Rabu pagi.
Sudah hampir dua minggu Project PRISMA berjalan.
Koridor SMA Garuda Mandala mulai dipenuhi perubahan-perubahan kecil yang bahkan tidak disadari oleh para pesertanya.
Pasangan nomor dua kini selalu sarapan bersama sebelum evaluasi.
Pasangan nomor lima mulai terbiasa saling mengingatkan jadwal.
Sementara pasangan nomor tujuh...
Sudah memiliki kebiasaan baru.
"Morning."
Raka mengangkat tangan kecil begitu melihat Kayla turun dari bus.
"Pagi."
jawab Kayla sambil berjalan menghampiri.
Tidak ada lagi rasa canggung.
Tidak ada lagi jeda lima detik sebelum berbicara.
Sapaan itu kini mengalir begitu saja.
Pak Ujang yang melihat dari pos satpam tersenyum geli.
"Dulu."
katanya kepada petugas kebersihan.
"Mereka lewat gerbang kayak dua orang asing."
"Sekarang?"
"Sekarang..."
"...udah kayak rekan kerja yang shift paginya sama."
Petugas kebersihan ikut tertawa.
"Pak Ujang ngamatin terus ya."
"Namanya juga hiburan pagi."
Di kelas XI IPA 1.
Bu Ratna baru saja mengumumkan tugas kelompok.
"Kelompok terdiri dari empat orang."
"Silakan pilih sendiri."
Suasana kelas langsung ramai.
Nabila langsung duduk di sebelah Kayla.
"Udah."
"Kita berdua."
"Tinggal cari dua orang lagi."
Kayla mengangguk.
Namun sebelum sempat memilih anggota lain, seorang siswi menghampiri meja mereka.
"Kay."
"Ya?"
"Boleh gabung?"
Itu Siska.
Ketua Klub Sains.
"Tentu."
"Tinggal satu orang."
Belum sempat mereka menentukan anggota terakhir, terdengar suara dari depan kelas.
"Bu."
"Kalau jumlahnya ganjil?"
Bu Ratna melihat daftar hadir.
"Oh benar."
"Kita kurang satu."
Beliau berpikir sejenak.
"Kalau begitu..."
"...kelompok Kayla ditambah satu dari kelas IPS."
Ruangan langsung gaduh.
"IPS?"
"Lintas jurusan?"
Bu Ratna mengangguk.
"Ini proyek kolaborasi."
"Nanti saya koordinasikan."
Nabila langsung menoleh ke Kayla.
"Jangan-jangan..."
Kayla menggeleng.
"Belum tentu."
Sementara itu...
Di kelas IPS.
Pak Surya juga memberikan pengumuman yang sama.
"Beberapa siswa akan bekerja sama dengan kelas IPA."
Dion langsung berbisik,
"Rak."
"Hm?"
"Kalau lo sekelompok sama Ketua OSIS..."
"...itu namanya takdir."
Raka tertawa.
"Takdir apaan."
"Penelitian plus tugas."
Belum sempat mereka bercanda lebih lama, Pak Surya mulai membacakan daftar nama.
"Yang mewakili kelas IPS..."
Beliau melihat daftar.
"...Raka Mahendra."
Satu kelas langsung bersorak.
"WOOOOH!"
Raka langsung menutup wajahnya.
"Dion."
"Iya?"
"Ini gara-gara mulut lo."
Siang hari.
Ruang multimedia.
Bu Ratna dan Pak Surya mempertemukan kelompok gabungan.
"Baik."
kata Bu Ratna.
"Proyek ini berlangsung selama dua minggu."
"Tema kalian..."
Beliau menulis di papan.
Komunikasi dalam Kehidupan Remaja
Kayla dan Raka saling berpandangan.
Nabila yang duduk di samping Kayla langsung menahan senyum.
"Dapet tema yang cocok."
bisiknya.
"Diam."
balas Kayla pelan.
Bu Ratna melanjutkan,
"Kalian harus membuat presentasi sekaligus video pendek."
"Setiap anggota memiliki tanggung jawab yang sama."
Setelah guru keluar, kelompok itu mulai berdiskusi.
Siska membuka laptop.
"Aku bagian riset."
Nabila mengangkat tangan.
"Aku editing."
Raka tersenyum.
"Aku videografer."
Semua mata langsung tertuju kepada Kayla.
"Kalau aku..."
Ia membuka planner.
"...menyusun timeline."
Nabila tertawa.
"Tentu saja."
Diskusi berjalan cukup lancar.
Sampai akhirnya muncul pembahasan lokasi pengambilan video.
"Aku usul di taman kota."
kata Raka.
"Cahayanya bagus sore hari."
Siska mengangguk.
"Boleh."
Namun Kayla membuka jadwal di laptop.
"Hari Sabtu taman kota ramai."
"Waktu efektif tinggal sedikit."
"Kalau perpustakaan sekolah?"
Raka menggeleng.
"Visualnya kurang menarik."
"Tapi lebih efisien."
"Video juga harus enak ditonton."
"Tugas ini dinilai isi."
"Dan penyampaian."
Suasana mulai sedikit tegang.
Tidak ada yang meninggikan suara.
Namun keduanya sama-sama bertahan pada pendapat masing-masing.
Nabila dan Siska saling berpandangan.
"Waduh..."