Selasa pagi.
Untuk pertama kalinya sejak Project PRISMA dimulai, Kayla membuka jurnal biru sebelum membuka planner hariannya.
Dua buku itu terletak berdampingan di atas meja belajar.
Planner.
Dan jurnal.
Yang satu mengatur hidupnya.
Yang satu lagi... perlahan mulai mengubahnya.
Kayla membuka halaman bertuliskan Aturan Pasangan.
Nomor satu.
Jangan jatuh cinta.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Masih terasa masuk akal.
Hubungan mereka hanyalah bagian dari penelitian.
Semakin jelas batasnya, semakin kecil kemungkinan muncul masalah yang tidak perlu.
Ia mengangguk puas.
"Sudah benar."
Setelah memasukkan jurnal ke dalam tas, ia kembali memeriksa planner.
✓ Bangun.
✓ Olahraga.
✓ Sarapan.
✓ Membawa jurnal PRISMA.
Tidak ada yang terlewat.
Di rumah Raka...
Alarm berbunyi tepat pukul enam.
Raka membuka satu mata.
Melirik jam.
Lalu melihat catatan tempel yang menempel di samping alarm.
Tulisan tangan besar memenuhi kertas kuning itu.
JANGAN TELAT.
HARI PERTAMA ATURAN.
Ia mengerutkan dahi.
"Siapa..."
Beberapa detik kemudian ia tertawa sendiri.
"Pasti Ayah."
Benar saja.
Saat turun ke ruang makan, Budi sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca berita di ponsel.
"Pagi."
"Pagi."
Raka duduk.
"Kertas di kamar..."
"Sengaja."
Budi tersenyum tanpa mengangkat kepala.
"Biar kamu nggak bikin malu partner penelitian."
Raka mengambil sepotong roti.
"Ayah juga ikut-ikutan."
"Semua orang ikut-ikutan."
"Hah?"
"Semalam Pak Ujang telepon."
Raka langsung tersedak.
"Pak Ujang?"
"Iya."
"Nanya apa?"
"'Anak Bapak besok datang tepat waktu nggak?'"
Budi menahan tawa.
"Serius?"
"Iya."
Raka menutup wajahnya.
"Reputasiku ternyata sudah nasional."
"Bukan."
Budi mengoreksi santai.
"Masih tingkat sekolah."
Pukul 06.50.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir...
Raka memasuki gerbang sekolah sebelum bel berbunyi.
Pak Ujang sampai melepas kacamatanya.
"Lho?"
Raka menyeringai.
"Pagi, Pak."
Pak Ujang melihat jam dinding.
Lalu melihat Raka lagi.
"Kamu..."
"Iya."
"...Raka?"
"Iya."
"Yakin?"
Beberapa siswa yang mendengar percakapan itu langsung tertawa.
Raka mengangkat kedua tangan.
"Aku datang tepat waktu."
Pak Ujang berjalan mengelilinginya seolah sedang memeriksa barang bukti.
"Nggak demam?"
"Nggak."
"Nggak salah tanggal?"
"Nggak juga."
Pak Ujang mengangguk pelan.
"Hebat."
"Ada mukjizat pagi ini."
Raka ikut tertawa.
"Demi penelitian, Pak."
"Nah."
Pak Ujang menepuk bahunya.
"Kalau penelitian bisa bikin kamu tepat waktu..."
"...kampus itu layak dapat penghargaan."
Beberapa meter dari gerbang...
Kayla baru saja turun dari bus.
Ia menghentikan langkah ketika melihat seseorang berdiri di dekat taman sekolah sambil memegang botol minum.
Raka.
Ia melirik jam tangannya.
06.51.
Masih sembilan menit sebelum bel masuk.
Kayla mengerjap pelan.
"Kamu..."
Raka langsung membalikkan badan.
"Oh."
"Pagi."
"Pagi."
"Kamu datang..."
"...lebih awal."
"Nah."
Raka tersenyum bangga.
"Berarti usahaku kelihatan."
Kayla mengangguk kecil.
"Bagus."
Hanya satu kata.
Namun entah kenapa, Raka merasa lebih puas mendengar pujian singkat itu daripada nilai seratus saat ulangan olahraga.
"Aturan pertama berhasil."
katanya sambil berjalan berdampingan.
Kayla mengernyit.
"Aturan pertama?"
"Aku kira aturan pertama..."
"...jangan telat."
Kayla menatapnya datar.
"Bukan."
"Oh iya."
Raka tertawa kecil.
"Yang itu cuma aturan tidak tertulis dari kamu."
Kayla membuka jurnal birunya.
Menunjukkan halaman yang sama.
"Aturan pertama."
Raka membaca pelan.
Jangan jatuh cinta.
Ia mengangguk.
"Masih terdengar ekstrem."
"Itu batas."
"Itu pagar."
"Supaya penelitian tetap objektif."
Raka memasukkan kedua tangan ke saku.
"Lalu kalau kita cuma jadi teman?"
"Tidak masalah."
"Kalau sahabat?"
"Masih tidak masalah."
"Kalau musuhan?"
"Itu justru mengganggu penelitian."
Raka berpikir beberapa detik.
"Lumayan ribet juga ya."
"Hubungan antarmanusia memang rumit."
jawab Kayla.
"Tapi..."
Raka meliriknya sekilas.