3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #23

Pulang

Mereka terbangun di reruntuhan candi yang sama, namun dunia di sekeliling mereka terasa berbeda, bukan karena ada yang berubah secara fisik, melainkan karena cara Raka merasakannya, seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang telah ia panggul begitu lama hingga lupa rasanya berjalan tanpa berat di punggungnya, namun juga kehilangan sesuatu yang, tanpa pernah ia sadari, telah menjadi bagian dari caranya melihat dunia.

Matahari sore menyinari reruntuhan itu dengan cahaya keemasan yang hangat, burung-burung berkicau di antara pepohonan yang mengelilingi candi, dan tak ada lagi kabut aneh yang merayap dengan kehendaknya sendiri, tak ada lagi tekanan berat di udara yang selama ini menjadi penanda kehadiran sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia manusia.

“Lily,” bisik Raka, menoleh ke arah gadis yang masih menggenggam tangannya erat, wajahnya dipenuhi keletihan dan sisa air mata yang belum sepenuhnya kering. “kita berhasil.”

Lily tersenyum, memeluknya erat, tak berkata banyak, ia tahu betul, dari cara Raka mengucapkan kata berhasil, bahwa kemenangan ini datang dengan berat yang tak bisa diucapkan keras-keras terlalu sering, dan bahwa yang paling dibutuhkan Raka saat ini bukanlah rayuan bahwa segalanya baik-baik saja, melainkan sekadar seseorang yang tetap tinggal sementara ia belajar membawa kemenangan yang juga terasa seperti kehilangan.

Raka merasakan sesuatu yang aneh sekaligus indah ketika ia menatap sekelilingnya, untuk pertama kalinya sejak usia tiga belas tahun, jam tangannya menunjukkan pukul tiga lewat tujuh belas menit tanpa disertai perubahan suhu, tanpa bayangan yang muncul, tanpa apa pun selain waktu biasa yang berlalu seperti seharusnya.

“Udah selesai,” katanya, suaranya nyaris tak percaya pada kata-katanya sendiri, dua makna sekaligus terkandung di dalamnya, selesai penderitaannya, dan selesai pula sesuatu yang, meski menyiksa, pernah menjadi caranya tetap terhubung dengan orang yang paling ia rindukan.

•  •  •

Mereka kembali ke bengkel Pak Yanto larut malam itu, menemukan lelaki tua itu masih terjaga, duduk di kursi kerjanya di tengah puing-puing bengkel yang masih belum sempat ia bereskan, matanya menatap pintu dengan sebuah harapan yang tak pernah benar-benar ia ucapkan keras-keras selama menunggu mereka seharian penuh.

Ketika Raka dan Lily melangkah masuk, Pak Yanto berdiri secepat yang tubuh tuanya mampu, matanya menyapu keduanya dengan sebuah kelegaan yang begitu besar hingga air mata langsung mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Kalian kembali,” bisiknya, suaranya bergetar. “Kalian benar-benar kembali.”

Raka menghampirinya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, memeluk lelaki tua itu dengan sebuah kehangatan yang lahir bukan dari kewajiban, melainkan dari sebuah ikatan yang telah tumbuh melalui malam-malam yang mereka lalui bersama, ikatan antara seorang cucu yang tak pernah mengenal neneknya, dan seorang lelaki yang telah mencintai nenek itu sepanjang hidupnya.

“Wiryo,” kata Raka pelan, melepaskan pelukannya, “akhirnya bisa istirahat, Pak. Dan pintunya udah ditutup. Selamanya. Nggak akan ada Jangkar lagi setelah ini.”

Pak Yanto menatap jam saku antik yang masih tergantung di kotak kaca di dinding, dan sesuatu yang luar biasa terjadi di hadapan mereka bertiga, jarum jam yang telah membeku di pukul tiga lewat tujuh belas menit selama tiga puluh tujuh tahun, perlahan mulai bergerak kembali, berdetak dengan ritme yang normal, seolah waktu itu sendiri akhirnya diizinkan untuk melanjutkan perjalanannya yang telah lama tertunda.

Satu per satu, ratusan jam lain di sekeliling bengkel yang masih tersisa dari kehancuran serangan Sande Kala mulai ikut berdetak, menciptakan simfoni tik-tok yang begitu riuh setelah bertahun-tahun kesunyian, hingga suara itu sendiri terasa seperti sebuah perayaan.

Pak Yanto berdiri terpaku, menyaksikan jam-jamnya kembali hidup, air mata mengalir deras di pipinya yang keriput. “Siti,” bisiknya, suaranya penuh kerinduan yang telah lama ia pendam. “Kamu akhirnya bisa istirahat juga, ya?”

Lihat selengkapnya