30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #3

30 Aturan

Suara bel istirahat belum juga berbunyi ketika kabar tentang pasangan Project PRISMA sudah menyebar ke seluruh penjuru SMA Garuda Mandala.

Koridor kelas XI dipenuhi bisik-bisik.

"Eh, denger nggak? Ketua OSIS dipasangin sama Raka."

"Serius?"

"Iya! Barusan diumumin di aula."

"Kasihan juga Kayla."

"Kenapa kasihan?"

"Soalnya dapat Raka."

"Tapi Raka lucu, sih."

"Lucu buat ditonton. Belum tentu buat dijalanin."

Gelak tawa kecil terdengar dari beberapa siswa yang melintas.

Di sisi lain koridor, Kayla berjalan cepat menuju ruang OSIS sambil membawa map proposal yang tadi pagi hampir berhamburan.

Ia mencoba mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya.

Namun semakin ia berusaha bersikap biasa, semakin banyak siswa yang menoleh.

"Kay..."

Nabila berlari kecil mengejarnya.

"Tunggu."

Kayla menghentikan langkah.

"Aku tahu kamu lagi kesel."

"Aku nggak kesel."

"Kalau nggak kesel, kenapa jalannya kayak lagi lomba jalan cepat?"

Kayla menarik napas pendek.

"Aku cuma ingin menyelesaikan proposal sebelum rapat."

"Itu jawaban Ketua OSIS."

"Lalu?"

"Aku nanya sebagai sahabat."

Kayla terdiam beberapa saat.

"...Aku cuma nggak ngerti."

"Soal?"

"Kenapa harus aku dan dia."

Nabila mengangkat bahu.

"Mungkin emang acak."

"Bu Nita bilang bukan acak."

"Nah... berarti komputer kampus lagi error."

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari aula, sudut bibir Kayla terangkat tipis.

"Komputer nggak segampang itu error."

"Ya udah..."

Nabila menyenggol lengannya pelan.

"...berarti semestanya lagi iseng."


Di sisi lain sekolah...

Raka baru saja menjatuhkan tubuhnya ke bangku paling belakang kelas XI IPS 2.

Belum sempat ia membuka tas, Dion sudah memutar kursinya hingga menghadap penuh.

"Selamat ya."

"Apanya?"

"Dapet pasangan."

"Itu partner penelitian."

"Iya."

"Terus?"

"Dipasanginnya sama Ketua OSIS."

Raka mengembuskan napas panjang.

"Dion..."

"Hm?"

"Jangan mulai."

"Aku belum mulai."

Dion tersenyum lebar.

"Aku baru pemanasan."

Seluruh kelas langsung tertawa.

Fikri yang duduk di depan ikut menoleh.

"Rak."

"Apa lagi?"

"Lo sadar nggak?"

"Apa?"

"Kalau hidup lo dijadiin film..."

"Kenapa?"

"...genre-nya pasti komedi."

Raka mengambil penghapus dari meja.

Lalu melemparkannya pelan ke arah Fikri.

Penghapus itu meleset jauh.

Justru mengenai tas Dion.

"Akurasinya sesuai nilai Fisika lo."

"Diam."

Tawa kembali pecah.

Di tengah semua candaan itu, ponsel Raka bergetar.

Notifikasi baru.

Bu Nita

Seluruh peserta PRISMA harap berkumpul di Ruang BK pukul 13.30. Wajib hadir.

Dion langsung mengintip.

"Wih."

"Apaan?"

"Udah dapet undangan keluarga."

"Undangan keluarga apaan?"

"Ketemu mertua."

"Dion."

"Iya, iya."

Raka memasukkan ponsel ke saku.

Meski wajahnya tetap santai, dalam hati ia mulai penasaran.

Sebenarnya...

Apa yang akan mereka lakukan selama tiga puluh hari?


Pukul 13.25.

Ruang BK yang biasanya tenang kini dipenuhi dua belas siswa.

Enam pasangan peserta Project PRISMA duduk berjajar membentuk setengah lingkaran.

Di meja depan, Bu Nita sedang membagikan map berwarna putih.

Di sampingnya, Dimas sibuk memeriksa daftar hadir.

"Pasangan nomor satu?"

"Hadir."

"Nomor dua?"

"Hadir."

Begitu seterusnya.

Ketika sampai pada pasangan ketujuh...

"Kayla Pramesti."

"Hadir."

"Raka Mahendra."

"Hadir."

Dimas mencoret nama mereka lalu tersenyum ramah.

"Terima kasih."

Berbeda dengan suasana aula tadi pagi, kali ini ruangan terasa jauh lebih tenang.

Lihat selengkapnya