Rei masih berdiri di ambang pintu dengan satu tangan menggantung di tali tas selempangnya. Wajahnya terlihat sedikit lelah, rambutnya bahkan masih berantakan seperti habis buru-buru datang entah dari mana. Tapi seperti biasa, matanya tetap tenang untuk seseorang yang baru saja masuk ke rumah dengan suasana yang tegang.
“Gue ganggu?” tanyanya lagi pelan.
Aku belum sempat menjawab ketika Evan lebih dulu melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
Gerakannya halus, hampir tidak terlihat, tapi cukup membuat udara di antara kami berubah tipis.
“Nggak,” jawabku cepat sebelum suasana jadi lebih aneh. “Masuk aja.”
Rei mengangguk kecil lalu melangkah masuk.
Tatapannya sempat menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti ke arah ibu yang sedang duduk diam di sofa sambil memegang cangkir kosong.
“Pagi, Tante.”
Ibu menoleh pelan dan diam beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
“Rei?” Aku langsung menoleh cepat ke ibu. Dadaku mendadak terasa aneh. Karena kali ini... ibu ingat.
Rei terlihat sedikit kaget juga, tapi tetap tersenyum tipis. “Iya, Tante.”
“Ibu pikir kamu sibuk,” katanya pelan.
“Nggak kok.”
Percakapan sederhana itu justru membuat rumah terasa semakin sunyi. Karena beberapa menit lalu ibu bahkan lupa cara menyalakan dispenser. Tapi beliau masih ingat nama Rei. Aku tidak tahu harus merasa lega atau justru lebih kalut.
Mr. Lucas yang sejak tadi diam akhirnya berdeham kecil sambil menunjuk dapur.
“Rei, makan dulu sana. Evan bawa banyak makanan.”
“Wah, tumben baik,” jawab Rei santai.
“Biasanya juga baik.” Evan menyelak.
kali itu, suasana mencair sedikit. Bahkan Bapak Tiko ikut menghela napas kecil seperti baru sadar dirinya menahan tegang sejak tadi.
Rei berjalan ke arah dapur, lalu berhenti sebentar saat melewati aku.
“Lo gapapa, Nau?” tanyanya pelan. Pelan sekali sampai mungkin cuma aku yang dengar.
Aku mengangguk kecil.
Bohong, Tapi aku terlalu lelah untuk menjelaskan isi kepalaku hari ini. Rei menatapku beberapa detik, seperti tahu aku bohong, tapi memilih tidak memaksa. Justru itu kebiasaan dia yang paling menyebalkan, karena Rei selalu tahu kapan harus diam.
Evan yang berdiri di sampingku sejak tadi akhirnya membuka suara.
“Lo dari kampus?”
“Iya,” jawab Rei singkat sambil mengambil minum.
“Kelas?”
“Nggak masuk.”
Aku langsung menoleh.
“Kenapa?”