Sabtu sore.
Pukul 15.42.
Taman Kota Mentari mulai dipenuhi keluarga yang menghabiskan akhir pekan.
Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun.
Pasangan lansia berjalan santai di jalur pedestrian.
Di kejauhan, suara pemain biola jalanan mengalun pelan.
Kayla tiba lebih dulu.
Seperti biasa.
Ia duduk di bangku kayu sambil membuka planner.
Hari itu jadwalnya padat.
15.45 — Bertemu kelompok.
16.00 — Survei lokasi.
16.30 — Menentukan storyboard.
17.15 — Pengambilan footage.
17.45 — Pulang.
Semuanya sudah tersusun rapi.
Pukul 15.45.
Nabila datang.
"Wah..."
"Kamu udah buka planner aja."
"Supaya nggak lupa."
"Kay."
Nabila duduk di sebelahnya.
"Kadang aku penasaran."
"Hm?"
"Kamu pernah nggak sih..."
"...nggak bikin jadwal?"
Kayla berpikir cukup lama.
"...Pernah."
"Kapan?"
"Waktu kelas tiga SD."
Nabila tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun!"
"Itu udah sepuluh tahun lalu!"
Pukul 15.55.
Siska datang sambil membawa kamera tambahan.
"Maaf."
"Agak macet."
"Tidak apa-apa."
jawab Kayla.
Mereka mulai membuka laptop.
Namun...
Satu orang belum datang.
Raka.
15.58.
Belum ada kabar.
16.00.
Masih belum muncul.
Nabila mulai melirik Kayla.
"Nggak panik?"
Kayla membuka grup WhatsApp.
Tidak ada pesan baru.
Namun ia teringat.
Aturan Nomor 7.
Jangan menghilang saat ada masalah.
Ia tidak langsung berasumsi.
Sebaliknya...
Ia mengetik.
Kayla
Rak, kamu di mana? Semua baik-baik saja?
Pesan terkirim.
Belum dibaca.
Di sisi lain kota...
Raka sedang berdiri di pinggir lapangan basket sekolah.
Coach baru saja meniup peluit.
"Latihan selesai."
Raka langsung mengambil tas.
Namun baru dua langkah berjalan...
Coach memanggil.
"Raka."
"Iya, Coach?"
"Bisa bantu angkat ring cadangan?"
Raka melirik jam.
16.02.
Dadanya langsung berdebar.
"Coach..."
"Saya ada janji."
"Lima menit aja."
Raka menggigit bibir.
Ia tidak mungkin menolak.
Ring basket itu terlalu berat diangkat sendiri.
"Oke."
Sepuluh menit kemudian.
Tangannya baru selesai membantu.
Ia langsung membuka ponsel.
Belasan notifikasi muncul.
Salah satunya dari Kayla.
Rak, kamu di mana? Semua baik-baik saja?
Raka langsung membalas.
Maaf. Baru selesai bantu Coach. OTW. Sekitar 15 menit lagi.
Pesan itu langsung centang dua.
Beberapa detik kemudian...
Balasan masuk.
Kayla
Baik. Hati-hati di jalan.
Hanya satu kalimat.
Namun Raka tersenyum lega.
Pukul 16.18.
Raka tiba di taman.
"Napas..."
"Masih ada."
gumamnya sambil menunduk mengatur napas.
Nabila langsung menyambut.
"Wih."
"Hari ini telat lagi?"
Raka mengangkat ponselnya.
"Aku udah izin."
"Nah."
Nabila mengangguk puas.
"Naik level."
Kayla hanya tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa."
"Coach minta bantuan?"
Raka mengangguk.
"Iya."
"Aku nggak enak nolak."
Kayla memperhatikan wajahnya.
Kaos basketnya masih basah oleh keringat.
Napasnya masih belum stabil.
Ia pasti mengayuh sepeda secepat mungkin menuju taman.
"Oke."
kata Siska.
"Mulai survei."
Mereka berempat berjalan mengelilingi taman.
Raka beberapa kali berhenti mengambil gambar.
Cahaya matahari sore memang indah.
Kayla harus mengakui itu.
Beberapa frame yang diambil Raka terlihat seperti potongan film.
"Wah..."
gumam Nabila.
"Bagus banget."
Raka hanya tersenyum kecil.
"Masih banyak yang jelek."
"Yang ini bagus."
kata Kayla pelan.
Raka menoleh.
"Serius?"
"Iya."
"Komposisinya seimbang."
"Pencahayaannya juga."