Pagi ini, aku memutuskan tetap masuk kuliah.
Entah kenapa, aku percaya saja pada tiga bapak-bapak itu untuk menjaga ibu.
Masih terasa hancur, tentu saja.
Tapi… aku tetap harus hidup normal.
Ibuku?
Selain demensianya, sepertinya dia baik-baik saja.
Meski tidak bisa dibilang benar-benar sehat.
Kampus pagi ini… terasa terlalu normal.
Orang-orang tetap tertawa.
Ada yang sibuk.
Ada yang mengeluh soal hal-hal kecil—
hal yang mungkin kemarin juga pernah kulakukan.
Aku duduk di tangga depan gedung fakultas, laptop terbuka di pangkuan.
Halaman skripsiku masih menggantung, tidak kunjung selesai.
Seharusnya pagi ini aku melanjutkan halaman berikutnya…
tapi pikiranku terlalu kosong.
Kursor itu berkedip pelan.
Seolah ikut menunggu sesuatu.
Aku menarik napas panjang.
Lalu menghembuskannya pelan.
“Kalau kamu tatap terus, dia nggak bakal nulis sendiri, loh.”
Suara itu datang begitu saja, memecah lamunanku.
Aku nggak perlu nengok.
“…kamu telat?” gumamku.
Rei duduk di sebelahku, santai seperti biasa.
Tasnya dilempar ke samping.
“Aku beli kopi dulu,” jawabnya ringan.
“Ritual pagi.”
Aku mendengus pelan.
“Dasar.”
Dia menyodorkan satu gelas ke arahku.
Aku melirik.
“…buat aku?”
“Kalau bukan buat kamu, berarti aku minum dua-duanya,” katanya.
Aku ambil.
Hangat.
Setidaknya… ada yang hangat selain teh dingin semalam yang kuminum pagi ini.
Beberapa detik kami diam.
Tidak canggung.
Memang tidak pernah.
Rei itu, tipe orang yang… tidak butuh banyak kata untuk membuat suasana tetap utuh.
“Semalam nggak tidur, Nau?” tanyanya tiba-tiba.
Aku mengangkat bahu.
“Tidur kok.”
Dia menoleh sedikit.
“…bohongnya tipis.”
Aku tertawa kecil.
Seingatku, ini pertama kalinya aku tertawa sejak kejadian itu.
“Ya terus harus gimana? Aku harus bilang ‘iya, aku lagi hancur banget’ gitu?”
“Iya,” jawabnya santai.
Aku nengok.
“Serius?”