Matahari datang terlalu cepat.
Aku bahkan nggak ingat kapan aku tertidur.
Jam di meja sudah menunjukkan pukul enam lewat sedikit, tapi waktu terasa berhenti berdetak.
Semuanya terasa menggantung… seperti kejadian kemarin belum selesai.
Aku duduk di meja makan.
Teh yang semalam masih di sana.
"Dingin lagi," gumamku pelan.
Tapi tetap aja aku aduk.
Kosong.
Seperti kepalaku.
Suara langkah kemudian terdengar dari luar memecah keheningan.
Lalu suara lain.
Dan satu lagi.
Aku nggak perlu nengok untuk tahu.
Bapak-Bapak itu datang lagi.
Seperti biasa.
“Pagi,” suara santai tapi langtang itu muncul duluan.
Mr. Lucas.
Mantan suami ibuku yang keempat.
“Sudah bangun?” disusul suara yang lebih tegas, dengan logat Jawa yang kental dari Bapak Tiko, mantan suami Ibu yang ketiga.
Dan tentu saja... tidak ada suara dari bapak yang satu lagi.
Aku nengok.
Lengkap.
Tiga-tiganya berdiri di depan rumah, seperti adegan yang terlalu sering terjadi sampai rasanya terasa normal.
Padahal… tidak ada yang benar-benar normal.
aku tetap duduk, tanpa menoleh pada ketiga bapak-bapak itu.
“Selamat pagi, tim penyelamat tidak resmi,” kataku datar.
Mr. Lucas ketawa.
“Wah, masih ada suaranya. Berarti masih hidup.”
“Aku belum mati,” balasku.
“Jangan bercanda soal itu,” potong Bapak Tiko cepat.
Aku diam sebentar.
“…iya.”
Hening sebentar.
Aneh.. Biasanya mereka sudah ribut dari tadi. Tapi tidak hari ini.