30 HARI JADI PACAR

Ahmad Barnash
Chapter #9

Aturan #4 — Jangan Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain

Jumat pagi.

Hujan turun sejak subuh.

Tidak deras.

Hanya cukup untuk membuat halaman sekolah basah dan udara terasa lebih sejuk daripada biasanya.

Kayla menutup payung lipatnya tepat di depan gerbang SMA Garuda Mandala.

Pak Ujang langsung menyambutnya dengan senyum lebar.

"Pagi, Neng Kayla."

"Pagi, Pak."

"Hati-hati, lantainya licin."

"Baik, Pak."

Kayla baru melangkah beberapa meter ketika terdengar suara rem sepeda yang berdecit pelan.

"Criiit..."

Ia menoleh.

Raka berhenti di bawah pohon ketapang sambil mengusap wajah yang basah oleh gerimis.

"Untung nggak telat..."

gumamnya sendiri.

Pak Ujang langsung menyahut,

"Perkembangan bagus!"

Raka tertawa.

"Pak..."

"Iya?"

"Boleh minta sertifikat?"

"Sertifikat apa?"

"'Berhasil Datang Tepat Waktu Tiga Hari Berturut-turut.'"

Pak Ujang berpura-pura berpikir.

"Boleh."

"Tapi syaratnya sebulan penuh."

Raka langsung mengembuskan napas panjang.

"Berat juga."

Kayla yang mendengar percakapan itu tanpa sadar tersenyum.

Raka melihatnya.

"Nah."

"Ada saksi."

"Aku udah berubah."

Kayla mengangguk kecil.

"Memang."

"Satu kata lagi."

"Apa?"

"Bagus."

Kayla menatapnya beberapa detik.

"...Bagus."

Entah kenapa...

Pujian singkat itu kembali membuat Raka tersenyum puas.


Jam pertama diisi pelajaran Bahasa Indonesia.

Bu Ratna berjalan ke depan kelas sambil membawa beberapa lembar kertas.

"Hari ini kita latihan presentasi."

Beberapa siswa langsung mengeluh pelan.

"Tugasnya sederhana."

"Presentasikan seseorang yang menurut kalian menginspirasi."

"Teman."

"Keluarga."

"Tokoh."

"Bebas."

Kayla langsung mencatat poin-poin presentasinya.

Sementara itu, di kelas IPS, guru yang berbeda memberikan tugas yang hampir sama.

"Presentasi tentang orang yang paling berpengaruh dalam hidup kalian."

Dion langsung berbisik kepada Raka.

"Gue mau pilih Coach."

"Kenapa?"

"Kalau pilih ibu..."

"...gue pasti nangis."

Raka mengangguk pelan.

Ia sendiri belum tahu akan memilih siapa.


Pukul tiga sore.

Seluruh peserta PRISMA kembali berkumpul di ruang seminar kampus.

Di depan layar sudah terpampang satu kalimat besar.

PERBANDINGAN ADALAH AWAL DARI KETIDAKPUASAN

Raka membaca pelan.

"Waduh."

Kayla membuka buku catatannya.

Dimas mulai menjelaskan.

"Tanpa sadar..."

"Manusia sering membandingkan."

"Nilai."

"Pekerjaan."

"Keluarga."

"Bahkan..."

"...pasangan."

Slide berganti.

Muncul pertanyaan sederhana.

'Kenapa kamu nggak bisa seperti dia?'

Ruangan langsung hening.

Dr. Maya melangkah ke depan.

"Kalimat ini terdengar sederhana."

"Tetapi..."

"...termasuk salah satu kalimat yang paling sering melukai hubungan."

Kayla berhenti menulis.

Entah mengapa...

Kalimat itu mengingatkannya pada masa kecil.

"Lihat sepupumu."

"Nilainya selalu seratus."

"Kamu juga harus bisa."

Ia menggeleng pelan, mencoba kembali fokus.

Di sebelahnya, Raka juga tampak lebih serius dari biasanya.


"Latihan hari ini."

ucap Dimas.

"Setiap pasangan akan saling menyebutkan tiga hal yang mereka hargai dari partnernya."

"Tetapi..."

"Sama sekali tidak boleh menggunakan kata 'lebih baik daripada'."

"Atau bentuk perbandingan apa pun."

Raka langsung berbisik,

"Kay."

"Hm?"

"Ini susah."

"Kenapa?"

"Soalnya aku biasa ngomong..."

"'Lebih enak.'"

"'Lebih bagus.'"

"'Lebih lucu.'"

Kayla tersenyum tipis.

"Berarti hari ini kita belajar."

Mahasiswa psikologi mulai membagikan kartu evaluasi.

Di bagian atas tertulis:

Latihan Apresiasi Tanpa Perbandingan

Dimas menyalakan stopwatch.

"Lima menit."

Lihat selengkapnya