Pukul lima pagi.
Alarm berbunyi tepat ketika langit di luar jendela masih berwarna biru gelap. Belum ada suara kendaraan yang ramai. Belum ada teriakan pedagang sayur di ujung gang. Bahkan ayam milik tetangga pun belum selesai berkokok.
Namun bagi Kayla Pramesti Wibowo, hari sudah dimulai.
Tangannya bergerak cepat mematikan alarm sebelum nada kedua sempat berbunyi. Ia duduk tegak di atas tempat tidur, menarik napas dalam-dalam, lalu mengusap wajahnya sekali. Tidak ada gerakan malas. Tidak ada kebiasaan menekan tombol snooze.
Jam digital di meja belajar menunjukkan pukul 05.00.
Tepat sesuai jadwal.
Kayla meraih buku planner berwarna biru muda yang terletak sejajar dengan lampu belajar. Sudut-sudutnya masih rapi meski sudah digunakan hampir delapan bulan.
Ia membuka halaman bertanggal Senin, 3 Agustus.
Di sana sudah tersusun daftar kegiatan sejak seminggu lalu.
05.00 — Bangun tidur.
Kotak kecil di sampingnya langsung ia beri tanda centang.
✓
Lalu baris berikutnya.
05.02 — Rapikan tempat tidur.
✓
05.05 — Peregangan 15 menit.
✓
05.20 — Mandi.
Kotak itu masih kosong.
Kayla berdiri, melipat selimut hingga membentuk sudut yang nyaris sempurna, lalu merapikan dua bantal yang sebenarnya sudah rapi sejak malam.
Baru setelah itu ia tersenyum tipis.
"Lebih enak dilihat."
Kalimat itu nyaris selalu ia ucapkan setiap pagi.
Lima belas menit kemudian, kamar Kayla sudah kembali seperti kamar contoh di katalog furnitur.
Tidak ada pakaian berserakan.
Tidak ada buku terbuka.
Tidak ada kabel charger melintang.
Meja belajarnya hanya berisi laptop, tempat pensil transparan, tiga stabilo warna pastel, dan tanaman sukulen kecil yang disiram setiap hari pukul lima lewat empat puluh lima.
Semuanya memiliki tempat masing-masing.
Kayla menyukai keteraturan.
Karena baginya, hidup yang teratur membuat segalanya terasa lebih mudah dikendalikan.
Ia menggantungkan handuk, mengenakan seragam putih abu-abu yang sudah disetrika sejak Minggu sore, lalu berdiri di depan cermin.
Rambut hitam sebahunya disisir perlahan.
Ia memiringkan kepala sedikit.
"Anak rambut..."
Dengan cekatan, ia menyelipkan dua helai rambut yang keluar dari ikatan kuda ke belakang telinga.
Baru kemudian ia mengangguk puas.
Di meja belajar, planner kembali terbuka.
Kotak berikutnya dicentang.
✓ Mandi.
✓ Memakai seragam.
✓ Merapikan rambut.
Ponselnya bergetar pelan.
Notifikasi dari grup OSIS Garuda Mandala.
Adrian: Jangan lupa rapat jam istirahat. Proposal Festival Literasi harus selesai hari ini.
Kayla langsung membalas.
Kayla: Siap. Aku sudah print revisinya.
Kurang dari lima detik, balasan berdatangan.
Tasya: Ketua emang nggak pernah tidur ya?
Nabila: Aku curiga Kayla itu robot.
Kayla terkekeh pelan.
Bukan pertama kalinya ia mendengar komentar seperti itu.
Sejak kelas sepuluh, hampir semua orang mengenalnya sebagai siswi yang selalu datang paling pagi, mengumpulkan tugas paling cepat, dan mengingat ulang tahun guru tanpa bantuan media sosial.
Ia bukan ingin terlihat sempurna.
Ia hanya tidak suka kejutan.
Karena kejutan sering kali berarti sesuatu di luar rencana.
Dan sesuatu di luar rencana...
Sering kali berakhir berantakan.
"Kayla!"
Suara ibunya terdengar dari lantai bawah.
"Sarapan!"
"Sebentar, Ma!"
Kayla memasukkan planner ke dalam tas. Sebelum menutup resleting, matanya kembali tertuju pada salah satu agenda yang ia lingkari menggunakan stabilo kuning.
08.30 — Pengumuman Program PRISMA.
Ia mengernyit.
Pak Herman memang pernah mengumumkan akan ada kerja sama baru dengan sebuah universitas. Tapi tidak ada yang tahu bentuk kegiatannya.
Nabila bahkan sempat bercanda kalau seluruh siswa kelas sebelas akan dikirim ke luar negeri.
Kayla mendesah kecil.
"Kalau benar begitu, proposalnya harus selesai sebelum berangkat."
Ia menggeleng sendiri.
Bahkan pikirannya masih soal pekerjaan.
Aroma roti panggang dan telur dadar menyambutnya begitu memasuki ruang makan.
Ibunya, Lina Pramesti, masih mengenakan jas dokter yang belum dikancingkan penuh. Rambutnya digelung sederhana.
"Selamat pagi."
"Pagi, Ma."
Lina meletakkan segelas susu di depan putrinya.
"Kamu tidur cukup?"
"Cukup."
"Belajar sampai jam berapa?"
"Setengah sepuluh."
Ibunya mengangguk puas.
Percakapan berhenti di situ.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah ruang kerja.
Ardi Wibowo muncul dengan kemeja biru muda dan tas kerja hitam di tangan.
"Pagi."
"Pagi, Pa."
Ayahnya tersenyum tipis, lalu duduk tanpa banyak bicara.
Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar lebih jelas daripada percakapan mereka.
Lina menuangkan kopi.
Ardi membuka koran digital di tablet.
Kayla menggigit roti panggang sambil melirik keduanya bergantian.
Ruangan itu hangat.
Bersih.
Nyaman.
Tetapi...
Entah sejak kapan, selalu terasa sunyi.
"Ayah pulang malam lagi?" tanya Kayla mencoba memulai obrolan.
Ardi mengangguk singkat.
"Ada revisi proyek."
"Oh..."
"Kamu sendiri hari ini ada kegiatan?" tanya Lina.
"Rapat OSIS. Terus pengumuman program baru."
"Yang kerja sama kampus itu?"
"Iya."
"Semoga seru."
"Iya."
Hening lagi.
Kayla menunduk menatap piringnya.
Kadang ia iri melihat keluarga teman-temannya yang bisa mengobrol panjang saat sarapan.