Tanpa ku sadari, waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya seperti seseorang yang mengetuk pintu di saat tubuh dan pikiranku belum terasa siap membuka hari baru. Aku beranjak dari kasur untuk menjalani rutinitas yang entah kenapa mendadak terasa lebih berat. Rumah masih tenang ketika aku turun ke lantai bawah.
Aroma kopi samar bercampur dengan wangi minyak kayu putih yang entah sejak kapan menjadi aroma paling akrab di rumah ini. Dan benar saja, ketiga bapak-bapak itu sudah datang pagi-pagi sekali.
Bapak Tiko duduk di meja makan dengan koran yang sebenarnya tidak ia baca. Mr. Lucas berdiri di dapur sambil mencoba memanggang roti yang sepertinya mulai terlalu gosong. Sementara Koh Liam masih dengan diamnya, menyeduh kopi seperti ritual kecil yang tidak berubah.
Aneh ya.. di tengah semua yang terasa berantakan, mereka masih mencoba membuat pagi terlihat normal.
“Ibu udah bangun, Pah?” tanyaku pelan.
Bapak Tiko menggeleng. “Tadi sempat keluar bentar. Habis itu masuk kamar lagi.”
Aku mengangguk kecil lalu berjalan ke dapur membantu Mr. Lucas yang mulai panik melihat rotinya berubah warna.
“Lucas... itu roti udah mau jadi arang.”
“Sedikit gosong itu karakter, bro,” jawabnya santai.
Aku hampir tertawa kecil kalau saja pikiranku tidak seberat ini.
Belum sempat aku mengambil piring, suara langkah pelan terdengar dari arah lorong.
Kami semua otomatis menoleh.
Ibu berdiri di sana. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi wajahnya tetap cantik dengan cara yang justru membuat dadaku semakin sesak. Ada, ya? Orang-orang yang bahkan ketika sedang kehilangan dirinya sendiri... tetap terlihat anggun.
“Ibu udah bangun?” tanyaku pelan sambil mendekat.
Ibu tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergerak perlahan menyusuri ruangan, seperti sedang mencari sesuatu.
Atau seseorang.
“Satya ke mana, ya?”
Kalimat itu keluar begitu saja, membuat seisi rumah langsung diam.
Aku membeku di tempat.
Bahkan Mr. Lucas yang biasanya selalu punya sesuatu untuk mencairkan suasana, kali ini tidak bergerak sama sekali.
Ibu masih melihat ke sekeliling dengan bingung kecil di wajahnya.