Senin pagi.
Minggu kedua Project PRISMA dimulai.
Di meja belajar Kayla, planner dan jurnal PRISMA kini sudah menjadi sepasang benda yang hampir selalu dibuka bersamaan.
Ia mencoret agenda hari Minggu yang telah selesai.
✓ Menyusun proposal.
✓ Mengerjakan laporan Biologi.
✓ Membaca jurnal psikologi yang direkomendasikan Dr. Maya.
Lalu pandangannya berpindah ke jurnal PRISMA.
Lima aturan telah memenuhi halaman pertama.
Masih ada dua puluh lima aturan lagi.
Entah mengapa...
Halaman yang awalnya terasa terlalu kosong itu kini justru terasa seperti perjalanan yang perlahan mulai terisi.
"Kayla."
Suara ibunya terdengar dari ruang makan.
"Sarapan."
"Iya, Ma."
Kayla menutup jurnalnya.
Namun sebelum memasukkannya ke tas, ia kembali membaca aturan terakhir.
Jangan menguji perasaan pasangan. Jika ada yang ingin diketahui, tanyakan dengan jujur.
Ia tersenyum kecil.
Kalimat itu terasa sederhana.
Tetapi selama seminggu terakhir...
Ia mulai menyadari bahwa hubungan yang sehat ternyata jauh lebih banyak dipenuhi pertanyaan daripada dugaan.
Di sekolah, suasana Senin pagi selalu lebih sibuk.
Guru-guru membawa setumpuk berkas.
Siswa berlarian mengejar bel.
Petugas kebersihan masih menyapu daun-daun yang gugur setelah hujan semalam.
Pak Ujang berdiri di gerbang seperti biasa.
Begitu melihat Raka datang mengayuh sepeda sebelum pukul tujuh...
Ia langsung bertepuk tangan pelan.
"Empat hari."
Raka turun dari sepedanya.
"Hah?"
"Empat hari tepat waktu."
Pak Ujang mengangguk bangga.
"Kalau begini terus..."
"...saya kehilangan bahan cerita."
Raka tertawa.
"Maaf ya, Pak."
"Jangan minta maaf."
"Pertahankan."
Saat hendak berjalan menuju parkiran, Raka melihat Kayla baru turun dari bus.
Mereka saling mengangguk.
"Pagi."
"Pagi."
Kini sapaan itu terasa jauh lebih alami dibanding minggu lalu.
Jam istirahat pertama.
Kayla sedang menyusun buku di perpustakaan ketika ponselnya bergetar.
Grup PRISMA.
Dimas: Hari ini evaluasi dimulai pukul 15.30. Ada perubahan jadwal karena salah satu dosen masih mengajar. Mohon seluruh peserta hadir tepat waktu.
Kayla langsung membalas.
Kayla: Baik.
Tak lama kemudian...
Balasan lain muncul.
Raka: Siap 👍
Kayla membaca pesan itu dua kali.
Lalu tanpa sadar tersenyum.
"Nah."
Suara Nabila muncul dari balik rak buku.
"Senyum lagi."
Kayla langsung mengunci layar ponselnya.
"Senyum kenapa?"
"Entahlah."
Nabila mengambil sebuah novel dari rak.
"Tapi sekarang kamu sering senyum lihat HP."
"Aku sedang baca pengumuman."
"Iya..."
"Pengumuman."
Nabila mengangguk pura-pura percaya.
"Pengumuman yang dikirim siapa?"
"Grup."
"Yang ada siapa?"
"Semua peserta."
"Termasuk?"
Kayla menghela napas pelan.
"...Raka."
"Nah."
Nabila tersenyum puas.
"Aku nggak bilang apa-apa, lho."
Pukul tiga sore.
Ruang seminar kembali dipenuhi tujuh pasangan peserta.
Hari ini layar presentasi hanya menampilkan satu kalimat.
ASUMSI ADALAH MUSUH KOMUNIKASI.
Dr. Maya berdiri di depan.
"Selamat sore."
"Sore."
"Hari ini kita akan membahas sesuatu yang sangat sering terjadi."
Beliau berhenti sejenak.
"Lalu sangat sering disesali."
Slide berikutnya muncul.
'Aku kira kamu pasti mengerti.'
Ruangan langsung sunyi.
"Banyak konflik..."
lanjut Dr. Maya.
"...berasal dari keyakinan bahwa orang lain bisa membaca pikiran kita."
"Padahal..."
"...bahkan kita sendiri sering tidak memahami perasaan kita."
Kayla menuliskan kalimat itu.
Sementara Raka mengangguk pelan.
"Kena juga."
gumamnya.
"Latihan pertama."
ucap Dimas.
"Setiap pasangan akan mendapatkan gambar yang berbeda."
Mahasiswa psikologi membagikan dua kartu tertutup.
"Peserta A melihat gambar pertama."
"Peserta B tidak boleh melihat."
"Tugasnya hanya menjelaskan dengan kata-kata."
"Tidak boleh menunjuk."
"Tidak boleh menggambar."
"Tidak boleh mengatakan..."
"'Ya pokoknya seperti itu.'"
Beberapa peserta tertawa.
Kayla menerima kartu pertama.
Ia membukanya.
Gambar sebuah rumah sederhana dengan pohon mangga, pagar putih, dan seekor kucing di halaman.
"Oke."
katanya pelan.
Raka memegang kertas kosong.
"Siap."
"Mulai."
Kayla mulai menjelaskan.
"Ada bangunan."
"Persegi."
"Atap segitiga."
"Di sebelah kiri ada..."