang terdengar sederhana namun membuat Wiryo terdiam, seolah tak seorang pun pernah menanyakannya selama seratus tiga tahun ini. “Sebelum semua ini. Sebelum Bapak jadi Jangkar.”
Wiryo tersenyum, sebuah senyum yang berbeda dari yang sebelumnya, lebih ringan, seolah pertanyaan itu membuka pintu kecil menuju kenangan yang telah lama tak ia kunjungi. “Aku mandor perkebunan teh. Suka mencatat, suka angka-angka yang rapi. Aku kehilangan istri dan anakku saat melahirkan, jauh sebelum malam di candi itu. Aku pikir aku udah kehilangan segalanya yang bisa hilang dari hidupku. Ternyata aku salah.”
“Bapak nggak pernah nikah lagi?” tanya Raka, pelan.
“Gimana caranya?” Wiryo tertawa pahit. “Seminggu setelah aku jadi Jangkar, aku ngilang dari catatan sipil desa. Nggak ada yang tahu jadi apa aku. Bahkan kalau aku sempet keluar dari Loka Sunya, aku udah bukan manusia biasa lagi buat siapa pun yang masih inget aku.”
Kesunyian yang mengikuti kata-kata itu terasa lebih berat dari apa pun yang telah mereka lalui sepanjang hari itu, bukan kesunyian karena tak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena kata-kata terasa terlalu kecil untuk seratus tiga tahun kesendirian yang baru saja dijelaskan begitu ringkas oleh orangnya sendiri.
• • •
Mereka duduk bersama di atas batu yang sama, Wiryo menceritakan seratus tiga tahun yang telah ia lalui dengan detail yang membuat dada Raka semakin sesak, bagaimana waktu di Loka Sunya tak berjalan seperti di dunia manusia, bagaimana ia telah menyaksikan generasi demi generasi Jangkar datang dan pergi tanpa pernah bisa benar-benar berkomunikasi dengan mereka, hanya merasakan gaung dari penderitaan masing-masing melalui benang tipis yang menghubungkan mereka semua.
“Aku pikir aku bakal di sini selamanya,” katanya, suaranya nyaris berbisik. “Sampai beban ini nggak lagi ada yang mau nanggung, dan pintu ini akhirnya terbuka penuh, menghancurkan segalanya. Aku udah pasrah sama itu.”
“Kita nggak akan biarin itu terjadi,” kata Lily, tegas, menggenggam tangan Raka lebih erat. “Kita punya ide. Tapi kita butuh Bapak buat bantu kita.”
Raka menjelaskan rencana yang telah tumbuh di kepalanya sejak percakapan dengan Sande Kala di reruntuhan candi, bukan lagi soal memindahkan beban dari satu orang ke orang lain, melainkan menciptakan sesuatu yang sama sekali baru: sebuah penguatan permanen pada pintu itu sendiri, menggunakan kekuatan gabungan dari seratus tiga tahun pengalaman Wiryo dan kehidupan yang masih tersisa dalam diri Raka, disatukan lewat kalung yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kalau kita gabungin kekuatan kita,” kata Raka, “bukan buat mindahin beban, tapi buat benar-benar nutup pintunya, apa itu mungkin? Bapak bisa istirahat. Aku bisa pulang. Dan nggak akan ada Jangkar lagi setelah ini.”
Wiryo terdiam lama, matanya menerawang jauh, mempertimbangkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sepanjang seratus tiga tahun kesendiriannya.
“Itu belum pernah dicoba,” katanya akhirnya. “Tapi itu juga berarti risikonya nggak pernah diketahui siapa pun. Bisa jadi berhasil. Bisa jadi malah bikin pintunya pecah sepenuhnya.”
“Ada cara lain?” tanya Raka.