30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #8

Aturan #3 — Jangan Memanggil dengan Panggilan Sayang


Kamis pagi.

Pukul 06.40.

Koridor SMA Garuda Mandala masih lengang ketika Kayla tiba di ruang OSIS.

Seperti biasa.

Ia membuka jendela, menyalakan lampu, lalu meletakkan tas di kursi paling dekat dengan lemari arsip.

Planner dikeluarkan.

Jurnal PRISMA diletakkan di sebelahnya.

Kebiasaan baru.

Tangannya berhenti di halaman Aturan Pasangan.

Nomor satu.

Nomor dua.

Lalu ruang kosong berikutnya.

Hari ini mereka harus menyusun Aturan Nomor 3.

Kayla memutar pulpen di sela jemarinya.

Ia sudah memiliki beberapa ide.

Namun kali ini ia memutuskan untuk tidak langsung menulis.

Raka juga harus ikut menentukan.

Hubungan ini...

atau lebih tepatnya penelitian ini...

tidak boleh hanya mengikuti caranya.

Kesadaran itu muncul begitu saja.

Dan untuk pertama kalinya, Kayla tidak merasa harus mengendalikan semuanya sendiri.


Di kelas XI IPS 2...

"Dion."

"Hm?"

"Kalau orang dipanggil 'Bos' terus..."

"...lama-lama ngerasa jadi bos nggak?"

Dion yang sedang mengunyah roti menatap Raka datar.

"Pertanyaan macam apa itu?"

"Penasaran aja."

"Kenapa?"

"Dr. Maya kemarin bilang..."

"...cara kita memanggil seseorang bisa memengaruhi hubungan."

Dion mengangguk.

"Betul."

"Kalau gue manggil lo 'Yang Mulia'..."

"...lo juga nggak bakal berubah jadi raja."

"Tapi lucu."

"Memang."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, Fikri datang membawa selembar pengumuman.

"Woi."

"Hari ini tiap pasangan PRISMA disuruh bikin video komunikasi."

Raka menerima kertas itu.

Di bagian bawah tertulis:

Latihan Interaksi Hari ke-6

Simulasikan percakapan santai selama lima menit.

Gunakan panggilan yang menurut kalian paling nyaman.

Raka membaca kalimat terakhir dua kali.

Lalu tersenyum tipis.

"Waduh."


Pukul tiga sore.

Studio mini Fakultas Psikologi sudah diubah menjadi ruang simulasi.

Di dalamnya hanya ada dua kursi, satu meja kecil, dan kamera yang dipasang menghadap peserta.

Mahasiswa psikologi sibuk memeriksa mikrofon.

Dimas berdiri di dekat monitor.

"Hari ini sederhana."

"Saya justru takut kalau Bapak bilang sederhana."

celetuk salah satu peserta.

Ruangan langsung tertawa.

Dimas ikut tersenyum.

"Tugasnya hanya mengobrol."

"Selama lima menit."

"Topiknya bebas."

"Tapi..."

Ia menunjuk layar.

"Usahakan menggunakan panggilan yang terasa alami."

"Jangan dibuat-buat."

Kayla membaca instruksi itu perlahan.

Di sampingnya, Raka berbisik,

"Kalau aku manggil kamu 'Ketua' boleh?"

"Itu bukan panggilan."

"Lalu?"

"Itu jabatan."

"Benar juga."

"Kalau 'Kay'?"

"Itu boleh."

"Syukurlah."

Kayla meliriknya.

"Kamu sendiri?"

"Hm?"

"Aku harus memanggilmu apa?"

Raka berpikir beberapa detik.

"Rak aja."

"Sederhana."

"Oke."

Sebelum sesi dimulai, Bu Nita berjalan melewati mereka.

"Pasangan tujuh."

"Iya, Bu?"

"Kalian siap?"

"Siap."

jawab Kayla.

"Insyaallah."

jawab Raka.

Bu Nita tertawa.

"Jawabannya kompak tapi beda."


"Pasangan nomor tujuh."

Mahasiswa psikologi mempersilakan mereka masuk ke studio.

Lampu kamera menyala.

Dimas memberi aba-aba.

"Tiga..."

"Dua..."

"Satu..."

"Mulai."

Beberapa detik pertama...

Tidak ada yang berbicara.

Kayla dan Raka saling memandang.

Lalu hampir bersamaan mereka tertawa kecil.

"Harus mulai dari siapa?"

tanya Raka.

"Kamu."

"Kenapa?"

"Kamu lebih banyak bicara."

"Oke."

Raka mengangguk mantap.

"Halo..."

Ia berhenti.

"...Kay."

Kayla mengangguk.

"Halo, Rak."

Percakapan mulai mengalir.

Mereka membahas tugas sekolah.

Lihat selengkapnya