Sabtu pagi.
Langit Jakarta berwarna kelabu sejak matahari terbit.
Gerimis tipis turun sesekali, cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin.
Di meja belajar, Kayla menatap dua buku yang kini selalu menemaninya.
Planner.
Dan jurnal PRISMA.
Ia membuka halaman Aturan Pasangan.
Empat aturan telah terisi rapi.
Jangan jatuh cinta.
Jangan cemburu.
Jangan memanggil dengan panggilan sayang.
Jangan membandingkan pasangan dengan orang lain.
Masih tersisa dua puluh enam baris kosong.
Tangannya berhenti di ujung halaman.
Tanpa sadar, ia mulai menantikan aturan berikutnya.
Bukan karena menyukai aturan.
Melainkan...
Karena setiap aturan selalu lahir dari sesuatu yang mereka alami bersama.
Di rumah Raka...
"Ayah!"
Budi yang sedang menyiram tanaman menoleh.
"Kenapa?"
"Menurut Ayah..."
Raka bersandar di kusen pintu.
"...orang itu suka ngetes orang lain nggak?"
Budi mematikan keran.
"Tes yang gimana?"
"Misalnya..."
"...sengaja nggak bales chat."
"Atau pura-pura marah."
"Supaya tahu reaksi orang."
Budi tertawa kecil.
"Itu bukan ngetes."
"Lalu?"
"Itu bikin soal."
"Hah?"
"Bedanya..."
Budi mengambil selang lagi.
"Kalau ujian sekolah..."
"...yang pusing murid."
"Kalau ujian perasaan..."
"...yang pusing dua-duanya."
Raka mengangguk pelan.
"Hm..."
"Kenapa memang?"
"Nggak."
"Cuma kepikiran."
Budi tersenyum tipis.
"Kamu mulai banyak mikir sejak ikut penelitian itu."
"Iya ya?"
"Iya."
"Bagus."
Pukul sembilan.
Seluruh peserta PRISMA berkumpul di taman belakang Fakultas Psikologi.
Hari itu tidak ada ruang kelas.
Tidak ada proyektor.
Tidak ada meja.
Hanya tikar besar yang dibentangkan di bawah pohon trembesi tua.
"Serasa kemah."
gumam Dion.
Dimas tersenyum.
"Supaya suasananya lebih santai."
Bu Nita membawa dua keranjang berisi kartu permainan.
"Hari ini..."
katanya.
"...kita belajar lewat simulasi."
Para peserta tampak jauh lebih rileks dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Beberapa bahkan mulai bercanda dengan pasangannya.
Kayla memperhatikan suasana itu.
Tanpa sadar, ia juga merasa tidak setegang hari pertama.
Dr. Maya berdiri di depan kelompok.
"Hari ini kita membahas..."
Beliau mengangkat sebuah kartu.
"...kepercayaan."
Lalu kartu berikutnya.
"...dan rasa aman."
Beliau berhenti sejenak.
"Banyak orang..."
"...tanpa sadar menguji orang yang mereka sayangi."
Ruangan langsung hening.
"Sengaja menghilang."
"Pura-pura marah."
"Membuat orang lain cemburu."
"Tidak membalas pesan."
"Hanya untuk memastikan..."
"...apakah dirinya benar-benar dianggap penting."
Kayla langsung teringat cerita ayah dan ibunya yang sering saling diam ketika ada masalah.
Sementara Raka teringat beberapa teman basket yang sengaja membuat pacarnya kesal demi melihat reaksi mereka.
Dr. Maya melanjutkan,
"Masalahnya..."
"Orang yang sedang diuji..."
"...tidak pernah tahu bahwa dirinya sedang mengikuti ujian."
"Latihan hari ini."
ucap Dimas.
"Sangat sederhana."
Mahasiswa psikologi mulai membagikan amplop kecil kepada setiap pasangan.
Di dalamnya terdapat beberapa kartu situasi.
Pasangan diminta mengambil satu kartu secara acak.
Raka mengambil lebih dulu.
Ia membuka kartu itu.
Lalu membaca keras-keras.
'Partner Anda terlambat membalas pesan selama enam jam.'
Raka tertawa kecil.
"Waduh."
Kayla menerima kartu itu.
"Enam jam."
"Iya."
"Kamu akan melakukan apa?"
Raka berpikir beberapa detik.
"Nunggu."
"Terus?"
"Kalau besok masih nggak bales..."
"...baru aku tanya."
Kayla mengangguk.
"Kenapa tidak langsung marah?"
"Soalnya..."
Raka mengangkat bahu.
"...bisa aja dia lagi sibuk."
"Atau HP-nya habis baterai."
"Atau..."