Rumah sakit selalu punya suasana yang sama. Bersih, terang, dan entah kenapa membuat dada terasa lebih sesak dari biasanya. Aku duduk di kursi tunggu dengan kedua tangan yang saling menggenggam sangat erat, seolah semua ketegangan menumpuk dan dibebankan ke pergelangan tanganku.
Di sampingku, Rei duduk tanpa banyak bicara seperti biasa. Cukup dekat untuk membuatku sadar bahwa aku tidak sendirian, tapi juga tidak cukup dekat untuk memaksaku merasa harus kuat.
Beberapa menit kemudian, namaku dipanggil. Seorang perawat membuka pintu ruang periksa dan mempersilakan kami masuk. Aku dan Rei saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya berdiri bersamaan. Kali ini, aku tidak ingin masuk sendirian.
Ruangan itu terang dan rapi, dengan aroma antiseptik yang samar. Ibu duduk di kursi pasien, masih dengan penampilannya yang selalu sempurna. Rambut tertata, pakaian rapi, wajah yang tetap cantik seperti tidak ada yang berubah. Bahkan kalau dilihat sekilas, seakan tidak ada yang salah. Tidak ada yang menunjukkan bahwa sesuatu dalam dirinya perlahan menghilang.
Dokter di hadapan kami menatap dengan ekspresi tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam, seperti seseorang yang sudah terbiasa menyampaikan kabar yang tidak mudah diterima.
“Dari hasil pemeriksaan awal dan wawancara yang kami lakukan,” katanya perlahan,
“kami melihat adanya penurunan fungsi kognitif pada Ibu Cita.”
Aku mencoba mencerna kalimat itu, tapi rasanya terlalu jauh dari apa yang aku rasakan sejak kemarin. Terlalu rapi untuk menjelaskan kekacauan yang terjadi.
“Maksudnya bagaimana, Dok?” tanyaku, suaraku terdengar lebih pelan dari yang aku kira.
Dokter itu menarik napas kecil sebelum melanjutkan, kali ini dengan pilihan kata yang lebih sederhana.
“Ini termasuk dalam kategori demensia. Dari gejala yang muncul, kemungkinan besar mengarah ke Alzheimer onset dini, atau Alzheimer yang terjadi di usia lebih muda dari biasanya.”
Kata-kata itu tidak langsung terasa. Tapi ketika akhirnya sampai, rasanya seperti sesuatu yang jatuh pelan... lalu menghantam sekaligus.