Malam ini, angin di rumah terasa lebih lirih dari biasanya. Mendadak semuanya menjadi lebih hening, seolah suara-suara kecil pun memilih menahan diri agar tidak tumpah menjadi kesedihan yang terlalu panjang. Lampu ruang tamu yang menyala temaram memantulkan bayangan yang diam dan tidak bergerak. Rasanya, semua orang di rumah ini sedang berusaha menahan sedih dengan cara masing-masing, tetap berdiri tegak di atas sesuatu yang perlahan retak.
Ibu sudah tertidur di kamarnya setelah beberapa kali mengulang pertanyaan yang sama dengan nada yang tetap lembut, seolah pikirannya berjalan di jalur yang tidak pernah sampai ke tujuan. Aku menjawab semuanya dengan sabar, meskipun di dalam diriku sendiri, ada kalimat-kalimat yang mulai tercekat, getir, dan hampir saja membuat air mataku jatuh karena pikiranku yang terlalu kacau.
Aku dan ketiga ayahku masih berada di ruang tamu. Tidak banyak bicara, tapi juga tidak kemana-mana. Ada kursi kosong, tapi mereka memilih tetap berdiri atau bersandar di tembok, seperti penjaga yang tidak pernah diminta, namun tetap memilih tinggal.
Aku akhirnya pergi ke kamar karena rasanya terlalu sesak berada di sana terlalu lama. Aku duduk di balkon kamar, membiarkan udara malam menyentuh wajahku pelan-pelan.
Aku hanya ingin bernapas.
Ponsel di tanganku bergetar pelan.
Evan.
Aku menatap namanya lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya menjawab panggilannya.
“Halo?”
“Kamu udah di rumah?” suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
“Iya.”
“Kamu kemana aja? Aku dari tadi nunggu kamu kabarin,” katanya. Tidak menyalahkan, tapi cukup untuk membuatku sadar kalau aku memang tidak memberi kabar sama sekali.
Aku menghembuskan napas perlahan. “Maaf, Van… aku lagi kacau.”
“Karena ibu?” tanyanya.
“Iya.”
Ada jeda kecil. Kali ini terasa lebih berat.
“Kamu tadi ke dokter ya?”
Aku mengangguk kecil, meskipun dia tidak bisa melihat. “Iya.”
“Kok nggak sama aku aja, Nau?” suaranya tetap lembut, tapi ada sesuatu yang samar di baliknya.
Aku terdiam sebentar. “Kepikiran sih, tapi...”
“Tapi kamu pergi sama Rei,” lanjutnya pelan.
“Sorry ya, Van. Tadi Rei yang ngajak.”
“Aku juga ada, Nau. Tadi aku ngajak kamu juga.”