Sabtu pagi.
Langit Jakarta masih bersih ketika Kayla turun dari bus kota di depan gerbang Fakultas Psikologi Universitas Nusantara Jakarta.
Jam tangannya menunjukkan pukul 07.42.
Delapan belas menit lebih awal.
Sesuai rencana.
Ia berdiri beberapa saat di trotoar, memastikan alamat pada map putih yang diberikan sekolah benar.
Di hadapannya berdiri gedung lima lantai dengan dominasi kaca dan dinding berwarna krem. Spanduk besar membentang di atas pintu masuk.
SELAMAT DATANG PESERTA PROJECT PRISMA
Di bawahnya terdapat logo universitas dan SMA Garuda Mandala.
Kayla menarik napas pelan.
"Baik."
Ia merapikan tali tas, lalu melangkah masuk.
Lobi fakultas sudah dipenuhi mahasiswa psikologi yang mengenakan jas almamater biru tua. Sebagian sibuk memasang papan petunjuk, sebagian lagi mengatur meja registrasi.
Suasananya jauh berbeda dari sekolah.
Lebih tenang.
Lebih teratur.
Seorang mahasiswi menghampiri dengan senyum ramah.
"Selamat pagi."
"Pagi."
"Peserta PRISMA?"
"Iya."
"Boleh lihat kartu peserta?"
Kayla menyerahkan kartu identitas dari map putih.
Mahasiswi itu mencentang namanya.
"Silakan masuk ke Ruang Seminar A."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Sebelum pergi, Kayla sempat memperhatikan papan jadwal yang ditempel di dekat pintu.
ORIENTASI PROJECT PRISMA
08.00 – Pembukaan
08.20 – Penjelasan Penelitian
09.00 – Tes Kepribadian
10.15 – Coffee Break
10.30 – Penyusunan Sistem Interaksi
12.00 – Penutupan
Ia otomatis mengingat seluruh urutan kegiatan.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
Jadwal yang jelas selalu membuatnya merasa lebih tenang.
Pukul 07.56.
Enam pasangan peserta sudah duduk di dalam ruangan.
Hanya satu kursi di sebelah Kayla yang masih kosong.
Ia melirik jam.
Empat menit menuju pukul delapan.
Masih ada waktu.
Tiga menit.
Belum datang.
Dua menit.
Kayla mulai mengetukkan ujung pulpen ke meja.
Satu menit.
Ia menoleh ke pintu.
Masih kosong.
Tepat pukul delapan.
Dr. Maya memasuki ruangan.
Semua peserta langsung berdiri.
"Selamat pagi."
"Pagi, Bu."
"Silakan duduk."
Kayla kembali melirik kursi kosong di sebelahnya.
Masih belum ada tanda-tanda Raka.
Ia menghela napas pelan.
"Baru hari pertama..."
Di luar gedung...
Seorang pemuda sedang berlari sambil membawa helm sepeda di tangan.
"Numpang lewat!"
"Maaf!"
"Permisi!"
Raka hampir menabrak pot tanaman di depan lobi.
Satpam kampus sampai menggeleng melihatnya.
"Pelan, Dek!"
"Iya, Pak!"
Raka berhenti sejenak di depan papan petunjuk.
Gedung A.
Lantai dua.
Ruang Seminar A.
"Oke."
Ia langsung menaiki tangga dua anak tangga sekaligus.
Begitu tiba di depan pintu...
Ia merapikan napas.
Menyisir rambut dengan tangan.
Lalu mengetuk perlahan.
Tok.
"Permisi..."
Semua kepala otomatis menoleh.
Raka berdiri di ambang pintu sambil tersenyum canggung.
"Maaf terlambat."
Seluruh ruangan sunyi.
Dimas melihat jam dinding.
Pukul 08.03.
Dr. Maya tidak langsung menjawab.
Beliau hanya memandang Raka beberapa detik.
"Lima menit?"
Raka menggaruk tengkuk.
"Eh..."
"Tiga menit, Bu."
"Benar."
"Silakan masuk."
"Tetapi..."
Dr. Maya menunjuk papan jadwal.
"Dalam penelitian perilaku."
"Tiga menit juga merupakan data."
Raka mengangguk malu.
"Iya, Bu."
Saat berjalan menuju kursinya, ia sempat melirik Kayla.
Kayla membalas tatapan itu sekilas.
Tidak marah.
Namun ekspresinya cukup untuk menyampaikan satu pesan.
"Aku sudah bilang."
Raka hanya bisa nyengir kecil sebelum duduk.
Setelah semua peserta hadir, Dr. Maya berdiri di depan layar presentasi.
"Hari ini kalian akan memulai sesuatu yang mungkin terasa aneh."
"Tetapi kami berharap..."
"...kalian menjalaninya dengan sungguh-sungguh."
Slide pertama muncul.
RELATIONSHIP IS A SKILL.
"Banyak orang menganggap hubungan yang sehat bergantung pada kecocokan."
Dr. Maya berhenti sejenak.
"Kami memiliki pertanyaan yang berbeda."
"Bagaimana jika hubungan yang sehat sebenarnya adalah keterampilan yang bisa dipelajari?"
Ruangan menjadi hening.
Kayla menulis kalimat itu di buku catatannya.
Sementara Raka...
Berusaha tetap fokus meski napasnya masih belum benar-benar normal akibat berlari.
Dimas kemudian mengambil alih.
"Mulai hari ini..."