3 AYAH

ARINDA NOVALITA
Chapter #11

PERTANYAAN

Suara dari telepon itu akhirnya berhenti. Aku tidak ingat kapan sambungannya terputus. Mungkin aku yang mematikan, atau mungkin dia yang bosan menunggu jawabanku.

Yang jelas, untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bicara.

Bahkan ibu.

Ibu yang tadi begitu panik mencari nama Ayahku sekarang hanya duduk diam di sofa, memeluk bantal kecil di pangkuannya sambil sesekali melirik ke arah pintu depan, seperti masih menunggu seseorang datang.

Dan aku membencinya. Bukan ibu, bukan juga penyakitnya.

Tapi aku benci laki-laki yang bahkan tidak hadir, namun masih bisa memenuhi isi kepala Ibu hanya dengan suaranya.

Aku duduk kembali di kursi dengan tubuh yang terasa lemas. Entah sejak kapan air mataku ikut jatuh. Aku bahkan tidak sadar.

Rasanya terlalu lelah untuk marah. Terlalu gusar untuk menangis. Seakan tulang-tulangku ingin lepas dari sendinya sendiri untuk mengerti kenapa hidup bisa sekejam ini pada ibu.


Sebuah tisu tiba-tiba muncul di depan wajahku. Aku mendongak. Rupanya Rei yang menyodorkannya.

"Jangan nangis di depan umum. Jelek," katanya datar.

Aku langsung melotot.

"Pergi, lo."

"Syukurlah. Masih bisa marah."

Aku hampir melempar tisu itu ke mukanya. Di sisi lain ruangan, terlihat Evan yang sejak tadi diam hanya menghela napas kecil.

"Dia emang nggak punya empati."

"Punya lah" bantah Rei santai.

"Sedikit."

Aku tertawa kecil. Dan itu cukup untuk membuat Mr. Lucas berdiri dari kursinya.

"Nah."

Kami semua langsung menoleh.

"Nah apa?" tanyaku.

Lucas menunjukku dramatis.

"Itu."

"Apa?"

"Akhirnya kamu ketawa."

Aku mengernyit kecil.

"Berarti Rei berhasil."

"Papah..." keluhku.

Tapi laki-laki itu sudah berjalan ke dapur dan kembali membawa sebuah botol kosong bekas kecap.

Aku mengernyit lagi.

"...kenapa bawa itu?"

"Karena.. rumah ini butuh terapi."

Bapak Tiko langsung menutup matanya.

"Lucas, please jangan."

"Terlambat, bro."

Lucas mengambil beberapa lembar kertas dari laci meja dan menuliskan entah apa dengan cepat.

"Ngapain, Om?" tanya Evan.

Lucas tersenyum.

Dan setiap kali dia tersenyum seperti itu, biasanya ada ide aneh yang akan terjadi.

"Kita main game."

Lihat selengkapnya