Selasa pagi.
Hujan semalam meninggalkan langit yang masih diselimuti awan tipis.
Koridor SMA Garuda Mandala mulai ramai oleh siswa yang datang membawa payung basah.
Kayla menutup loker kelasnya, lalu membuka ponsel.
Seperti kebiasaannya sejak seminggu terakhir, ia memeriksa grup Project PRISMA lebih dulu.
Tidak ada pengumuman baru.
Hanya satu pesan dari Dimas yang dikirim pukul 06.15.
Dimas: Jangan lupa membawa jurnal hari ini. Akan ada sesi refleksi individu.
Kayla memberi tanda baca pada pesan itu.
Lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku blazer.
Saat hendak berjalan menuju kelas, suara langkah kaki tergesa terdengar dari belakang.
"Kay!"
Ia menoleh.
Raka berhenti di depannya sambil mengatur napas.
"Kamu..."
Kayla melirik jam tangan.
"...nggak telat."
Raka langsung tersenyum bangga.
"Udah seminggu."
"Selamat."
"Cuma 'selamat'?"
"Kamu maunya apa?"
"Minimal tepuk tangan."
Kayla berpikir beberapa detik.
Lalu benar-benar bertepuk tangan dua kali.
"Clap."
"Clap."
Raka tertawa.
"Ya ampun."
"Kamu serius banget."
"Kamu yang minta."
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung utama.
Tanpa sadar...
Jarak di antara mereka kini jauh lebih dekat dibanding hari pertama.
Jam kedua berlangsung pelajaran Kimia.
Kayla duduk di dekat jendela sambil mencatat rumus yang ditulis guru.
Namun pikirannya beberapa kali teralihkan.
Bukan karena pelajaran.
Melainkan karena Raka.
Sejak pagi tadi...
Ia tampak lebih pendiam.
Tidak seperti biasanya.
Di kelas IPS.
Dion menyenggol siku Raka.
"Rak."
"Hm?"
"Lo kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Bohong."
"Serius."
Dion menatap wajah sahabatnya beberapa detik.
"Kalau lo jawabnya pendek..."
"...berarti ada yang dipikirin."
Raka hanya mengembuskan napas pelan.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Ayah
Ayah lembur hari ini. Mungkin pulang malam. Jangan tunggu makan.
Raka membaca pesan itu cukup lama.
Lalu menguncinya kembali.
"Tuh kan."
kata Dion pelan.
"Ada apa?"
Raka menggeleng.
"Nggak penting."
Sore harinya...
Seluruh peserta PRISMA kembali berkumpul.
Hari ini suasana ruangan terasa lebih tenang.
Dr. Maya berdiri di depan tanpa slide presentasi.
Beliau hanya membawa sebuah kotak kayu kecil.
"Selamat sore."
"Sore."
"Hari ini..."
Beliau membuka kotak itu.
"...kita tidak akan mulai dengan teori."
Di dalam kotak terdapat beberapa amplop tertutup.
Setiap pasangan menerima satu amplop.
Kayla membuka miliknya.
Di dalamnya terdapat sebuah cerita pendek.
Judulnya sederhana.
"Pesan yang Tidak Pernah Dikirim."
Ia mulai membaca.
Cerita itu mengisahkan dua sahabat yang berhenti berbicara hanya karena sama-sama menunggu siapa yang menghubungi lebih dulu.
Tak ada pertengkaran.
Tak ada kebencian.
Hanya...
Keheningan.
Dan keheningan itu perlahan berubah menjadi jarak.
Setelah semua peserta selesai membaca, Dr. Maya bertanya pelan,
"Menurut kalian..."
"...siapa yang salah?"
Ruangan hening.
Beberapa peserta menjawab,
"Dua-duanya."
"Sama-sama gengsi."
"Sama-sama diam."
Dr. Maya mengangguk.
"Lalu..."
"Kenapa mereka diam?"
Tak ada jawaban.
"Karena mereka sama-sama menganggap..."
"...kalau orang yang peduli pasti akan datang lebih dulu."
Beliau tersenyum tipis.
"Padahal..."
"...tidak semua orang tahu kapan harus datang."
Sesi latihan dimulai.
Dimas membagikan kartu instruksi.
Simulasi: Konflik Kecil
Salah satu pasangan diminta meninggalkan ruangan selama lima menit.
Yang lain menunggu tanpa diberi penjelasan.
Raka membaca instruksi itu.
"Lagi-lagi aku?"
Kayla tersenyum kecil.
"Kebetulan."