30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #5

Evaluasi Pertama

Senin pagi.

Sudah tiga hari berlalu sejak orientasi Project PRISMA.

Koridor SMA Garuda Mandala kembali dipenuhi hiruk-pikuk siswa yang baru memulai minggu baru. Suara sapaan, tawa, dan langkah kaki bercampur menjadi irama yang akrab.

Di ruang OSIS, Kayla sedang menempelkan jadwal kegiatan Festival Literasi di papan informasi.

Ia mundur dua langkah.

Memiringkan kepala.

Lalu merapikan sudut kertas yang sedikit terangkat.

"Masih miring?"

Suara Nabila terdengar dari belakang.

"Tiga milimeter."

Nabila memicingkan mata.

"Serius?"

"Iya."

"Kay..."

"Hm?"

"Aku yakin kalau suatu hari bumi bergeser satu derajat, kamu orang pertama yang sadar."

Kayla tersenyum kecil sambil kembali menekan ujung kertas.

"Beres."

Nabila menggeleng sambil terkekeh.

"Kadang aku iri."

"Iri?"

"Kamu kelihatannya selalu tahu harus ngapain."

Kayla terdiam sesaat.

Ia memandang jadwal yang baru saja ditempel.

"Bukan selalu tahu."

"Lalu?"

"Aku cuma berusaha menyiapkan semuanya."

Nabila memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.

"Kamu gugup soal PRISMA?"

Kayla tidak langsung menjawab.

Ia menutup spidol, lalu memasukkannya ke tempat pensil.

"...Sedikit."

"Nah."

"Akhirnya ngaku juga."

"Bukan karena Rakanya."

"Lho, aku belum nyebut nama siapa-siapa."

Kayla menghela napas pelan.

"Aku cuma belum pernah ikut penelitian."

"Takut salah."

Nabila tersenyum hangat.

"Namanya juga penelitian."

"Kalau semuanya udah benar dari awal..."

"...nggak usah diteliti lagi."

Kalimat itu membuat Kayla berpikir.

Mungkin...

Ada benarnya juga.


Sementara itu, di lapangan basket...

"Bola! Bola!"

"Rak!"

"Belakang!"

Raka menangkap operan Dion nyaris di luar garis lapangan.

Ia langsung melompat melakukan tembakan.

Bola memantul di ring.

Masuk.

"Yess!"

Dion mengangkat kedua tangan.

"Masih hidup ternyata!"

Raka menyeringai.

"Makasih atas doanya."

Latihan pagi berakhir ketika pelatih meniup peluit.

"Sepuluh menit istirahat!"

Seluruh anggota tim langsung duduk di pinggir lapangan.

Dion menyodorkan botol minum kepada Raka.

"Nih."

"Makasih."

Raka meneguk air panjang-panjang.

Belum sempat ia menutup botol, Dion sudah menyikut lengannya.

"Gimana?"

"Apa?"

"Partner penelitian."

Raka mengusap wajah dengan handuk kecil.

"Normal."

"Normal?"

"Iya."

"Dia serius banget."

"Terus?"

"Ya... itu."

Dion menghela napas dramatis.

"Rak."

"Hm?"

"Cewek kayak gitu kalau senyum sekali..."

"...orang bisa ngerasa menang lotre."

Raka tertawa.

"Lebay."

"Aku serius."

"Dia senyum nggak?"

Raka terdiam sejenak.

"...Dua kali."

"MANTAP!"

Satu lapangan langsung menoleh karena suara Dion terlalu keras.

Pelatih mengernyit.

"Dion!"

"Iya, Coach!"

"Kalau energimu masih banyak..."

"...lari lima putaran."

Senyum Dion langsung hilang.

"Rak..."

"Hm?"

"Ini semua gara-gara senyum Kayla."

Raka tertawa terbahak.


Pukul tiga sore.

Ruang seminar Fakultas Psikologi kembali dipenuhi tujuh pasangan peserta Project PRISMA.

Di depan pintu masuk, mahasiswa psikologi membagikan kartu evaluasi pertama.

Kayla menerima kartunya.

Di bagian atas tertulis:

Evaluasi Minggu Pertama

Hari ke-3

Raka duduk di kursi sebelahnya sambil memutar-mutar pulpen.

"Deg-degan?"

tanya Raka pelan.

"Kenapa harus?"

"Kayak ujian."

"Bukan ujian."

"Tapi dinilai."

"Yang dinilai proses."

Raka mengangguk.

"Iya juga."

Dimas berjalan ke depan ruangan.

"Selamat sore."

"Sore."

"Hari ini kami tidak menguji siapa pasangan terbaik."

"Kami hanya ingin melihat..."

"...bagaimana kalian mulai beradaptasi."

Lampu diredupkan.

Layar presentasi menyala.

Slide pertama muncul.

KOMUNIKASI ADALAH KETERAMPILAN.

"Banyak konflik," ujar Dr. Maya, "bukan terjadi karena niat buruk."

"Melainkan..."

"...karena asumsi."

Seluruh peserta mulai memperhatikan.

"Karena itu..."

"Hari ini setiap pasangan akan menjawab beberapa pertanyaan sederhana."

Lihat selengkapnya