Rabu pagi.
Kayla kembali membuka jurnal PRISMA sebelum berangkat sekolah.
Kini halaman Aturan Pasangan tidak lagi hanya berisi satu kalimat.
Di bawah Aturan Nomor 1, sudah tersusun beberapa aturan baru hasil diskusi mereka di perpustakaan kemarin.
Jangan bohong.
Jangan membuat partner menunggu tanpa kabar.
Kalau marah, katakan baik-baik.
Ia membaca semuanya sekali lagi.
Lalu menutup jurnal dengan hati-hati.
Di bagian paling atas planner hariannya, ia menambahkan satu agenda baru.
15.00 – Evaluasi aturan bersama Raka.
Entah sejak kapan...
Agenda yang melibatkan Raka mulai muncul di antara daftar kegiatannya.
Di rumah Raka, suasana jauh lebih berisik.
"Ayah!"
"Apa?"
"Bekal aku mana?"
"Di kulkas."
"Lho, kirain di meja."
"Kamu semalam sendiri yang masukin kulkas."
"Oh iya..."
Budi tertawa kecil sambil menggeleng.
"Kamu ini."
Raka membuka pintu kulkas.
Kotak bekalnya memang ada di sana.
Di atasnya menempel secarik kertas kecil.
Jangan lupa kasih kabar kalau pulang terlambat.
Raka tersenyum sendiri.
"Kayaknya..."
"...penyakit bikin aturan itu menular."
"Ayah dengar."
Budi menyahut dari ruang tamu.
"Bagus."
"Biar hidupmu lebih teratur."
Jam istirahat pertama.
Koridor sekolah dipenuhi siswa yang keluar kelas.
Kayla berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku referensi ketika sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Raka!"
Seorang siswi melambai dari ujung koridor.
Rambut panjangnya dikuncir sederhana.
Ia membawa beberapa lembar kertas gambar.
"Eh, Vania."
Raka menghampiri dengan senyum ramah.
"Kamu pindah kelas?"
"Iya."
"Mulai minggu ini."
"Kok baru tahu?"
"Soalnya kamu jarang ke ruang seni."
"Kena."
Mereka sama-sama tertawa.
Kayla yang berada beberapa meter dari sana tidak sengaja melihat pemandangan itu.
Ia mengenali wajah siswi tersebut.
Vania.
Juara ilustrasi tingkat provinsi tahun lalu.
Mereka pernah satu panitia pameran sekolah.
Vania menyerahkan gulungan kertas kepada Raka.
"Ini poster basket yang kamu minta."
"Wah."
"Makasih."
"Sama-sama."
"Kapan-kapan traktir es teh."
"Siap."
Percakapan mereka berlangsung singkat.
Santai.
Dipenuhi tawa kecil.
Kayla tetap berdiri di tempatnya.
Bukan karena ingin mendengar.
Melainkan karena jalur menuju perpustakaan memang melewati koridor itu.
"Temannya..."
batinnya.
"Mungkin teman lama."
Ia hendak melanjutkan langkah.
Namun tanpa sadar...
Pandangannya kembali tertuju pada Raka yang masih tersenyum saat menerima gulungan poster.
Ada sesuatu yang terasa... mengganjal.
Bukan marah.
Bukan juga kecewa.
Hanya...
Aneh.
"Kay!"
Suara Nabila membuat Kayla tersentak.
"Kamu ngapain?"
"Hm?"
"Dari tadi berdiri."
"Oh."
Kayla langsung berjalan lagi.
"Nggak apa-apa."
Nabila mengikuti di sampingnya.
"Tadi lihat apa?"
"Nggak lihat apa-apa."
"Bohong."
"Aku nggak bohong."
"Kalau nggak bohong..."
Nabila menoleh ke belakang.
"...kenapa masih nengok?"
Refleks.
Kayla kembali menoleh.
Raka dan Vania masih mengobrol.
Tidak lama.
Lalu Vania melambaikan tangan dan pergi ke arah gedung seni.
Raka berjalan menuju kantin.
Kayla segera mengalihkan pandangan.
Nabila menyipitkan mata.
"Oooo..."
"Apa?"
"Menarik."
"Tidak ada yang menarik."
"Yakin?"
"Yakin."
Nabila tersenyum jahil.
"Nama cewek tadi Vania."
Kayla berhenti berjalan.
"Kamu kenal?"
"Iya."
"Anak ekskul seni."
"Oh."
"Habis itu?"
"Tidak apa-apa."
"Nggak nanya mereka kenal dari mana?"
"Tidak."
"Nggak penasaran?"
"Tidak."
Jawaban Kayla terdengar terlalu cepat.
Nabila langsung menyeringai.
"Kay..."
"Hm?"
"Kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Kalau orang benar-benar nggak penasaran..."
"...biasanya mereka nggak perlu bilang 'tidak' tiga kali."
Kayla terdiam.