Pagi datang disambut dengan Mr. Lucas yang memutar lagu lawas dari ponselnya, sambil sibuk memotong buah dengan bentuk yang bahkan tidak ada satu pun yang sama.
Bapak Tiko mondar-mandir membawa catatan kecil berisi jadwal obat ibu, sementara Koh Liam duduk di meja makan dengan laptop terbuka, sesekali menerima telepon pekerjaan dengan suara rendah yang nyaris tidak pernah terdengar marah.
Mereka memang setiap hari datang ke rumahku karena bagaimanapun, mereka tetap ingin menjadi figur ayah untukku meski sudah tidak bersama ibu. Tapi semenjak ibu sakit, mereka jadi datang lebih pagi, bahkan ketika kami semua masih tertidur. Jangan tanya bagaimana mereka bisa masuk, karena tentu saja mereka punya kunci rumahku.
Di tengah aktivitas pagi itu, ibu berdiri cukup lama di depan dispenser.
Diam.
Tangannya menggenggam gelas kosong, tapi tidak melakukan apa-apa.
Awalnya aku pikir beliau hanya melamun. Sampai beberapa menit berlalu... dan ibu tetap berdiri di sana.
“Bu?”
Aku mendekat perlahan.
Ibu menoleh padaku dengan ekspresi bingung kecil.
“...ini cara nyalainnya gimana?”
Dadaku langsung terasa turun pelan. Dispenser itu benda yang dipakai ibu hampir setiap hari selama bertahun-tahun.
Aku mencoba tetap tersenyum sambil membantu menekan tombol air panas.
“Oh iya…” gumam ibu pelan sambil tertawa kecil. “Ibu lupa.”
Lupa. Kata yang sekarang mulai terlalu sering terdengar di rumah ini.
Bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Mr. Lucas langsung menunjukku dramatis. “Tuh pacarmu datang.”
Aku memutar mata kecil sebelum berjalan membukakan pintu. Evan sudah berdiri di depan rumah sambil membawa kantong plastik makanan dan wajah yang terlihat sedikit lebih segar pagi ini.
“Hai, Nau. Pagi, Om.”
Dia menyapa ketiga ayahku dengan sopan seperti biasa.
“Hai.”
“Aku ganggu nggak?”