3:17 Jangkar Terakhir

N. Y. YONS
Chapter #24

Tujuh Puluh Tahun Kemudian

Bengkel Jam 2096

Braga tahun 2096 tak lagi menyerupai gambaran yang pernah ada dalam catatan-catatan lama, jalanan yang dulu dipadati kendaraan bermotor kini dipenuhi oleh trotoar hijau yang teduh, bangunan-bangunan kolonial yang dulu berdiri rapuh kini telah direstorasi dengan teknologi yang menjaga keasliannya sekaligus memperkuat fondasinya untuk bertahan seratus tahun lagi.

Di antara bangunan-bangunan itu, gang kecil yang dulu nyaris tak ditemukan oleh siapa pun yang tak sengaja mencarinya kini telah menjadi bagian dari rute wisata sejarah kota, dilengkapi papan penanda kecil dari logam yang menceritakan kisah sebuah bengkel jam yang pernah berdiri di sana lebih dari satu abad lalu.

Nara Sentono, tujuh belas tahun, berdiri di depan pintu kayu yang kini telah menjadi museum kecil, menatap papan nama yang terpasang di sampingnya dengan sebuah kebanggaan yang telah ia rasakan sejak kecil setiap kali keluarganya menceritakan kisah ini kepadanya.

MUSEUM BENGKEL JAM SENTONO, YANTO. Didirikan untuk mengenang kisah keberanian yang menyatukan tiga generasi, tulisan itu berbunyi, dengan huruf-huruf yang telah sedikit memudar dimakan waktu, meski tetap terbaca jelas bagi siapa pun yang cukup peduli untuk berhenti dan membacanya.

Ia mendorong pintu itu, lonceng kecil di atasnya masih berbunyi seperti dulu, bunyi yang telah dipertahankan dengan sengaja oleh setiap generasi yang menjaga tempat ini, sebuah pengingat kecil dari masa lalu yang tak boleh dilupakan.

• • •

Di dalam, ruangan itu telah berubah fungsi dari bengkel kerja menjadi galeri kecil yang dirawat dengan penuh kasih sayang, rak-rak kayu yang dulu dipenuhi jam-jam yang rusak akibat serangan kini menampilkan replika-replika yang dibuat ulang dengan detail yang sama persis, masing-masing diberi label kecil yang menjelaskan asal-usulnya.

Nara berjalan pelan di antara rak-rak itu, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali berkunjung, berhenti di depan sebuah pigura kecil yang berisi salinan surat, tulisan tangan Kyai Sadewo yang pernah dititipkan lewat Slamet, seratus tujuh puluh tiga tahun lalu, kini terpajang di balik kaca dengan pencahayaan khusus yang menjaga tintanya agar tak semakin pudar. Ia membaca kalimat terakhirnya untuk kesekian kalinya, meski sudah hafal luar kepala: Ibumu akan bangga, Nak. Apa pun yang terjadi malam ini.

Di sebelahnya, sebuah kalung manik-manik hitam, replika, karena yang asli telah lama menyatu bersama Wiryo di Loka Sunya, tergantung dalam kotak kaca tersendiri, dengan keterangan kecil yang menjelaskan asal-usulnya sebagai pusaka yang diwariskan dari Jangkar ke Jangkar. Nara menyentuh kaca itu perlahan, membayangkan beratnya di leher seseorang yang tak pernah ia temui namun merasa sudah lama ia kenal lewat cerita-cerita yang diwariskan turun-temurun.

Di tengah ruangan, dalam sebuah kotak kaca yang lebih besar dan lebih terawat dari yang pernah ada di masa lalu, jam saku antik buatan Cornelius van der Berg terpajang dengan bangga, jarumnya kini bergerak normal, menunjukkan waktu yang sebenarnya, bukan lagi terjebak selamanya di pukul tiga lewat tujuh belas menit.

Seorang perempuan tua duduk di kursi dekat jendela, rambutnya yang telah memutih sepenuhnya diikat rapi, wajahnya dipenuhi kerutan yang menyimpan kisah hidup yang panjang dan penuh makna. Ia mendongak ketika Nara masuk, tersenyum dengan sebuah kehangatan yang telah dikenalnya sejak kecil.

Lihat selengkapnya