3 AYAH

ARINDA NOVALITA
Chapter #6

Tidak Lagi Sama

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya, padahal jalan yang kami lewati tetap sama, lampu merah yang sama, belokan yang sama, bahkan suara kendaraan di luar pun tidak berubah, tapi entah kenapa semuanya terasa jauh, seperti aku sedang kembali ke tempat yang seharusnya aku kenal, tapi perlahan mulai terasa asing.


Aku turun dari mobil tanpa banyak bicara. Rei mematikan mesin, tapi tidak langsung menyusulku turun. Seperti biasa, dia memberiku waktu. Tidak pernah memaksa, tidak pernah terburu-buru, seolah dia tahu aku butuh beberapa detik lebih lama untuk melangkah.


Pintu rumah sudah terbuka. Tidak biasanya seperti ini. Aku mengernyit sedikit dan mempercepat langkah. Dan benar saja, mereka sudah ada di dalam. Lengkap. Tiga-tiganya.

Mr. Lucas berdiri di dekat meja makan dengan segelas minuman di tangannya yang tampaknya sudah lama tidak diminum. 

Bapak Tiko duduk tegak di kursi dengan posisi yang rapi, seperti sedang menahan sesuatu dalam diam. 

Sementara Koh Liam berdiri di dekat jendela, membelakangi kami, tetap dengan caranya yang sunyi tapi selalu terasa hadir.


Suasana itu aneh. Terlalu sepi... Padahal biasanya mereka tidak pernah bisa diam dalam satu ruangan. Aku berhenti di ambang pintu, menatap mereka satu per satu, dan aku merasa semua orang di ruangan ini sedang menunggu hal yang sama dariku, yaitu jawaban.


“Udah dari dokter?” tanya Bapak Tiko akhirnya, langsung tanpa basa-basi.

Aku hanya mengangguk pelan. 

Tidak ada yang langsung bertanya lagi, tapi tatapan mereka tidak berpindah. Aku menarik napas, mencoba mengumpulkan kata-kata yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya terima.

“Sudah...” ucapku pelan.

Mr. Lucas menurunkan gelasnya perlahan. 

“Apa katanya, Nau?” tanyanya, kali ini tanpa nada santai yang biasa dia pakai.

Aku menelan ludah. “…Alzheimer, Pah.”

Kata itu jatuh begitu saja di tengah ruangan, dan langsung mengubah semuanya.

Sunyi.

Bukan sunyi biasa, tapi sunyi yang berat, seperti sesuatu sedang runtuh tapi tidak bersuara.

Bapak Tiko menunduk, tangannya mengepal di atas meja. 

Mr. Lucas tidak bergerak, wajahnya kehilangan ekspresi yang biasanya selalu ringan. 

Koh Liam tetap diam, tapi rahangnya sedikit mengeras, cukup untuk menunjukkan bahwa dia tidak setenang itu.

“Dokter bilang… nggak bisa sembuh,” lanjutku, suaraku terasa makin tipis, “…cuma bisa diperlambat.”

Lihat selengkapnya