Jauh dari Braga, jauh dari segala hiruk-pikuk kota yang terus berkembang menuju masa depan, Dieng tetap menjadi dirinya sendiri, kabut yang masih turun setiap senja, merayap pelan di antara lereng-lereng gunung, membungkus reruntuhan candi yang kini telah dijaga dan dirawat sebagai situs warisan budaya, dikunjungi wisatawan yang tak pernah tahu betapa dekatnya dunia mereka pernah berada di ambang kehancuran total di tempat itu.
Keluarga muda itu datang dari Bandung, perjalanan yang telah mereka rencanakan sejak lama, sang ibu, seorang cicit dari garis keturunan yang jauh, tak sepenuhnya sadar bahwa darahnya sendiri menyimpan jejak dari sebuah malam seratus tujuh puluh tiga tahun lalu, hanya tahu bahwa neneknya dulu sering bercerita tentang candi ini dengan mata berkaca-kaca, tanpa pernah menjelaskan kenapa.
Perjalanan mobil dari Bandung memakan hampir enam jam, melewati jalanan berkelok yang membuat sang ayah, yang mengemudi sepanjang perjalanan, beberapa kali harus berhenti sejenak di rest area untuk meregangkan punggungnya yang pegal. Anak mereka, Wiryo, tertidur di jok belakang selama sebagian besar perjalanan, terbangun hanya ketika mobil mulai memasuki jalan yang lebih curam, matanya berbinar melihat kabut yang mulai menyelimuti jendela mobil.
“Ini beneran tempat yang Nenek certain?” tanya Wiryo, hidungnya menempel ke kaca jendela.
“Katanya sih gini,” jawab ibunya, tersenyum melalui kaca spion. “Nenek buyut kamu dulu suka cerita soal candi tua di Dieng. Katanya ada cerita tentang jangkar, tentang jam yang berhenti. Ibu sendiri nggak pernah beneran ngerti maksudnya.”
“Jangkar kapal?”
Ibunya tertawa kecil. “Bukan, sayang. Jangkar yang lain. Mungkin nanti, kalau kita sampai, Ibu coba certain versi yang Ibu inget.”
• • •
Seorang anak lelaki kecil, tak lebih dari delapan tahun, berlari di antara batu-batu reruntuhan yang kini dipagari dengan sopan untuk melindungi struktur kunonya, tertawa riang mengejar seekor kupu-kupu yang terbang di antara bebungaan liar yang tumbuh di sela-sela prasasti yang telah berusia lebih dari sebelas abad.