30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #2

Eksperimen Dimulai

Udara pagi di SMA Garuda Mandala selalu memiliki aroma yang khas.

Campuran rumput yang baru disiram, embun yang belum sepenuhnya menguap, dan wangi gorengan dari kantin belakang yang entah bagaimana sudah mulai menggoda sejak matahari belum tinggi.

Jam di gerbang sekolah menunjukkan pukul 06.52.

Pak Ujang, satpam yang sudah bekerja lebih dari lima belas tahun di sekolah itu, berdiri tegap sambil memegang buku absensi siswa terlambat. Wajahnya terlihat galak bagi orang yang baru mengenalnya, tetapi seluruh siswa tahu bahwa di balik kumis tebalnya, pria itu lebih sering bercanda daripada menghukum.

Satu per satu siswa memasuki gerbang.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi."

"Selamat pagi."

"Pagi."

Pak Ujang mengangguk kepada setiap siswa tanpa pernah lupa memperhatikan atribut seragam mereka.

"Dasi lurusin."

"Topi jangan di tas."

"Sepatu dibersihin besok."

Kalimat-kalimat itu keluar otomatis dari mulutnya.

Di sisi lain halaman sekolah, Kayla sudah berjalan menuju gedung utama sambil mengecek daftar tugas di ponselnya.

Rapat OSIS saat istirahat.

Proposal Festival Literasi.

Persiapan lomba debat.

Pengumuman Project PRISMA.

Semuanya masih sesuai jadwal.

Ia menghela napas lega.

Belum ada satu pun yang meleset.

"Kayla!"

Suara riang dari belakang membuatnya menoleh.

Nabila berlari kecil sambil melambai-lambaikan tangan.

Rambut pendek sebahunya bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti langkah yang terlalu bersemangat untuk ukuran pukul tujuh pagi.

"Tungguin dong!"

Kayla menghentikan langkahnya.

"Kamu datang lebih pagi."

"Aku penasaran sama pengumuman hari ini."

Nabila menyamakan langkah di sampingnya.

"Menurut kamu PRISMA itu apa?"

Kayla mengangkat bahu.

"Belum ada informasi resmi."

"Justru itu."

Nabila menatap langit dramatis.

"Semakin misterius, semakin bikin penasaran."

Kayla terkekeh.

"Semoga bukan tambahan tugas."

"Kalau tambahan libur?"

"Itu mustahil."

"Kamu tuh..."

Nabila menggeleng sambil tertawa.

"Romantis sedikit sama hidup."

"Apa hubungannya sama romantis?"

"Semuanya."

Sebelum Kayla sempat membalas, terdengar suara decitan rem sepeda dari arah gerbang.

"Criiittt..."

"WOI!"

Pak Ujang langsung melangkah mundur.

"Pelan-pelan!"

Seorang siswa nyaris kehilangan keseimbangan saat membelokkan sepeda ke area parkir.

Tasnya hampir terlempar.

Rambutnya berantakan.

Napasnya tersengal.

"Maaf, Pak!"

Pak Ujang menggeleng sambil menunjuk jam tangannya.

"Kalau kamu datang lebih cepat lima menit, saya juga nggak perlu olahraga pagi."

Raka menyeringai lebar.

"Kan biar Bapak tetap sehat."

"Banyak omong."

Pak Ujang tertawa kecil lalu mengusap pundak Raka.

"Cepat masuk."

"Siap."

Raka mendorong sepedanya ke tempat parkir.

Saat itulah...

Kayla dan Nabila kebetulan melintas di koridor yang menghubungkan gerbang dengan gedung kelas.

Raka yang masih merapikan tali tas berjalan tergesa tanpa melihat ke depan.

Sementara Kayla sedang membuka map berisi proposal OSIS.

Dua orang.

Dua arah.

Dan satu tikungan sempit.

Bruk!

Map biru di tangan Kayla terlepas.

Puluhan lembar kertas berhamburan diterpa angin pagi.

"Eh!"

Raka refleks berhenti.

"Maaf! Maaf banget!"

Kayla memejamkan mata sesaat.

Bukan karena marah.

Melainkan karena seluruh urutan proposal yang semalam ia susun berdasarkan nomor halaman...

Kini beterbangan ke mana-mana.

Nabila menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.

"Aduh..."

Raka langsung berjongkok.

"Aku bantu."

"Tolong jangan diacak."

"Siap."

Lima detik kemudian...

Semua justru semakin berantakan.

"Ini halaman tiga?"

"Itu daftar isi."

"Oh..."

"Yang itu lampiran."

"Kirain penutup."

Nabila akhirnya tidak kuat lagi.

Ia tertawa sambil ikut membantu.

"Mas, kamu nyusun puzzle juga begini?"

Raka menggaruk tengkuk.

"Jujur?"

"Iya."

"Lebih parah."

Kayla menarik napas panjang.

Ia menahan diri agar tidak terdengar kesal.

"Nomor halaman ada di kanan bawah."

"Oh!"

Raka langsung memperhatikan.

"Iya ya..."

Pak Ujang yang melihat dari kejauhan hanya menggeleng.

"Yang satu datang paling pagi."

Ia menunjuk Kayla.

"Lalu yang satu..."

Kini menunjuk Raka.

"...datang kepagian buat besok."

Beberapa siswa yang lewat tertawa.

Raka ikut tertawa sambil menyerahkan tumpukan kertas yang akhirnya berhasil disusun.

"Maaf ya."

Kayla menerima map itu.

"Tidak apa-apa."

Kalimatnya terdengar sopan.

Tetapi ekspresinya tetap datar.

Raka mengusap tengkuknya lagi.

"Oke... berarti impresi pertama jelek."

"Ini bukan impresi pertama."

"Hah?"

"Kita sudah pernah bertemu waktu rapat gabungan OSIS dan basket bulan lalu."

Lihat selengkapnya